Gunawan Benjamin: Strategi Bisnis “Bakar Uang” Tak Bertahan Lama

Layanan dompet digital OVO/handout

 

MEDANHEADLINES.COM, Medan – Akhir November 2019, kita dikejutkan dengan pernyataan pendiri Grup Lippo Mochtar Riady yang mengaku tidak kuat lagi bakar uang demi memberikan promosi di layanan dompet digital OVO (fintech). Lippo mengurangi dua per tiga kepemilikan sahamnya di OVO, menyusut menjadi 30 persen.

Pengamat ekonomi Gunawan Benjamin yang dimintai komentarnya menilai, pengusaha era digital cenderung berani rugi duluan supaya produknya berkembang. Hal ini menjadi bagian strategi bisnis yang sedang tren belakangan ini. Umumnya, para pengusaha akan melakukan investasi ataupun pengembangan usaha dengan melihat prospek bisnisnya terlebih dahulu.

“Katakanlah prospek bisnisnya jelas, tapi hitung-hitungan untung rugi juga dilakukan untuk pengembangan usaha,” kata Gunawan saat dihubungi lewat sambungan telepon, Jumat (20/12).

OVO, menurutnya, memberikan banyak promo diawal untuk menarik sebanyak-banyaknya minat masyarakat. Kalau promo yang diberikan merupakan hasil pengelolaan dana pengguna yang mengendap, baginya sah-sah saja.

“Sah-sah saja… Saya berpikir, mungkin promo itu diberikan setelah perusahaan mendapat kesempatan mengelola dana yang mengendap di OVO,” ujarnya.

“Misalnya ada duit nasabah di OVO yang tidak terpakai. Uang ini bisa diputar, katakanlah masuk dalam pasar uang, ini hanya salah satu instrumen saja. OVO dapat untung, keuntungan dalam bentuk simpanan ini yang digunakan sebagai dana promo,” sambung dia.

Ternyata OVO bukan memberikan promo menggunakan hasil perputaran dana yang mengendap, melainkan sengaja mensubsidi konsumennya untuk mengejar potensi keuntungan yang bisa didapat dalam jangka panjang. Dia menyebut ini sebagai strategi nekat.

“Ini strategi yang menurut saya idenya cukup berani atau bahkan terbilang nekat. Belum melihat berapa potensi keuntungan yang bisa didapat, malah melakukan aksi bakar uang. Pertanyaannya, seberapa besar kemampuan kita membakar duit ini?” ungkap Gunawan.

Ia meyakini, tujuan akhirnya adalah dominasi yang kuat yang bisa mengalahkan atau bahkan mematikan para pesaing. Namun, dibutuhkan nyali besar untuk menjalankan strategi tersebut.

Walaupun bukan hanya OVO yang melakukan hal tersebut, namun dirinya melihat model usaha “jaman now” saat ini senang mengambil keputusan bisnis yang banyak unsur gambling-nya.

Strategi bisnis bakar uang ini tidak akan bertahan lama. Persaingan yang dilakukan aplikator hanya akan menguntungkan konsumen semata.

“Model bisnis seperti ini sebaiknya jadi pelajaran kita semua. Bayangkan kalau ada start up baru dan siap bakar duit, maka yang ada di benak pesaing adalah seberapa besar duit yang akan dibakar,” katanya.

Gunawan menyayangkan regulasi yang lambat hadir sehingga para pengusaha berlaku semaunya sendiri. Dia mendorong lahirnya aturan yang pas, ada asosiasi yang bisa menjadi wadah untuk menampung kebutuhan para start up.

Untuk para aplikator, ia berpesan, era digital bukanlah era semua bisa memprediksi apa yang akan terjadi pada bisnis meski menggunakan cara yang sangat akurat. Terlebih kalau bisnis yang dikembangan sangat berbau teknologi. Pelaku start up harus lebih cermat memilih strategi bisnis sesuai kemampuan finansial.

“Mungkin satu-dua start up di awal mampu bertahan dan berhasil saat membakar uang. Tetapi bagaimana kalau muncul banyak start up baru yang melakukan hal sama,” tutup Gunawan. (Rha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *