Reformasi Birokrasi, Presiden : kuncinya kecepatan

MEDANHEADLINES –  Perubahan yang terus terjadi di Era Globalisasi saat ini harus disikapi dengan cepat jika tidak ingin tertinggal dari negara-negara lain.

Hal ini diungkapkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat memberikan Sambutan dalam Seminar internasional Ikatan Notaris Indonesia di Bali.

“ Saat Ini perubahan-perubahan begitu sangat cepatnya. Kalau kita tidak bisa mengikuti dan kita tidak bisa mengejar kecepatan perubahan-perubahan itu, ya kita akan ditinggal,” katanya

Presiden yang pernah menjadi pengusaha, wali kota, dan gubernur mengaku sering berurusan dengan notaris, tidak sekali, dua kali, tapi berkali-kali. Karena itu, Presiden bisa mengerti, apa yang sudah dikerjakan oleh para notaris, yaitu bagaimana melayani, bagaimana pelayanan dan yang paling penting yang dirasakan oleh pelanggan-pelanggan, oleh klien para notaris.

“Pengalaman itu membuat saya menyadari bahwa begitu susahnya, begitu panjangnya prosedur pengurusan izin di Indonesia,” terang Presiden.

Inilah, tegas Presiden Jokowi, proses-proses yang akan terus disederhakan dan akan disimpelkan, sehingga semuanya berjalan dengan cepat.

Presiden menyadari, sekarang ini bukan negara besar mengalahkan negara kecil, tetapi negara yang cepat yang akan mengalahkan negara yang lambat.

“Negara yang cepat yang akan mengalahkan negara yang lambat,” ujar Presiden menegaskan.

Kepala Negara lalu membandingkan dengan pengalamannya di Uni Emirat Arab, dimana untuk mengurus izin, semuanya sudah selesai, tidak ada 1 jam.

“Itu 16 tahun yang lalu. Saya bisa mendirikan pabrik, saya bisa mendirikan kantor, saya bisa mendirikan show room, semuanya sudah bisa, enggak ada 1 jam,” ujar Presiden seraya menambahkan itulah kenapa Uni Emirat Arab, baik Dubai maupun Abu Dhabi, bisa meloncat begitu sangat pesatnya.

Kuncinya, sebut Presiden, ada di kecepatan birokrasi, kecepatan perizinan dalam melayani investasi-investasi yang datang.

“Kuncinya ada di situ. Sekali lagi, negara yang cepat akan mengalahkan negara yang lambat. Jadi cerita kecepatan ini penting sekali,” tegas Presiden Jokowi.

Oleh sebab itu, lanjut Presiden, dirinya akan terus mendorong terjadinya reformasi besar-besaran yang mendasar, terutama untuk meningkatkan posisi Indonesia dalam peringkat ease of doing bussiness, yang hasilnya sudah kelihatan dari ranking 120, kemudian meloncat ke 106 di 2016, kemudian meloncat lagi sekarang di ranking 91.

Meski ranking-nya meloncat sangat banyak, menurut Presiden, ranking 91, masih jauh karena target dirinya minimal itu 40.

Presiden mengaku sudah menyampaikan kepada Menteri, terserah yang diobrak-abrik, di eselon 1-nya, di eselon 2-nya, eselon 3-nya, eselon 4-nya.

“Yang tidak mau mengikuti arah reformasi birokrasi, silakan. Tetapi kita ingin semuanya dikerjakan dengan cepat, baik menyelesaikan regulasi-regulasi, peraturan-peraturan yang menghambat, maupun juga sistem-sistem yang masih menggunakan sistem-sistem lama,” tegas Presiden.

Menurut Presiden, saat ini ada momentum yang sangat bagus. Sekarang Indonesia sudah layak investasi. Ada kepercayaan internasional terhadap Indonesia, ada trust internasional.

Yang kedua, lanjut Presiden,dari survei OECD, mengenai tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahnya, Indonesia saat ini berada pada ranking pertama di dunia untuk kepercayaan rakyat kepada pemerintahnya.

“Momentum ini harus digunakan,” tegas Presiden.(setkab)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.