Tanaman Kopi Cimbang yang berada di kawasan Gunung Sinabung
MEDANHEADLINES.COM – Peristiwa Meletusnya Gunung Sinabung Beberapa tahun yang hingga kini tak kunjung reda membuat masyarakat Tanah Karo terpaksa meninggalkan rumahnya untuk mengungsi ke posko-posko pengungsian
Semenjak saat itulah, masyarakat seperti kehilangan harapan untuk menyambung hidup.karena perkebunan yang selama berpuluh-puluh tahun terakhir menjadi alat penyambung hidup, malah hancur dan gagal panen. Jangankan untuk kembali berladang, untuktempat tinggal pun sudah hilang.
Namun ditengah Bencana itu, Kecintaan masyarakat Tanah Karo terhadap bertani rupanya tidak luntur . Meski berulang kali dilarang, tidak sedikit masyarakat tetap berkeras untuk kembali kedesanya untuk sekedar melihat ladang dan hewan peliharaannya. Tidak perduli begitu berbahayanya amukan Gunung Sinabung yang sewaktu-waktu bisa menyemburkan awan panas.
Sayangnya alam memang tidak mampu dilawan. Mayoritas tanaman yang hidup dilingkar Gunung Sinabung tidak mampu bertahan dari pengaruh awan panas dan abu vulkanik yang terus hadir. Sampai pada akhirnya masyarakat diberikan bekal pengetahuan mengenai tanaman yang lebih dapat bertahan dari efek abu Sinabung. Dari sanalah, tanaman kopi hadir sebagai berkah dari Tuhan dibalik parahnya efek yang dirasakan oleh korban kedahsyatan letusan Sinabung.
Melalui Program Rehabilitasi dan Rekonstruksi yang diberikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), masyarakat empat kecamatan di lingkar Sinabung yaitu Kecamatan Simpang Empat, Tiganderket, Naman Teran, dan Payung mencoba merajut kembali kehidupannya. Dua hal dibidang pertanian yang coba digalakkan BNPB adalah budidaya tanaman jeruk dan kopi.
Tanaman jeruk pertama kali dicoba untuk dibudiyakan sebab jeruk merupakan ciri khas tanaman yang banyak ditanami masyarakat sebelum musibah letusan Sinabung. Namun setelah dicoba dan dievaluasi, ternyata proses pemasaran tanaman jeruk dan hasil yang didapat tidak maksimal. Hal ini disebabkan karena daya tahan jeruk yang tidak berlangsung lama sehingga tidak jarang jeruk justru membusuk sebelum laku dijual.
Akhirnya tanaman kopi coba dikembangkan untuk menjadi tanaman yang dibudidayakan. Benar saja, tanaman kopilah yang pada akhirnya lebih mampu bertahan dari pengaruh abu vulkanik Sinabung.
Melihat pertumbuhan tanaman kopi yang mampu tetap tumbuh, mulai Maret 2014 BNPB pun menjadikan tanaman kopi sebagai bagian dari Program Rehabilitasi dan Rekonstruksi kepada pengungsi Sinabung. Berbagai seminar dan pelatihan diselenggarakan BNPB kepada masyarakat yang dibagi dalam 30 kelompok tani dari empat kecamatan dilingkar Sinabung.
Rupanya proses budidaya tanaman kopi tidak berjalan semulus yang direncanakan. Faktor sosial dan budaya masyarakat Tanah Karo menjadi rintangan paling besar dalam mengembangkan tanaman kopi. Tanaman kopi yang sudah ditanam puluhan tahun yang lalu hanya dianggap sebagai tanaman pembatas antar lahan masyarakat.
Seperti yang disampaikan Imam Syukri, salah seorang petani kopi dari Desa Cimbang, Kecamatan Payung.
“Kebanyakan orang di Tanah Karo mengganggap kopi sebagai tumbuhan pembatas saja. Jadi disebutnya tanaman tuah dibata yang artinya hadiah dri Tuhan atau tanaman tanaman tedah hate yang berarti yang dirindukan. Artinya tanaman kopi jika berbuah maka disyukuri, tapi kalau tidak ya tidak ada ruginya”, ujar Imam yang juga penggagas Kopi Cimbang Sinabung
Imam pun menceritakan jika motivasi awalnya mengikuti program pemberdayaan kopi yang diberikan oleh BNPB adalah soal uang dan mengisi waktu luang selama diposko pengungsian. Diakui Imam bahwa saat itu bagi siapa yang mengikuti program tersebut akan diberikan dana pengganti transportasi sebesar lima puluh ribu rupiah. Sehingga Imam dan kelompok lain yang dibentuk BNPB nyatanya mengikuti program edukasi terhadap kopi karena faktor keuangan.
Paradigma Imam yang menyatakan bahwa petani tidak mampu sukses dan selalu berada strata sosial kelas bawah membuat pria asal Banyuwangi ini menjadikan program yang dilaksanakan BNPB sebagai rutinitas biasa.
Pandangan tradisional Imam baru berubah ketika mengikuti pelatihan kopi di Takengon, Aceh. Masyarakat di Takengon menurutnya mampu lahir, hidup hingga meninggalnya dari hasil dari tanaman kopi. Sesuatu yang tentu saja tidak pernah terjadi di Tanah Karo dari zaman dahulu. Ditambah dengan kenyataan bahwa tanaman kopi yang mampu masih tetap hidup dan bertahan dari terpaan abu vulkanik Sinabung, membuat Imam pun tidak mempunyai pilihan lain. Hanya merawat kembali tanaman kopi yang sudah ada sebelumnya dilahan mertuanya di Desa Cimbang.
Setelah tiga bulan berjalan, Imam dan kelompoknya memberanikan diri untuk mengirimkan contoh biji kop yang telah melewati proses pengeringan (greenbean) kepada sahabatnya dikampungnya dengan label Kopi Bubuk Sinabung. Tak dinyana, seminggu kemudian tanggapan baik diterima dari kampungnya di Banyuwangi sehingga pengusaha kopi tersebut meminta dikirimkan kembali kopi sebanyak lima kilogram.
Rupanya tanggapan baik dari Banyuwangi justru menimbulkan permasalahan baru. Saat itu Imam dan Ketua Kelompoknya saling berbeda pendapat mengenai proses penjualan tanaman kopi. Sang Ketua Kelompok menganggap metode penjualan kopi dalam bentuk greenbean tidak memberikan keuntungan yang maksimal. Ihwal inilah akhirnya kelompok ini mulai terpecah dan Imam memilih jalannya sendiri dalam melanjutkan usaha tanaman kopinya.
Selanjutnya untuk memenuhi sahabatnya di Banyuwangi, Imam pun meminta pasokan greenbean kepada salah satu rekannya di Medan. Tanpa mengetahui jenis kopinya, Imam pun langsung mengirimkan greenbean dari rekannya tersebut ke Banyuwangi. “Itulah kali pertama saya memakai label Kopi Cimbang Sinabung. Jujur saja saat itu saya enggak tahu namanya. Tapi ya kirim saja dulu pakai nama itu. Baru kemudian saya tau kopi yang dikirimkan itu rupanya Lintong. Pantaslah habis saya kirim responnya pun baik, wong yang diminum Kopi Lintong”, kata Imam
Perlahan permintaan terhadap Kopi Lintong berlabelkan Cimbang Sinabung semakin berdatangan. Selain dari Banyuwangi, permintaan pun mulai meluas ke Jember, Bondowoso, Surabaya bahkan Jakarta. Bahkan setelah delapan buln, Imam harus mengirimkan minimal 500 kilogram greenbean per bulan ke berbagai daerah di Pulau Jawa. Tentunya sesuatu yang membuat Imam kewalahan karena kopi yang dikirim bukan merupakan produk orisinil dari wilayahnya.
Faktor tersebutlah membuat Imam semakin menyeriusi perawatan tanaman kopi dilahan mertuanya. Sebanyak 150 batang tanaman kopi mulai diremajakan dan dibudidayakan kembali hingga menghasilkan gabah kopi seberat dua kilogram per batang. Meski diliputi keraguan karena produk kopi yang dihasilkan berbeda dari kopi yang dikirim sebelumnya, Imam tetap menngirimkan produk kopi asli dari Desa Cimbang kepada para pelanggannya.
Seperti sudah diprediksi, perbedaan rasa kopi yang dikirimkan Imam menimbulkan tanda tanya. Tidak kehabisan akal, Imam pun “mengelabuhi” pelanggannya dengan alasan perbedaan rasa kopi disebabkan posisi lahan yang berbeda. “Ya saya bilang saja kalau kopi yang biasanya dikirimkan sama yang sekarang sama-sama dari Desa Cimbang tapi stoknya habis. Saya bilang juga kalau yang biasa dari lahan yang sebelah Barat, kalau yang baru ini lahan diarah Timur”, sambung Imam.
Meski mengaku cemas menunggu tanggapan pembeli, namun keberanian dan cerdiknya Imam justru mejadi titik balik semakin populernya Kopi Cimbang Sinabung. Pelanggan Imam malah ingin jika produk kopi yang dikirimkan selanjutnya adalah jenis Kopi Cimbang Sinabung ini. Maka selanjutnya, green bean dari lahan desa berradius delapan kilometer dari Puncak Sinabung menjadi produk yang terus dipasarkannya
Semakin populernya Kopi Cimbang Sinabung, Imam mendapat kesempatan pertamanya untuk mengikuti kontes kopi. Diawali telepon dari Ketua SCAI, Sarifuddin, pada Agustus 2016, Imam diminta untuk mempersiapkan diri mengikuti Kontes Kopi Asia Pacific di Bali pada Maret 2017. Hal tersebut pula yang membuat Imam mempelajari lebih dalam mengenai kopi selama enam bulan melalui salah seorang sahabat Sarifuddin, Surip yang juga ketua Starbuck Coffe di Medan. Mulai dari sana Imam mulai mengenal lebih dekat jenis kopi, cara produksi kopi hingga proses penyajian kopi sampai siap untuk diminum. Karena sebelumnya, Imam hanya tahu dan memproduksi kopi berbentuk green bean.

Alasan pemilihan nama Kopi Cimbang Sinabung sendiri sebagai label produk dilatarbelakangi rasa malu Imam. Dirinya mengatakan jika Desa Cimbang sebagai desa yang berada diujung pemukiman warga tidak banyak yang mengetahui dimana letak Desa Cimbang. Jangankan masyarakat diluar Tanah Karo, masyarakat Tanah Karo sendiri banyak yang tidak mengetahui dimana keberadaan desa dengan jumlah 102 kepala keluarga tersebut.
Kopi Cimbang Sinabung sendiri masuk dalam varietas Arabica Sigararutang. Gabah kopi dari desa ini diproduksi dengan tiga cara, yaitu Natural, Honey dan Semi Wash. Proses produksi jenis Natural dari perendaman chery merah yang baru dipanen, dicuci bersih dan difermentasi pada malam hari. Lalu biji kopi dijemur selama 18, 25 atau 35 hari untuk menjadikannya sebagai green bean.
Satu hal yang berbeda dalam proses penjemurannya adalah waktu penjemuran perharinya. Jika kebanyakan kopi di Tanah Karo menjemur kopi dari pagi hingga siang, maka Kopi Cimbang hanya menjemur biji kopi dari pagi hingga pukul 11 atau 11.30, diangkat dan dijemur kembali mulai pukul 14 atau 14.15 hingga sore. Tujuannya untuk menghindari terik matahari yang tinggi agar aroma kopinya tidak hilang.
Setelah dilakukan penjemuran inilah, green bean dibersihkan kembali (huller) dan disortir mana yang layak jual dan tidak. Saat ini proses penyortiran masih dilakukan secara manual karena belum adanya suton (mesin penyortir). Hal ini membuat greenbean hanya bisa dipisahkan antara yang layak pakai dan tidak. Sedangkan jika menggunakan mesin, green bean yang baru dihuller langsung terpisah sesuai dengan empat kategori ukurannya.
Untuk proses produksi greenbean dengan metode Honey, secara umum sama seperti Natural. Hanya saja proses honey tanpa dilakukan penyucian dan saat proses pengupasan kulit chery merah, dapat memilih antara dua metode. Yaitu metode pulper (menggunakan mesin) dan pijak. Jika metode pulper hanya dimasukkan kedalam mesin dan kulitnya terlepas, maka metode pijak dilakukan dengan memasukkan chery kedalam plastic baru dipijak secara manual. Proses pemijakan bisa dilakukan 5 atau 6 kali dibolak balik.
Metode ini cenderung lebih banyak digunakan dalam produksi Kopi Cimbang Sinabung karena dipercayamampu menguatkan aroma kopi yang dihasilkan. Baru setelah dipijak, biji kopi dan kulitnya dibiarkan didalam plastik. Baru setelah itu dilakukan pengeringan hingga menjadi green beanmulai 15, 18 atau 25 hari dan dihuller. Sedangkan metode terakhir yaitu semiwash lebih mirip dengan proses honey yang menggunakan mesin pulper. Perbedaan hanya pada waktu fermentasi yang hanya boleh berkisar 15-18 jam, penyucian yang tidak dilakukan tidak terlalu bersih dan waktu penjemuran maksimal 12 hari.
Ketiga metode produksi yang dipakai dalam memproduksi Kopi Cimbang Sinabung tentu menghasilakan rasa yang berbeda. Namun secara garis besar, selain rasa pahit sebagai identitas kopi, Kopi Cimbang Sinabung dapat dikenali dengan rasa asam jeruk dan manis gula arennya. Asam jeruknya akan terasa disaat kita menyeruput kopi dan manis aren akan dirasakan diujung kopi yang diseruput. After taste (rasa setelah meminum) Kopi Cimbang Sinabung juga dapat dirasakan lebih lama dibandingkan dengan jenis kopi lainnya.
Sampai saat ini, para petani di Desa Cimbang mampu memanen 15 ton gabah kopi dari total 15.5 hektar lahan kopi yang dikelola oleh Kelompok Kopi Cimbang Sinabung disaat panen besar. Hanya saja saat memasuki proses produksi, hanya setengahnya saja yang mampu diproses di Rumah Produksi Kopi Cimbang Sinabung. Sebabnya adalah mesin yang dimiliki masih dengan kapasitas terbatas. “Makanya kadang-kadang saya juga sedikit kewalahan dan akhirnya memproses gabah kopi Cimbang ini keluar. Karena dengan mesin dan sumber daya yang terbatas, kami kewalahan juga memprosesnya. Enggak sanggup mesinnya”, imbuh Imam.
Terbatasnya hasil produksi juga berpengaruh kepada pemenuhan permintaan dari pengusaha kopi yang mencapai 1.3 ton perbulan. Ditambah lagi dengan hasil tanaman kopi yang dipetik berasal dari tanaman kopi peninggalan generasi sebelumnya, membuat waktu pemetikan tidak seragam. Akibatnya sering kali permintaan dari luar kota tidak mampu dipenuhi dengan maksimal.
Ihwal itu, setahun terakhir Imam mulai menanam kopi dari awal kembali. Saat ini proses penanaman kopi yang dilakukan Imam dimulai dari proses penyamaian bibit kopi selama 6 hingga bulan. Selama menunggu proses penyemaian, bakal lubang tanaman kopi pun dibor dengan kedalaman 60 centimeter. Dibulan pertama, bakal lubang tanaman kopi dimasukkan pupuk organic berupa kotoran ternak. Dibulan ketiga, dimasukkan kulit kopi yang telah difermentasi dan dilanjutkan menambakan limbah organik dibulan ke enam. Baru dibulan ketujuh, tanah dan bibit kopi siap tanam dipindahkan kedalam lubang yang telah disiapkan.
Proses ini dilaksanakan Imam berdasarkan dari proses pembelajaran dan pelatihan yang diikuti Imam dibeberapa kota di Indonesia bahkan hingga ke Vietnam. Berdasarkan dari pembelajaran yang didapat, cara penanaman kopi demikian dapat membuat tanaman kopi bisa lebih produktif dalam menghasilkan gabah kopi. Menurut perkiraan, setiap batang nantinya akan menghasilkan minimal satu kilogram gabah kopi. Hasilnya pun mulai terlihat walaupun tanaman kopi yang ditanam belum genap berumur satu tahun. Imam mulai bisa memetik buah dari beberapa tanaman kopinya.
Bahkan tanaman kopinya pernah menghasilkan hingga 400 cerry merah dalam satu pohon. Padahal menurut yang dipelajarinya, tanaman kopi baru akan berbuah maksimal setelah dua setengah tahun. Tentunya jumlah ini berbeda jauh dengan hasil dari tanaman kopi lamanya yang maksimal hanya menghasilkan 100 biji cerry.

Selain menanam tanaman kopi baru, Imam juga mulai giat mengajak petani dari desa lain dilingkar Sinabung untuk kembali merawat kopi didaerah mereka masing-masing baik dengan menanam kopi dari baru, membudidayakan maupun meremajakan. Melalui komunitas Kopi Lingkar Sinabung yang diharapkan kedepan bisa menjadi suatu label kopi di Tanah Karo, Imam berharap petani dan menyadari besarnya potensi tanaman kopi diwilayah lingkar Sinabung.
Berbagai sosialiasi dan pelatihan secara kecil-kecilan terus dilakukan kepada masyarakat di empat kecamatan disekitar lingkar Sinabung yang dulu juga pernah mengikuti program dari BNPB. Tujuannya lebih mengedukasi para petani mengenai potensi tanaman kopi ditengah-tengah aktivitas Sinabung yang tidak kunjung mereda.Perlahan-lahan, para petani pun mulai kembali ke lahan kopi yang sempat dibiarkan tidak terurus selama bertahun-tahun.
Penulis : Iil Askar











