Puluhan mitra driver Grab Bike menggeruduk kantor Grab di CBD Polonia, Kota Medan/ Handout
MEDANHEADLINES.COM, Medan – Puluhan mitra driver Grab Bike menggeruduk kantor Grab di CBD Polonia, Kota Medan.
Massa menyegel kantor karena tidak mendapat jawaban atas tuntutan yang mereka sampaikan saat audiensi pada Senin (27/7) malam.
“Awalnya kami kirimkan surat izin aksi sama polisi, tapi polisi membukakan ruang audiensi dengan pihak Grab. Namun tidak ada jawaban ataupun kepastian, bahkan tenggat waktu penyelesaian juga tidak ada. Kami terpaksa menyegel kantor operasional Grab di Medan,” kata Koordinator Aksi Raja Siva, Selasa (28/7).
Raja menjelaskan, tuntutan utama para driver adalah meminta Grab mengembalikan insentif yang telah dihapuskan. Sebab driver mengaku kesulitan meraup pendapatan jika hanya mengandalkan ongkos per orderan yang mereka terima dari konsumen. Apalagi ongkos minimal yang mereka dapat masih harus mendapat potongan.
“Tarif per orderan kan sudah diatur dalam Permenhub, tarif minimal Rp 7.000 kita sudah dapat bersih, jangan dipotong lagi. Gojek kasih tarif minimal Rp 8.000 sudah bersih untuk driver. Kalau kami, masih dipotong lagi 20 persen (Rp 1.400), jadi cuma dapat Rp 5.600, padahal harus bayar parkir lagi, habislah pendapatan kita,” tutunya.
Menurunya, Grab tidak seharusnya menghilangkan insentif untuk para driver sebab meski di masa pandemi, driver masih mampu mengumpulkan paling tidak 200 poin sehingga ada pendatan tambahan Rp 80.000 yang bisa mereka bawa pulang.
“Target kita kan ada 100, 120 sampai 320 poin. Meski jumlah orderan naik turun gak bisa diprediksi, driver masih bisa capai 200 poin, itu sudah bisa bawa uang Rp 80.000 ke rumah. Kalau poin dihilangkan, tiap orderan kami hanya dikasih bonus Rp 100. Jawaban Grab, kasih Rp 100 aja mereka mengaku masih rugi, sementara kita tengok Grab masih bisa beriklan dengan nilai besar dan sponsorin acara,” ucap Raja.
Selain itu, para driver juga menuntut akun yang diputus mitra sepihak karena kesalahan sistem diaktifkan kembali.
“Banyak teman-teman kita yang diputus mitra bukan karena keselahan mereka, tapi kesalahan sistem Grab sendiri. Kami minta Grab mengaktifkannya kembali,” ujarnya.
Massa mengaku akan mogok beroperasi sampai Grab memberikan jawaban. Tidak hanya itu, mereka mengkampanyekan untuk memberikan bintang satu kepada aplikasi Grab melalui Play Store.
“Sampai Grab Indonesia memberi penjelasan, kami menyerukan offbid dan mengkampanyekan bintang satu di-Play Store,” teriak Raja.
Saat dikonfirmasi terkait unjuk rasa ini, melalui keterangan resminya Grab Indonesia memberikan jawaban yang diplomatis.
“Grab menghargai hak setiap warga negara, termasuk para mitra pengemudi untuk menyampaikan pendapat. Kami berharap demonstrasi yang akan berlangsung bisa berjalan dengan aman dan kondusif,” tulis Grab.
Menurut Grab, pihaknya selalu membuka jalur komunikasi dua arah secara rutin untuk menerima aspirasi, umpan balik dan masukan dari para mitra pengemudi. Baik melalui pertemuan tatap muka seperti kopi darat dan kunjungan ke basecamp para mitra, dan cara-cara lain.
Grab dibangun dengan semangat membagi manfaat dari kemajuan teknologi digital kepada sebanyak mungkin lapisan masyarakat dan kami menghargai kerja keras para mitra dan terus berinovasi untuk meningkatkan kesejahteraan yang tergabung dalam platform kami.
“Bersama mereka kami akan melanjutkan upaya perwujudan visi-misi, termasuk komitmen kami untuk meningkatkan taraf hidup mitra pengemudi. Grab berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaik bagi para pengguna maupun mitra dengan cara merespon segala masukan maupun keluhan terkait penggunaan layanan kami,” tutup Grab.
Namun dalam keterangan yang berjudul “Tanggapan Resmi Terkait Unjuk Rasa Mitra Pengemudi di Medan” tersebut tidak disebutkan langkah apa yang akan diambil pihak Grab atas tuntutan para mitranya. (Rha)











