MEDANHEADLINES.COM, Medan – Dosen Universitas Negeri Medan (UNIMED) melakukan kegiatan pelatihan pembuatan Batik Eco-Print kepada 25 siswi SMK, Selasa (4/7/2023). Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini dilakukan untuk meningkatkan industri busana di Kota Medan.
Kegiatan PKM ini diketuai oleh Prof. Dr. Dina Ampera, M.Si. Dosen Pendidikan Tata Busana itu didampingi Dra. Nurhayati, M.Pd, Dra. Surniati, M.Pd, Eka Rahma Dewi, M.Pd dan Yudistitar Anggraini, M.Pd. Dalam pelatihan itu, mereka menggandeng Mei_Goom Desain.
Pada kesempatannya, Prof. Dr. Dina Ampera mengatakan, dosen UNIMED sebagai sumber daya manusia wajib menjalankan Tri Darma Perguruan Tinggi dengan melakukan pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, dengan tetap menyesuaikan kurikulum pendidikan yang sesuai dengan perkembangan dunia industri.
“Oleh karena itu, UNIMED diharapkan mampu berjalan sejajar dengan masyarakat sebagai mitra yang berkualitas dan mampu bersaing di masa mendatang,” kata Dina melalui keterangan tertulis yang diterima medanheadlines.com, Kamis (6/7/2023).
Selain itu, lanjut Dina, pendidikan perguruan tinggi memiliki peran penting dalam upaya meningkatkan kualitas manusia yang mengarah kepada peningkatan intelektual dan kemampuan profesional. Termasuk di bidang usaha, tujuannya agar bisa menyesuaikan dan mengikuti perkembangan industri.

Menurutnya, kegiatan pengabdian masyarakat ini sebagai sarana yang efektif untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan di dunia kerja. Oleh karena itu, hendaknya para dosen dapat memanfaatkan kegiatan PKM ini. Sebab, kegiatan PKM ini merupakan sarana untuk menjembatani penerapan keilmuan secara teoritis untuk diterapkan dan dikembangkan di dunia kerja.
Dina juga menjelaskan, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga kelestarian alam dan menjadikan trend gaya hidup yang ramah lingkungan semakin digemari dan merambah luas ke berbagai sektor usaha. Tidak terkecuali dengan tren di busana, khususnya batik.
Apalagi akhir-akhir ini berkembang batik Eco-Print, yakni batik kontemporer yang menambah khazanah batik etnik di samping batik tulis dan batik cap. Untuk itu, pihaknya menggandeng Mei_Goom yang dipimpin Setiani Mei Indah Jayanti, S,Pd, di Jalan Ambai Gang Kasan, Medan Perjuangan, sebagai tempat PKM untuk mengajarkan teknik batik Eco-Print.
“Produk Eco-Print saat ini memiliki harga jual tinggi di pasaran. Selain itu, popularitas kain Eco-Print menjadi tren busana dan sangat digemari di Indonesia, sejak 2017 hingga kini,” ujarnya.

Dina menambahkan, jika dilihat dari namanya, Eco berasal dari kata ekosistem (alam), sedangkan Print artinya mencetak. Oleh sebab itu, batik ini dibuat dengan cara mencetak bahan-bahan yang ada di alam, yaitu dedaunan.
Cara kerjanya, sambung Dina, objek yang dicetak pada kain adalah daun kersen. Dan daun yang dipilih harus muda agar bisa mengeluarkan getah warna.
“Sedangkan proses pembuatan batik Eco-Print ini dimulai dari pengumpulan daun yang akan menjadi motif pada kain,” katanya.
Setelah dikumpulkan, daun-daun itu lalu direndam menggunakan air cuka sebagai mordangtingnya. Tujuannya agar warna dan coraknya terlihat pada saat batik sudah jadi.
“Setelah direndam lebih dari 2 jam, daun itu ditata hingga membentuk motif di atas lembaran kain yang direntangkan di lantai,” ucapnya.
“Pembuatan kain batik Eco-Print sangat sederhana dan mudah dilakukan karena tidak menggunakan lilin dan canting. Kita hanya menyusun daun-daun itu membentuk desain. Baru setelah itu di gulung menggunakan plastik,” tambahnya.
Dina menekankan, kain batik Eco-Print merupakan suatu karya seni yang mempunyai nilai budaya dan nilai ekonomi tinggi. Dan cara ini masih sangat jarang dikerjakan oleh masyarakat pada umumnya. Oleh sebab itu, Mei_Goom sebagai mitra sangat berharap masyarakat dapat mengembangkan teknik batik Eco-Print yang unik.
“Kegiatan PKM yang menggandeng Mei_Goom ini dilaksanakan sebagai upaya pemberdayaan masyarakat di bidang kreatif dan inovatif. Dan sebagai bentuk inovasi pendidikan dengan tujuan agar dapat membantu masyarakat dalam pembuatan batik Eco-Print,” pungkasnya. (Red)












