MEDANHEADLINES – Menyikapi banyaknya isu bangkitnya Partai Komunis Indonesia (PKI) di kalangan Masyarakat Indonesia Saat ini mendapat tanggapan dari Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan.
Pensiunan Militer berpangkat Jenderal ini mengatakan sepakat bahwa komunisme harus diwaspadai namun bukan juga dengan kehebohan seperti yang terjadi di masyarakat saat ini.
“Diwaspadai oke, tapi jangan terlalu hebohlah kayak mau Perang Dunia. Saya kan ngalamin, kalian belum lahir. Komunis itu terjadi kalau terjadi ketidakadilan,” kata Luhut di Istana Negara beberapa waktu yang lalu.
Semasa remaja, Luhut pernah mendirikan Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI) bersama teman-temannya. Organisasi itu amat menentang PKI.
“Kalau ributin itu saja (G30S/PKI), kurang kerjaan gitu loh. Diwaspadai yes, cara waspada pemerintah adalah keamanan dan kesejahteraan,” ungkap Luhut.
Luhut juga menyayangkan jika energi bangsa habis untuk diskursus soal pro dan kontra pemutaran film G30S. Menurutnya, lebih baik fokus pada pembangunan di tengah persaingan global.
“Nggak usah habis energi untuk bicara perbedaan,” pungkas Luhut.
Sementara itu, Meski masih dalam Pro dan kontra terkait pemutaran kembalinya film G30S/PKI, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo malah telah memerintahkan jajarannya menggelar acara nonton bareng film G30S/PK tersebut.
Menurutnya, ia tak mempermasalahkan Pro dan Kontra yang terjadi karena ia hanya berharap agar sejarah kelam itu tidak kembali terjadi di Indonesia.
“Bangsa ini harus tetap bersatu, membangun dengan tidak melupakan sejarah. Karena sejarah cenderung berulang, saya ulangi, sejarah cenderung berulang, PKI Madiun, peristiwa 65, dan sebagainya. Jadi jangan sampai itu terulang,” ucapnya.
Dia menegaskan kegiatan itu bukan bertujuan untuk menyudutkan pihak-pihak tertentu. Namun untuk memahamkan generasi muda tentang bahaya PKI.
“Tujuannya bukan untuk mendiskreditkan, tapi peristiwa tersebut agar diketahui generasi muda, agar kita tidak terprovokasi lagi, terpecah-pecah lagi. Kalau kita tidak ingatkan, dalam kondisi seperti ini, orang tidak tahu bahwa ada gerakan-gerakan yang mengadu domba,” katanya. (red)












