Aniyaya Pria Paruh Baya, Jukir Liar Diringkus Polisi

 

MEDANHEADLINES.COM, Medan – Seorang pria bernama Asuh (32) yang berprofesi sebagi juru parkir (jukir) liar di seputaran simpang Komplek Asia Mega Mas,  di Jalan AR. Hakim, terpaksa mendekam di sel tahanan Polsek Medan Area, Rabu (3/10) siang.

Ia ditangkap bukan karena pengutipan liar yang dilakoninya. Akan tetapi, warga Jalan AR. Hakim, Kelurahan Sukarame II, Kecamatan Medan Area, ini ditangkap karena telah menganiaya seorang Pria paroh baya bernama Yansen (56), warga Jalan Industri, tak jauh dari lokasi pengutipan parkir liarnya.

Kapolsek Medan Area Kompol K. Sianturi S. Sos., menjelaskan, penganiayaan yang dilakukan terduga pelaku terhadap korban terjadi pada Jumat (21/9) sekira pukul 11.30 Wib, di simpang Komplek Asia Mega Mas, Jalan AR. Hakim, Kecamatan Medan Area.  Akibat penganiayaan itu, korban mengalami luka memar di bagian kening sebelah kanan. Atas kejadian itu, korban membuat laporan ke Polsek Medan Area, agar kasusnya diproses secara hukum.

“Penyebab kejadian itu karena korban tidak mau memberikan uang parkir ke pelaku. Alasannya, pengutipan yang dilakukan pelaku tidak resmi karena tidak dilengkapi kertas parkir. Saat itu pelaku langsung memukul korban menggunakan benda tumpul (batu),”kata K. Sianturi, ketika dikonfirmasi wartawan, via seluler, Rabu malam.

Berdasarkan laporan korban yang tertuang dalam LP /673/K/IX/2018/SPK Medan Area tgl 21 September 2018 An. Yansen, dan pemeriksaan saksi-saksi, hasil Visum, serta penyelidikan di lapangan. Personel menyimpulkan bahwa pelaku penganiayaan terhadap korban adalah Asuh. Tepat pada hari Rabu (3/10) sekira pukul 13.30 Wib, personel Reskrim mendapat informasi bahwa pelaku sedang berada di lokasi pengutipan parkir liarnya, dan sedang mengutip parkir.

Begitu dapat informasi, personel menuju lokasi untuk menangkap pelaku. Namun, ketika ditanyai personel di lokasi, pelaku mengelak dan tidak mengakui namanya adalah Asuh. Pelaku juga tidak mengakui telah menganiaya korban, dan pelaku juga mengelak saat hendak diboyong ke markas komando (Mako).

“Disaat yang bersamaan, datang seorang ibu-ibu yang mengaku orang tua pelaku. Ibu itu menarik tangan pelaku agar bisa melarikan diri, bahkan ibu itu melawan petugas dengan cara berteriak “jangan tangkap anak saya, karena dia tidak bersalah”. Teriakan ibu itu membuat warga berdatangan ke lokasi penangkapan,” ungkap K. Sianturi.

Melihat situasi itu, sambungnya, personel lalu menerangkan sembari menunjukkan surat penangkapan pelaku kepada warga sekitar. Setelah dijelaskan, keluarga pelaku yang juga ada di lokasi akhirnya memahami kedatangan personel dan mempersilahkan pelaku untuk diboyong ke mako guna diproses lebih lanjut. (afd).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *