Perang Dagang AS -China, Bank Dunia : Negara Berkembang Harus Waspada

Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim

MEDANHEADLINES.COM – Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim mengingatkan kepada negara-negara berkembang untuk mewaspadai kondisi Perang dagang antara negara-negara maju yaitu AS dan China

Menurutnya, perdagangan adalah kunci penting bagi negara berkembang untuk maju. Jika perdagangan dihambat, semakin kecil peluang sebuah negara untuk maju.

“Sekarang, kami mencemaskan mengenai kemungkinan terjadinya perang dagang. Perang dagang tak pernah baik bagi semua negara. Pengalaman kami justru perdagangan adalah elemen penting bagi negara berkembang untuk maju,” ujar Kim

Selain itu, Bank Dunia juga telah mengimbau pihak-pihak yang terlibat peeang dagang bahwa tidak ada yang menang dari kebijakan perang dagang.

“Selama ini tidak ada pihak yang menang dari perang dagang sehingga kami harap yang terbaik saja. Indonesia, seperti negara lain, tentu harus berhati-hati menyikapi ini,” jelas Kim.

Kendati demikian, ia yakin fundamental ekonomi Indonesia masih kuat. Ia bilang, pengelolaan fiskal Indonesia masih sehat, dengan target defisit APsebesar 2,19 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Sementara itu, rasio utang terhadap PDB juga berada di angka 29,58 persen, yang ia bilang lebih rendah dari negara berkembang lainnya.

“Ada manajemen yang kuat di dalam pengelolaan keuangan publik. Ada area yang kami anggap bahwa perekonomian Indonesia sedang dalam postur yang mumpuni,” ujar Kim.

Sebelumnya, AS mengumumkan perang dagang dengan China saat negara itu mengenakan tambahan bea masuk baja dan aluminium masing-masing sebesar 10 persen dan 25 persen pada Maret lalu yang memukul industri manufaktur China.

Kemudian, aksi ini dibalas lagi oleh China dengan memberlakukan kenaikan bea masuk sebesar 15 persen untuk 120 komoditi impor Amerika dengan nilai impor berkisar US$3 miliar.

Setelahnya, AS juga menerapkan tarif impor 25 persen untuk produk baja dan 10 persen untuk aluminium dari Uni Eropa, Kanada, dan Meksiko. Perang dagang dilakukan AS lantaran Negeri Paman Sam kerap mencatat defisit perdagangan dengan negara-negara tersebut, khususnya dengan China.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan perang dagang bisa menimbulkan resesi ekonomi. Apalagi, perang dagang tidak akan menimbulkan manfaat bagi pelakunya.

“Makanya sekarang dunia ancang-ancang bahwa growth tidak akan sampai 3,9 persen,” jelas dia.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.