MEDANHEADLINES.COM, Medan – Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumatera Utara, Afifuddin Lubis mengatakan Sumatera Utara (Sumut) adalah miniatur Indonesia dengan Belasan juta warga dari berbagai latar belakang suku, agama, ras dan golongan hidup bersama dengan damai
Oleh karenanya, hidup dalam kebhinekaan itu bisa terjadi karena warga Sumut selalu menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila.
“Pancasila sudah disepakati sebagai dasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di tengah masyarakat Indonesia. Maka Pancasila inilah yang mewarnai kehidupan masyarakat Sumut,” ujar Afifudin
Afifudin mengatakan, toleransi dan kerukunan yang sudah membudaya di Sumut harus terus dipertahankan, bahkan ditingkatkan. Tahun politik yang ditandai dengan sejumlah pilkada di Sumut jangan sampai merusak harmoni yang selama ini terjadi.
“Tahun politik seperti yang sedang dijalani saat ini tidak jarang membuat berkembangnya berbagai perbedaan di antara sesama masyarakat. Perbedaan jangan sampai meruncing dan jangan menjadikan perbedaan SARA sebagai bagian dari upaya mencapai tujuan politik,” ujarnya.
Afifudin mengatakan, perbedaan pendapat adalah keniscayaan dalam demokrasi. “Namun dalam perbedaan pendapat dan ketidaksepakatan itu cara-cara yang diungkapkan harus bertitik tolak pada nilai-nilai Pancasila,” ujarnya lagi.
Hal senada disampaikan tokoh masyarakat Sumut, RE Nainggolan. Menurutnya, peringatan kelahiran Pancasila harus menjadi momentum bersama bagi bangsa Indonesia untuk merenung bahwa Indonesia merupakan negara yang sangat besar yang terdiri dari puluhan ribuan pulau, dan 250 juta lebih penduduk dengan berbagai latar belakang.
“Kita sungguh-sungguh harus menghayati bahwa kehidupan kita sehari-hari saat ini bisa aman karena seluruh sendi kehidupan masih didasarkan pada Pancasila dan UUD 1945,” sebutnya.
Secara khusus pada tahun politik 2018, Nainggolan mengajak seluruh pihak yang berkontestasi agar menjunjung tinggi Pancasila dan menjadikannya sebagai bagian dari kegiatan politik yang dilakukan. Dia menegaskan, meraih tujuan politik dengan membenturkan perbedaan SARA haruslah dihindari.
Sebab, kata dia, hal tersebut hanya akan memperlebar jurang perbedaan di tengah masyarakat dan memperbesar potensi perpecahan.
“Pada tahun politik ini kita senantiasa harus menjaga kenyamanan dan kedamaian. Kita semua bersaudara, kita bagian dari satu-kesatuan bangsa yang utuh yang harus kita pertahankan bersama,” tegasnya. (red)












