MEDANHEADLINES.COM, Medan – Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD KNPI) Medan melakukan kunjungan ke Rehabilitasi Narkotika Indonesia Fokus, di Jalan Bajak 5, Medan Amplas, Kamis (9/12/2021).
Dalam kunjungan tersebut, Ketua DPD KNPI Medan, Ryan Juskal yang didampingi jajaran pengurus KNPI Medan menyatakan, respect dan salut pada manajemen Rehabilitasi Narkotika Indonesia Fokus, yang mengutamakan konsep humanisme pada pasien rehabilitasi.
“Saya pernah juga ke beberapa rehabilitasi, namun konsep di Rehabilitasi Fokus ini cukup berbeda, sebab di sini saya melihat lebih menanamkan nilai-nilai humanisme. Sangat bagus dan patut dicontoh, apalagi di sini ada konsep bapak asuh, jadi Fokus ini bicara hati ke hati dalam mengubah perilaku pasien yang direhab,” ujar Ryan Juskal, didampingi Sekretaris DPD KNPI Medan, Roy Sihombing dan Wakil Ketua DPD KNPI Medan, Fahmi Sabari.
Disampaikan Ryan Juskal, Rehabilitasi Narkotika Indonesia Fokus ini tampak menerapkan metode yang baik dalam proses penyembuhan pasien. Sehingga dapat melepas kecanduan, memulihkan kembali rasa percaya diri, harga diri dan memupuk kesadaran serta tanggungjawab terhadap masa depan diri para pasien rehab.
“Metode yang dilakukan sungguh bagus, karena memang hakekatnya seperti itu. Bisa saya katakan inilah proses ideal yang harus dilakukan tempat-tempat rehabilitasi. Ditambah lagi memang, SDM yang ada di Rehabilitasi Fokus ini sangat mumpuni, sudah bersertifikat semua,”ungkapnya.
Program Direktur Rehabilitasi Narkotika Indonesia, Mifta Fariz Boli Malakalu, SH mengatakan, pihaknya selalu mengutamakan konsep tahapan perubahan, yakni Pra-Perenungan (precontemplation), Perenungan (contemplation), Persiapan (preparation), Aksi (action) dan Pemelirahaan (maintenance).
Dijelaskannya Pra-Perenungan (precontemplation) tahap dimana seseorang tidak peduli untuk melakukan sebuah aksi terhadap masa depan yang dapat diperkirakan, biasanya diukur dalam enam bulan berikutnya.
“Orang yang ada dalam tahapan ini disebabkan oleh tidak taunya atau kurang mengerti mengenai konsekuensi suatu perilaku atau, mereka telah mencoba berubah beberapa kali namun patah semangat terhadap kemampuan berubahnya,”katanya.
Kemudian, lanjut Faris, Perenungan (contemplation) tahap dimana seseorang peduli untuk merubah perilakunya pada enam bulan berikutnya. Mereka pada tahap ini kemungkinan peduli terhadap perubahannya tetapi sering kali peduli terhadap konsekuensi secara akut. Keseimbangan antara biaya dan keuntungan perubahan dapat menimbulkan ambivalen, sehingga dapat menahan seseorang dalam tahapan ini perlu waktu yang lama.
Berikutnya, Persiapan (preparation) tahap dimana seseorang peduli melakukan sebuah aksi dengan segera di masa yang akan datang, biasanya diukur bulan berikutnya. Orang pada tahap ini secara khusus melakukan beberapa aksi yang signifikan pada tahun sebelumnya.
“Setelah itu Aksi (action) tahap dimana seseorang telah memodifikasi secara spesifik dan jelas pada gaya hidupnya selama enam bulan terakhir. Aksi ini dapat diamati, perubahan perilaku sering setarakan sebagai aksi. Dalam transtheoretical model hanya satu dari lima tahap, tidak semua modifikasi perilaku disebut sebagai aksi,”terangnya.
Dan terakhir, Pemeliharaan (maintenance) tahap dimana seseorang berupaya untuk mencegah kambuh dari perilaku sebelumnya tetapi mereka tidak menerapkan proses perubahan sesering aksinya.
“Mereka tidak akan terbawa nafsu untuk kembali kepada perilaku sebelumnya dan mereka meningkatkan perubahannya, dengan lebih percaya diri untuk melanjutkan perubahannya,”pungkas Faris. (raj)












