MEDANHEADLINES.COM – Jalan Tol yang menghubungkan Kota Medan menuju Kota Binjai telah diresmikan pada Jumat (13/10/2017) lalu, Namun masyarakat banyak yang merasa keberatan dengan tarif tol yang dianggap cukup Mahal dibandingkan dengan tariff Tol lainnya.
Menanggapi hal itu, PT Hutama Karya selaku pengelola menganggap, mahalnya biaya sesuai besaran yang dikeluarkan untuk membangun tol tersebut yaitu sekitar Rp 1,6 Triliyun
“Yang pasti soal investasi. Kan pembiayaan kontruksi dulu dengan sekarang beda. Sekarang lebih mahal biayanya. Ditambah lagi biaya ganti rugi lahan yang sangat mahal. Tidak mungkin kita ganti rugi, pasti ganti untung,” Kata Kepala Cabang PT Hutama Karya Tol Medan-Binjai Rubiantoro
Dijelaskannya, Untuk menempuh jarak terpanjang (Medan-Binjai), pelanggan yang menggunakan kendaraan golongan I dikenakan biaya Rp10.500 sekali melintas. Untuk golongan II dikenakna biaya Rp15.500, Golongan III Rp20.500, Golongan IV Rp25.500 dan Golongan V Rp31.000.
“ Untuk Pintu masuk tol Medan-Binjai berada di kawasan Helvetia. Sedangkan pintu keluar Binjai berada di kawasan kawasan Jalan Megawati,” jelasnya.
Ia juga memaparkan, Jalan Tol Medan-Binjai terbagi dalam tiga seksi. Mulai dari Seksi I Helvetia-Tanjung Mulia sepanjang 6,071 km, Seksi II Helvetia-Sei Semayang sepanjang 9,051 km dan Seksi III Sei Semayang-Binjai sepanjang 10.319 km.
Dari ketiga seksi, baru dua yang beroperasi yakni seksi II dan III. Sementara seksi I masih dalam tahap pembangunan. Rubiantoro bilang, Seksi I masih terkendala pembebasan lahan.
“Soal pembebasan lahan. Kalau tanah yang PTPN 2 mudah, karena sama-sama punya pemerintah. Tapi kalau punya warga susah, karena ada kasus seperti kepemilkan ganda. Kadang ada kasus PTPN sudah oke, tapi penggarapnya tidak mau. Lalu soal besarnya ganti rugi. Kita kan sudah ada standar. Kalau tidak deal, menuju proses pengadilan sesuai PT4P,” ujarnya.
Pengelola juga menargetkan tol Medan-Binjai akan dilintasi 17.000 kendaraan per hari.namun semenjak diresmikan, kendaraan yang melintas rata-rata baru sekitar 10.000 kendaraan.
“Yang pasti nanti kami akan evaluasi, kan ini belum 1 bulan juga. Seteah itu baru kita akan cari jalan keluarnya. Bisa mungkin dengan diskon tariff, tapi tergantung dengan evaluasi nanti,” pungkasnya. (pra)












