Pernyataan itu disampaikan Edy Rahmayadi saat mengikuti kegiatan Rapat Koordinasi (Rakor) Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi bersama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Ruang Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Langkat beberapa waktu lalu.
Dalam rapat itu, Gubernur Sumut mengatakan Langkat mendapat sekian ratus miliar untuk pembangunan infrastruktur. Lalu Gubernur Sumut mengatakan siapa Ketua DPRD di Langkat? Setelah dijawab Ketua DPRD Langkat dari Golkar. Kemudian dia bilang Partai Golkar lah yang tidak menyetujui pembangunan itu.
Kedua adalah ketika Gubernur Sumut Edy Rahmayadi mengaku di-bully oleh orang-orang di Partai Golkar. Pengakuan itu disampaikan Edy saat menghadiri acara Partai Demokrat.
“Yang pakai baju kuning (kader Golkar) ini, ini orang ini pura pura bukan pengusung saya. Mungkin gara-gara yang baru-baru ini lah mereka bully-bully aku ini,” tutur Edy di Kantor DPD Partai Demokrat Sumut, Medan, Jumat (9/9/2022).
Menanggapi hal ini, Ketua GEMA Ormas MKGR Sumatera Utara, Muhammad Ziad Ananta S.Sos M.Si menyebut dua pernyataan Edy Rahmayadi tersebut mengisyaratan Gubernur Sumatera Utara tidak tahan terhadap kritik. Khususnya kritik terhadap kebijakan yang dibuat oleh beliau.
“Kritik yang diberikan oleh Golkar Sumatera utara bersifat membangun dan merupakan bagian dari Demokrasi, Jangan malah diartikan sebagai Bully. Bukan hanya itu kritikan yang disampaikan golkar disikapi secara berlebihan oleh Bapak Gubernur dan terlalu dibawa ke perasaan, itu mungkin karena Pak Gubernur masih ingin bersama-sama dan masih sayang dengan Partai golkar. Kalau kita sayang dengan seeorang kitakan pasti terus mau berbicara tentang orang itu,”ungkapnya.
Muhammad Ziad Ananta S.Sos M.Si yang biasa dipanggil Nanta menambahkan Kami juga menilai 4 tahun memimpin Sumatera Utara Edy Rahmayadi minim Prestasi, yang viral justru urusan marah-marah dan jewer-jewer, bukan viral dalam prestasi seperti Gubernur Gubernur lainnya contohnya Anies Baswedan, Ganjar Pranowo ataupun Ridwan Kamil.
Ketua Gema Ormas MKGR Sumatera Utara yang juga Mahasiswa S3 Program Studi Pembangunan FISIP USU ini juga menyampaikan bahwa Kami juga mengingatkan Gubernur Sumatera Utara yang mengaku orang lama di Golkar, bahwa tua ataupun muda tidak menjadi ukuran kedewasaan seseorang, banyak orang yang sudah dewasa secara usia, tapi muda secara lemikiran, dan orang lebih muda usianya tetapi dewasa pemikirannya. kami partai besar dan biasa terkena badai jadi kalau ombak-ombak kecil saja tidak akan menggoyangkan pohon beringin di Sumatera utara.
Bahkan pernyataan Pak Gubernur semakin menjadikan motivasi bagi kami kader kader Golkar di Sumatera Utara untuk hatrick, menang Pilpres, Pileg dan Pilkada di Sumatera Utara. (*)












