Pendemi Corona, Pengamat : Indonesia Seperti Wanita Yang Mengalami Persalinan

MEDANHEADLINES.COM, Indonesia mendapat ujian yang berat. Selain banyaknya korban yang meninggal akibat pandemi Corona, ekonomi dalam negeri pun terindikasi mengalami kelesuan. Di sektor swasta terlihat ada pengurangan pegawai di sana-sini. Pengamat politik Horas Sinaga mengatakan, Indonesia seperti seorang wanita yang sedang mengalami sakit bersalin. Apa maksudnya?

“Wanita yang akan bersalin itu mengalami kontraksi, rasa nyeri, sulit tidur, dan lain sebagainya. Demikian juga bangsa kita saat ini. Kita mengalami rasa sakit yang luar biasa oleh karena pandemi Corona ini. Pasien yang positif terus meningkat tiap hari, begitu juga yang meninggal,” ujar Horas di Slipi, Rabu (1/4/2020).

“Ekonomi kita juga lesu, bahkan mencekam. Kita lihat mall, restoran, dan pasar sepi. Ada yang mengeluh income perusahannya menurun 70-80%, ini indikasi yang tidak baik bagi perekonomian nasional. Banyak pekerja lepas harian yang sangt sulit hidupnya sekarang. Saya prihatin,” tambahnya.

Realitas terkini disebut Horas ibarat wanita yang sedang sakit bersalin, tetapi akan tiba pada saatnya nanti setelah melahirkan akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Horas mendasarkan prediksinya antara lain pada performa koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang dinilai stabil.

Horas mendorong Pemerintah agar lebih memaksimalkan sektor koperasi dan UMKM sebagai tulang punggung perekonomian dalam negeri. “Pada krismon 1997 lalu koperasi dan UMKM sudah membuktikan diri mampu bertahan terhadap krisis, saya kira ke depan, kedua sektor ini akan menempati peranan penting,” kata Horas.

“UMKM yang berbasis agraris akan unggul dalam situasi ekonomi yang lesu ini. Sebab, negara kita ini adalah negara agraris. Kita wajib kembali kepada keahlian natural nenek moyang kita dalam membangun perekonomian Nusantara,” imbuhnya.

“Maksimalkan luasnya tanah perkebunan dan sawah kita. Saya perkirakan, sektor UMKM yang berbasis agraris inilah yang akan muncul sebagai jawara dalam dinamika ekonomi dalam waktu-waktu ke depan,” ujar mantan Senior Treasury Manager Bank Mandiri itu.

Menurut Horas, masa laksana wanita bersalin yang dialami Indonesia, mau tak mau harus dilewati sebagai suatu situasi yang terelakkan, karena kondisi global yang sama-sama menderita akibat pandemi Corona.

“Ada waktunya sakit bersalin, yaitu sekarang. Saya kira antara bulan Juli sampai Oktober 2020 ini kita akan mengalami kontraksi hebat. Grafiknya sudah menuju ke arah krisis, jadi sangat mungkin kita masuk krisis. Tapi saya harap prediksi saya keliru,” analisis Horas.

Rasa sakit seperti wanita bersalin itu akan terjadi dalam beberapa waktu, kata Horas. Ia memprediksi tahun 2024 Indonesia baru bisa pulih secara ekonomi. “Ya kontraksi akibat persalinan sosial ekonomi saya kira akan terjadi pada Oktober 2020 hingga paling cepat 2021 atau selambatnya 2022,” kata pria yang juga Ketua Umum Visi Indonesia Unggul (VIU) itu.

“Saya dan kawan-kawan di VIU percaya Pemerintahan Presiden Joko Widodo sudah mengantisipasi ancaman krisis ekonomi ini sejak awal, dan langkah-langkah yang kini Pemerintah ambil terkait pandemi juga terukur dan proporsional. Kita layak apresiasi Pemerintah,” tukasnya.

Dalam menghadapi ancaman krisis ekonomi, Horas menyerukan agar masyarakat tidak panik, tidak termakan berita hoax, dan setia menaati imbauan Pemerintah. “Kita bersama bisa hadapi kondisi apa pun, yang jelas jangan panik, dan jangan melakukan penimbunan sembako yang merugikan masyarakat. Ia mendorong masyarakat tidak berutang pada bank dalam masa krisis, tapi lebih meminjam uang di koperasi dengan bunga yang lebih kecil,” kata pengamat politik itu.

“Jika sudah bersalin atau melahirkan, nanti sakitnya akan hilang dan akan diganti dengan kebahagiaan. Saya pikir koperasi dan UMKM akan menjadi tulang punggung dalam pemulihan ekonomi Republik ini, ” pungkasnya. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *