Kopi Indonesia, Dicari namun minim produksi

MEDANHEADLINES – Sejak jaman Kolonial Belanda,Indonesia  memang dikenal sebagai penghasil kopi terbaik dunia,bahkan hingga sekarang, pasar Dunia selalu mengakui kualitas dan  kehebatan rasa dari Kopi dari berbagai daerah di Nusantara ini.

Hal ini diungkapkan Dewan Penasihat Gabungan Eksportir Kopi Indonesia (GAEKI), Moenardji Soedargo,menanggapi Citra kopi Indonesia di pasar dunia.

Ia mengatakan kopi jenis Arabica dari Indonesia bahkan tak tergantikan di dunia lantaran tumbuh di dataran tinggi penunungan berapi.namun sayangnya belum dapat dikelola dengan baik sehingga masih minim Produksi

“Bicara kopi Arabica dari Indonesia itu tak ada tergantikan di pasar dunia. Banyak jenis kopi Arabica, tapi hanya di Indonesia yang citarasanya berbeda karena kelebihan alamnya, berkah gunung api,” kata Moenardji.

Namun ia mengungkapkan, produksi kopi Arabica dari Indonesia sangat terbatas, sementara permintaan di pasar komoditas dunia tinggi.

“Kalau pasar, saya sebagai eksportir kopi puluhan tahun, Arabica dari Indonesia banyak yang cari, cuma stoknya sangat terbatas. Dari produksi kopi Indonesia yang sekitar 600.000 ton, jenis Arabica hanya sekitar 100.000 ton saja. Sudah begitu ragamnya banyak,” terang Moenardji.

Dibandingkan Robusta yang merata di banyak tempat,lanjut Moenardji, kopi Arabica dari Indonesia memang hanya diproduksi di beberapa daerah tertentu berhawa sejuk seperti Gayo, Toraja, Sidakalang, Mandailing, Kintamani, Flores, dan Wamena.

kopi Robusta dari Indonesia juga banyak diburu pembeli di pasar global. Namun seperti halnya Arabica, kopi jenis ini juga produksinya sangat sedikit dibandingkan kopi dari negara lain.

“Permintaan kopi dari Indonesia selalu banyak, hanya pasokannya yang susah. Kalau bicara kopi Robusta Indonesia, perusahaan-perusahaan penggorengan kopi di dunia itu merasa kurang afdhol kalau blend berbagai macam kopi, tanpa kopi Robusta dari Indonesia,” ungkap Moenardji.

Diketahui, produksi kopi Indonesia di 2016 sebesar 637.539 ton. Angka tersebut turun dibandingkan dengan produksi di 2015 sebesar 639.412 ton. Penurunan ini disebabkan berkurangnya luas lahan dari 1,23 juta hektar di 2015 menjadi 1,28 juta hektar di 2016. Lahan tersebut diproyeksi kembali menurun di 2017 lantaran ada beberapa kebun yang mengalami peremajaan.(mb)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.