General Manager PT PLN (Persero), Feby Joko Priharto (kedua kanan) dan Direktur PT Cipta Multi Listrik Nasional, Franstan Wijaya (paling kiri), menunjukkan naskah Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBL) atau Power Purchase Agreement (PPA) yang telah diteken, di Medan, Rabu 26 September 2018.
MEDANHEADLINES.COM, Medan – PT PLN (Persero) Wilayah Sumatera Utara telah menandatangani naskah Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBL) atau Power Purchase Agreement (PPA) dengan PT Cipta Multi Listrik Nasional (CMLN) untuk proyek pembangkit listrik tenaga biomasa (PLTBm) berkapasitas 9,9 MW.
General Manager PT PLN (Persero) Wilayah Sumut Feby Joko Priharto mengungkapkan, kontrak dengan CMLN termasuk dalam 20 PPA yang diteken di hadapan Menteri ESDM pada tahun lalu. Sebelumnya, PLN Sumut memiliki 33 PPA.
“Namun dengan Permen yang terbaru, Nomor 50 tahun 2017, ke-20 PPA menjadi spesial karena waktunya sudah sangat firm dan ketat sehingga diharapkan dapat menjamin realisasi proyek,” ujarnya seusai penandatanganan PJBL, di Medan, Rabu (26/9).
Semua kontrak listrik tersebut, lanjut dia, adalah dari pembangkit dengan energi baru terbarukan, berkapasitas 10 MW ke bawah. Dia berharap PT CMLN mampu bekerja sesuai jadwal karena dari kedua puluh PPA, hingga kini baru lima yang sudah efektif.
“Kendala terbesar adalah financial close, belum bicara kapan COD. Sesuai dengan aturan yang baru, sangat ketat durasinya, berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya,” jelasnya.
Sebelum ini, lanjut dia, ada 13 yang sudah PPA tetapi tidak ada durasi yang mengikat. Sejauh ada progres, kontrak tetap berlamjut. Namun demikian, sudah ada yang diputus kontrak karena sudah terlalu lama tidak direalisasikan, bahkan ada yang sejak 2011.
“Namun demikian saya yakin, kami sudah meninjau ke lapangan, progres di lapangan cukup bagus, Cipta Multi Listrik dapat COD. Ke depan kami berharap progresnya semakin bagus,” ujarnya.
Lebih jauh Feby menuturkan, potensi biomass di Sumut luar biasa karena banyak sekali perkebunan. Dia berharap biomass dapat dibangun di daerah-daerah dengan kondisi evakuasi listrik yang lebih mudah dan masih dibutuhkan. Seperti di daerah Labuhan Bilik, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Labuhan Batu Utara atau bahkan Nias.
“Nias kalau dilihat BPP-nya cukup tinggi dan cukup bagus untuk dikembangkan biomass. Kami juga sedang melakukan studi PLTS untuk melihat potensi di Nias,” sambungnya.
Beerdasarkan hasil studi PLN, kata dia, beberapa daerah di Sumut sangat berpotensi dibangun pembangkit biomasa karena memiliki lahan perkebunan yang luas.(red)












