“Mismatch”, Kendala Angkatan kerja Indonesia

MEDANHEADLINES – Angkatan Kerja di Indonesia tengah mengalami permasalahan ketidaksesuaian kelulusan pendidikannya dengan pekerjaan yang dilakukan atau dikenal dengan  “Mismatch”

“Angkatan kerja Indonesia 2 juta orang pertahun, dari jumlah angkatan kerja baru tersebut 750 sampai 800 ribunya adalah produk kampus, atau lulusan perguruan tinggi, dari angka tersebut muncul dua persoalan yakni “mismatch”, angkanya cukup tinggi, tiga sampai empat orang dari 10 orang, hanya 37 persen yang macth,” kata Menteri Tenaga Kerja RI Muhammad Hanif Dhakiri.
Ia menjelaskan selain “mismatch” persoalan lainnya yakni kelebihan suplai tenaga kerja yang melebihi permintaan pasar. Contoh kongkritnya jurusan pendidikan agama Islam dari perguruan tinggi agama Islam, kebutuhan pasar kerjanya hanya 3.500 orang, tetapi yang diproduksi oleh peguruan tinggi tersebut di seluruh Indonesia sebesar 35 ribu.
“Jadi yang dibutuhkan 3.500, yang diproduksi 35 ribu,” katanya.
Permasalahan lainnya yang dihadapi angkatan kerja Indonesia adalah kualifikasi yang tidak sesuai dengan kebutuhan industri yang tumbuh. Hal ini, lanjut Hanif mendorong diperlukannya peran pusat karir untuk menjadi penjembatan para lulusan memberikan pendampingan, bimbingan, konseling atau arahan agar para lulusan menjadi angkatan kerja baru yang bisa masuk ke pasar kerja secara baik.
Selain itu, pusat karir juga berperan untuk memfasilitasi para lulusan perguruan tinggi untuk menjadi wirausahawan mandiri, karena kebutuhan angka wiraswasta Indonesia masih rendah. Saat ini pertumbuhan wirausahawan Indonesia bertumbuh dari 1,5 persen menjadi dua persen. Namun, angka tersebut masih kalah jauh dari Malaysia yang mencapai lima persen, dan Singapura dua kali lipat dari Malaysia.
“Wirausahawan ini mencerminkan besaran dari kelas menengah, artinya kelas menengah masih harus didorong,” katanya.
Persoalan “mismatch”, kelebihan suplai, kualifikasi rendah menjadi permasalahan yang dihadapi angkatan kerja Indonesia. Hanif menyinggung soal, jumlah perguruan tinggi Indonesia yang cukup banyak, tapi luarannya tidak banyak, sehingga harus lebih banya dibenahi.
Ia mencontohkan Tiongkok dengan 1,4 miliar jumlah penduduknya, hanya memiliki 2.000 perguruan tinggi. Berbeda dengan Indonesia, jumlah penduduk hanya seperlima dari Tiongkok tapi perguruan tingginya dua kali lipat dari yakni 4.000 (3.200 perguruan tinggi umum dan sianya perguruan tinggi agama). Belum lagi Tiongkok, 35 juta mahasiswanya, 25 jutanya mahasiswa vokasi, sedangkan Indonesia, mahasiswa tujuh juta, vokasinya hanya 300 ribu.
Hanif mengajak untuk melihat dari sisi tersebut, bahwa Indonesia harus meningkatkan upaya relevansi keluaran pendidikan di pasar kerja masih membutuhkan usaha panjang. Sehingga peran pusat karir sangat dibutuhkan untuk mengatasi persoalan tersebut.
“Disini peran pusat karir menjadi sangat penting membantu memfasilitasi lulusan dari perguruan tinggi atau pencari kerja kalangan perguruan tinggi bisa nyambung di pasar kerja,” Pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *