Berdiri di Lahan Warga, Rumah Ceria Medan Beri Kecerian Anak-anak Difabel

Suasana proses belajar mengajar di Sekolah Rumah Ceria Medan yang berada di Jalan Bunga Cempaka VII Nomor 41 Y, Padang Bulan Selayang II, Kecamatan Medan Selayang, Kota Medan. (Foto: Istimewa)

MEDANHEADLINES.COM, Medan – Tawa dan canda dipertontonkan puluhan anak di halaman Sekolah Rumah Ceria Medan saat menunggu jemputan datang. Ada yang kejar-kejaran. Ada juga yang bermain di fasilitas seadanya. Ya, di sana cuma ada ayunan dan enjot-enjotan.

Sekolah yang berada di Jalan Bunga Cempaka VII Nomor 41 Y, Padang Bulan Selayang II, Kecamatan Medan Selayang, itu jauh dari kata mewah. Beda dengan TK, PAUD atau SD pada umumnya. Bangunan dari kayu dan tepas itu bahkan berdiri di lahan yang dipinjamkan oleh masyarakat sekitar.

Menangnya, sekeliling sekolah banyak tanaman seperti buah jeruk dan markisa. Kemudian pohon dan bunga-bungaan. Hebatnya lagi, sekolah yang di 2015 hanya sanggar ini mendidik anak difabel dan non difabel.

“Alhamdulillah, kita dikasih pakai lahan sampai waktu yang tidak ditentukan. Tapi kalau pemilik mau menggunakan, kita harus pindah. Ya, masalah ini masih menjadi tantangannya,” ucap Kepala Sekolah Rumah Ceria Medan, Yuli Yanika memulai cerita kepada wartawan pada Senin (24/7/2023) lalu.

Perempuan yang akrab disapa Uyek ini mengatakan, kepekaannya terhadap anak-anak difabel muncul sejak bergabung di sekolah alam. Dorongan itu semakin kuat lantaran di sekitar ke diamannya juga banyak anak penyandang disabilitas. Tidak sedikit dari mereka yang diejek dan mendapat perlakuan diskriminasi dari teman mainnya.

Sejak saat itu Uyek mulai memanggil anak-anak berkebutuhan khusus ke sekolahnya yang waktu itu masih berupa sanggar. Di situ dia membantu mereka untuk latihan berbicara.

“Jadi Uyek ngebantu mereka latihan berbicara, karena waktu itu kondisi disabilitas anak-anaknya, Speech delay. Selain itu kita juga ajari mereka latihan menari dan kelas fotografi sambil bermain bersama. Akhirnya anak-anak non disabilitas tertarik untuk datang,” katanya.

Akan tetapi, kekhawatiran baru muncul setelah kegiatan sanggar berjalan sekitar 2-3 tahun. Alasannya, anak-anak disabilitas ini masih banyak yang tidak sekolah. Sementara tempatnya masih sanggar sehingga kebingungan untuk menentukan status dan mau dibawa ke mana anak-anak ini selanjutnya.

Uyek sempat membantu mencari sekolah yang mau menerima mereka. Tapi terhambat masalah biaya karena jarak dari rumah mereka ke Sekolah Luar Biasa (SLB) cukup jauh. Kemudian, anak-anak berkebutuhan khusus yang diterima di sekolah umum tidak tertangani dengan tepat. Sehingga mereka bisa tinggal kelas sampai enam kali.

“Ada dari mereka yang sudah berumur 13-15 tahun tapi masih kelas 6 SD. Ternyata, kebutuhan khusus mereka gak mungkin bisa mengejar. Mungkin bisa sampai dewasa mereka di sekolah itu,” ucapnya.

“Sejak itu, saya berpikir harus membuat legalitas buat mereka. Biar statusnya betul-betul jelas dan kita konsisten menangani mereka,” tambahnya.

Berangkat dari keresahan itu, mulai dari 2018, Uyek berniat mendirikan sekolah reguler. Di tahun berikutnya ia baru membuka sekolah Rumah Ceria Medan. Di sekolah itu dia menerima murid TK dan SD. Di saat bersamaan ia membuka kursus menjahit untuk anak didiknya.

“Jadi kita datangkan guru menjahit dan mereka ikut kelas itu. Alhamdulillah masih berjalan sampai sekarang,” ujarnya.

Disinggung makna disabilitas, wanita kelahiran Berastagi, Kabupaten Karo ini menjelaskan, secara aturan disabilitas disebut dengan anak berkebutuhan khusus. Tidak boleh lagi disebutkan dengan kata cacat karena sudah dihapus dalam undang-undang. Sebab, cacat itu sebuah kalimat yang diskriminatif.

Di sekolahnya, dia menerima anak disabilitas mental yaitu autisme atau IQ intelektual rendah. Ada juga yang kompleks seperti tuli, tuna netra dan disabilitas fisik atau tidak bisa jalan.

“Khusus untuk yang tidak bisa jalan belum kita masukkan ke reguler, karena kursi roda dan akses jalan belum bisa ramah buat mereka. Jadi kami yang datang ke rumahnya,” ucap Uyek.

Meskipun berjalan dengan segala keterbatasan, Uyek punya harapan semua anak didiknya kelak bisa diterima di sekolah umum untuk tingkat SMA. Sebab, Rumah Ceria Medan yang dipimpinnya belum membuka kelas sampai SMA. Namun mereka akan berusaha mengcover anak didiknya sampai tingkat SMP.

“Usia anak-anak yang masuk ke kita ada berumur 9 tahun. Anak dengan masalah intelektual ketika tidak disesuaikan dengan jenjang kelasnya, maka mereka akan terus tertinggal. Jadi saya buat ujiannya kesetaraan. Selama ini target kita SMP. Tahun depan udah pada ujian. Tingkat SD juga ujian nasional padahal mereka baru tiga tahun di sini,” kata Uyek.

“Jadi kita sesuaikan. Tapi SMP mereka wajib di sini karena ada target yang mereka belum capai dan ingin kita kejar. Targetnya ketika keluar dari sini mereka sudah tahu keluar dari mana. Yang mau bekerja, ya bekerja. Mau kuliah, ya kuliah. Itu yang mau diakses,” sambungnya.

Kepala Sekolah Rumah Ceria Medan, Yuli Yanika alias Uyek saat memberikan keterangan kepada wartawan. (Foto: Istimewa)

Pun begitu, Uyek mengatakan bahwa Rumah Ceria Medan menggunakan kurikulum pemerintah. Tapi yang diutamakan tetap kurikulum personal. Tujuannya untuk mencari tahu ketertarikan setiap anak ke arah mana. Misalnya codong ke arah IT, maka akan dicarikan guru IT dan mereka akan ikut kelas sampai tamat. Kalau ada yang suka seni maka difokuskan ke arah itu.

“Pelajaran lain tetap dipelajari, tapi 75 persen mengarah ke bakat mereka. Tahun depan kita akan buka SMP. Selain itu, kami melakukan terapi fisik, verbal dan motorik halus mereka. Itu untuk yang disabilitas,” ucap Uyek.

Soal hambatan, Uyek mengatakan bahwa saat ini mereka belum memiliki sumber daya guru yang linear. Bagi Uyek itu sangat penting karena kalau tidak linear, maka kompetensinya akan kurang dan memengaruhi cara mendidik dan keberhasilan kelas. Hingga hari ini guru di Rumah Ceria Medan hanya 6 orang dan 1 psikolog.

Soal ruangan juga menjadi hambatan. Sebab, sampai saat ini bangunan sekolah berdiri di tanah yang dipinjam pakaikan warga. Jika pemilik tiba-tiba ingin menggunakan lahannya. Mereka akan kewalahan mencari tempat penggantinya.

“Ini yang masih menjadi PR besar. Tapi, kita akan mencari cara agar punya tanah sendiri seperti di sini, karena dari dulu memang pengen konsep sekolah alam. Suasana seperti ini lebih baik untuk menstimulasi anak-anak ,” katanya.

Uyek mengaku dulunya termasuk orang yang jahil dengan anak disabilitas dan tidak suka sama anak-anak. Bahkan, masa kanak-kanak ia sampai pernah mengejek orang dengan gangguan jiwa atau ODGJ.

“Tapi, sejak 2008 terjun di dunia pendidikan dan mengajar PAUD, dia mulai belajar suka dengan anak-anak. Meskipun awalnya gak suka, kini jadi suka dan sekarang jatuh cinta,” kata Uyek.

Untuk kepiawaian bahasa isyarat, wanita berlatar belakang pendidikan Sekolah Tinggi Agama Islam, itu mengaku belajar dari teman-teman di organisasi tuli. Di situlah dia belajar sampai akhirnya menjadi juru Bahasa Isyarat.

“Dasarnya saya guru khusus autisme dan tidak pernah Expert di dunia tuli. Karena ada satu murid tuli yang datang. Maka saya mencari teman yang punya pengalaman dengan tuli sampai akhirnya bertemu dengan organisasi tuli. Di situlah saya diajarin bahasa isyarat. Sampai sekarang masih belajar isyarat karena karakter tuli itu berbeda-beda. Menurut teman-teman, saya penerjemah orang tuli pertama di Sumut. Sekarang sudah ada 3 orang yang diakui secara profesional,” ungkapnya.

Terakhir, Uyek menyampaikan pesan kepada seluruh masyarakat jika bertemu dengan anak disabilitas agar mengenali terlebih dahulu jenis apa disabilitasnya.

“Ketika kita sudah sadar bahwa disabilitasnya tuli, maka kita akan tahu bagaimana berkomunikasi dengan mereka,” pungkasnya. (FAD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.