Masalah Plastik Disebabkan Prilaku Primitif Kita

MEDANHEADLINES.COM – Dosen Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik-Universitas Indonesia (UI) Firdaus Ali, yang juga Pendiri dan Ketua Indonesia Water Institute, menyatakan gerakan “Say No to Plastic” yang muncul belakangan ini salah kaprah besar.

Gerakan melawan keberadaan plastik itu sama saja melawan peradaban.

Firdaus memaparkan sejarah penemuan plastik pada tahun 1862 oleh Alexander Parkers yang berwarna cokelat pertama kalinya. Kemudian di tahun 1930 amino plastik baru ditemukan sehingga penuh warna-warni. Dua dekade berselang, tepatnya tahun 1950, terjadi pertumbuhan dalam produksi plastik.

 

“Melawan keberadaan plastik ini salah besar, karena plastik sudah menjadi bagian dari kehidupan modern dengan beban populasi yang terus bertambah dengan signigikan. Plastik yang dibuang ke lingkungan, ya, itu salah. Tapi kalau kita lawan plastik sama saja melawan peradaban,” papar Firdaus Ali membuka presentasi webinar “Memperkuat Waste Management untuk Mendukung Circular Economy” yang diselenggarakan Sahabat Daur Ulang pada Selasa (10/11) pagi tadi.

Firdaus menambahkan Indonesia merupakan negara pembuang limbah plastik ke badan air nomor dua terbesar di dunia setelah China.

Plastik menjadi masalah global akibat pengelolaan yang kurang baik, kemudian diperburuk dengan perilaku primitif manusia yang membuang plastik ke lingkungan, dan berakhir di badan air sampai ke lautan. Plastik ini membuat laut terkontaminasi dan terganggu aktivitas dan keberlangsungan hidup biota laut.

Staf Khusus Menteri Pekerjaan Umum ini mencontohkan Sungai Citarum yang permukaannya dipenuhi sampah. Namun dirinya tidak sependapat jika keberadaan plastik sebagai biang masalah.

“Yang salah bukan plastik. Tapi perilaku primitif kita yang membuang sampah dan limbah (plastik) tersebutlah yang sumber masalah dan bencana. Setiap kali hujan saya melihat di Pintu Air Manggarai, Jakarta Selatan, yang ditangani petugas Dinas Kebersihan DKI itu diantaranya adalah sampah plastik. Ini menunjukkan betapa primitifnya kita,” ujarnya.

Firdaus menyebutkan persoalan komitmen politik dan fiskal menjadi penyebab penanganan plastik di perkotaan sehingga program “waste to energy” berjalan lambat. Padahal upaya pendekatan sudah ada melalui pembuatan regulasi dan insentif, tapi pelaksanaannya bergerak sangat lambat sementara akumulasi timbulan limbah bergerak cepat.

“Jawaban simple karena tidak punya komitmen solid, politik dan apa lagi fiskal. Kita tidak menyadari bahwa menyelesaikan persoalan sampah dengan rantai kegiatan sama juga menyelesaikan persoalan perkotaan,” ungkap Firdaus.

Penerapan “waste to energy”, sambung Firdaus, masih kesulitan karena memang tidak disadari bahwa pengelolaan sampah itu aktivitas yang seharusnya bertanggungjawab, mulai pemerintah kota, pelaku usaha, dan masyarakat.

Firdaus menyarankan jangan melihat biaya penanganan sampah secara modern begitu besar alias mahal sekali. Padahal menyelesaikan persoalaan persampahan kota itu bagian yang sangat strategis.

“Kita jangan sekedar mengedukasi, tapi (pengelolaan sampah secara terpadu dari hulu hingga ke hilir harus menjadi budaya baru. Ini yang tertinggal dari peradaban kita,” kata Firdaus.

Keberadaan plastik, lanjut Firdaus, sangat esensial yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan dan kenyamanan. Apalagi saat pandemi Covid 19 ini sebagian besar keberadaan plastik yang membantu kita dalam menjalani kehidupan norma baru ini.

Jadi kalau ada yang bilang “say no to plastic” saatnya mengkoreksi kecuali punya opsi lain untuk memutus penemuan sejarah plastik tahun 1862 dan menemukan jenis material baru (pengganti plastik) yang bisa terurai dengan baik dan cepat oleh lingkungan.

“Sebentar lagi vaksin Covid 19 yang membutuhkan temperatur rendah sekali (-16 derajat Celcius dan -20 derajat Celcius) untuk penyimpanannya. Ini butuh plastik yang fleksibilitasnya menyesuaikan dengan temperatur,” jelas Firdaus yang aktif di kegiatan sosial bersama kelompok Harmoni Indonesia.

Terkait pendekatan circular economi, Firdaus berpendapat pengelolaan sampah plastik ini punya keuntungan yang jauh lebih bernilai dibanding cara primitif. Ini bagian dari gerakan global untuk memanfaatkan potensi ekonomi yang ada di rantai limbah plastik sehinga tidak membebani lingkungan, tidak mencemari lingkungan, dan membuka peluang ekonomi baru.

Pemanfaatan sampah plastik bisa menjadi bahan baku yang bisa dipakai untuk produksi yang berkelanjutan. Contoh pemanfaatan plastik bekas untuk bahan bangunan, perhiasan, aksesoris, dan lain sebagainya.

“Plastik tidak akan mungkin kita lawan. Populasi yang semakin besar membutuhkan kenyaman dan ketersediaan kemasan dalam jumlah yang masif sekali dan tentunya ini tantangan bersama,” ujar Firdaus yang mendorong penelitian dengan memanfaatkan limbah plastik yang tidak bisa didaur ulang. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *