Ragam  

Bertahan Ditengah Pandemi, Yang Penting Dapur Bisa Ngepul

Ilustrasi Penjual Eskrim Keliling (ist)

MEDANHEADLINES.COM – Wabah Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) tengah menerpa seluruh Dunia, termasuk Indonesia. Bahkan dari data tim gugus tugas covid-19 , wabah penyakit ini sudah menyerang 336.176 orang dengan 11.935 orang diantaranya meninggal dunia.( Data Satgas Covid Per 12 Oktober)

Sedangkan dari Data Covid- 19 Sumatera Utara tercatat sebanyak11.419 orang terpapar penyakit asal Wuhan, China. Dan 473 orang diantaranya meninggal dunia (Data Satgas Covid-19 Sumut per 12 Oktober 2020).

Tak Hanya menyerang Kesehatan, Pandemi ini juga berdampak ke berbagai sektor lainnya. Salah satu yang paling terdampak adalah di sektor ekonomi .

Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara, Syech Suhaimi mengatakan penurunan ekonomi ini pasti akan mempengaruhi jumlah penggangguran terbuka yang ada. Terbukti, pada Februari 2020, jumlah angkatan kerja di Sumut sekitar 7,29 juta jiwa, turun 156 ribu dibandingkan Februari 2019. Sejalan dengan itu, tingkat partisipasi angkatan kerja juga mengalami penurunan 2,57 poin.

” Artinya, penduduk yang bekerja pada Februari 2020 sekitar 6,95 juta orang, sedangkan yang menganggur 345 ribu orang,” ungkapnya

” Tingkat Pengangguran Terbuka di Sumut pada Februari 2020 juga turun 0,83 poin menjadi 4,73 persen pada Februari 2020. Dilihat dari tingkat pendidikan, TPT paling tinggi adalah TPT dengan jenjang pendidikan SMK yaitu sebesar 7,51 persen,” sambungnya.

Sebagian besar dari penduduk bekerja yakni 58,63 persen (4,07 juta orang) bekerja pada kegiatan informal. Selama setahun terakhir, dari Februari 2019 pekerja informal turun hingga 1,62 poin.

“Persentase pekerja tidak penuh pada Februari 2020 sebesar 32,68 persen terdiri dari pekerja paruh waktu 25,31 persen dan setengah pengangguran sebesar

7,37 persen. Sedangkan pekerja penuh atau yang bekerja dengan jam kerja minimal 35 jam per minggu ada sebanyak 67,32 persen,” jelasnya.

Hal inilah yang dialami oleh Kupon, Warga Patumbak yang selama ini bekerja sebagai Supir di sebuah perusahaan yang mensuplay makanan dikawan Bandara Internasional Kuala Namu ini terpaksa beralih profesi menjadi pedagang es keliling.

Dia merupakan salah satu dari puluhan pekerja yang terpaksa dirumahkan akibat perusahaannya melakukan efisiensi akibat Covid-19.
Pria yang memiliki 3 orang anak ini sudah belasan tahun menjadi supir di perusahaan itu, namun perusahaan terpaksa merumahkannya sebab orderan makanan untuk karyawan dan karyawati bandara tersebut menyusut karna tak ada lagi penerbangan.

“Sedihlah, tapi yang mau gimana lagi. Namanya juga Corona,” uajr pria gempal tersebut.

Untungnya, dia mendapatkan pesangon dari perusahaan sesuai dengan yang diharapkannya. Ini membuatnya harus banting setir menjadi pedagang es keliling.

“Sehari bisa bawa pulang Rp50.000 sampai Rp75.000,- lah, syukurlah, yang penting dapur bisa ngepul,” tandasnya.

Terpisah, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Utara, Wiwiek Sisto Widayat bercerita tentang kondisi perekonomian Sumatera Utara khususnya dibidang tenaga kerja yang terdampak Covid-19 ini.

Dia menjelaskan bahwa di Sumatera Utara, jumlah tenaga kerja yang terdampak COVID- 19 mencapai 13.933 pekerja dari 378 perusahaan kecuali sektor pertanian, perkebunan dan industri pengolahan hasil perkebunan (sawit).

“Sedangkan tenaga kerja yang telah kembali bekerja pasca dilakukannya adaptasi dan kebiasan baru sebanyak 3.228 pekerja dari 86 perusahaan. Sebagian besar tenaga kerja yang mulai pulih berasal dari sektor perhotelan,” jelasnya.

Pimpinan Bank Indonesia ini memperkirakan konsumsi rumah tangga pada Triwulan III 2020 akan mulai meningkat. Hal ini ditopang oleh perbaikan pendapatan sejalan dengan kembali bekerjanya tenaga kerja yang terdampak.

“Pada masa adaptasi kebiasaan baru, beberapa perusahaan kembali beroperasi, terutama pada sektor perhotelan serta pencairan insentif dari program kartu prakerja. Ini semua diyakini akan mampu menopang ekonomi Sumut kedepan,” tambahnya.

Alhasil, banyak perusahaan yg terpaksa melakukan efisiensi hingga menutup usahanya akibat dari dampak wabah ini. Perusahaanpun terpaksa merumahkan ribuan karyawannya, tidak hanya sementara, namun selamanya.(tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.