Portofolio Hasil Karya Siswa jadi Opsi Tepat saat UN Dihapus

Pelajar SMA Negeri 40 Jakarta mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di SMAN 40 Jakarta, Pademangan, Jakarta Utara, Senin 1 April 2019. Pelajar SMA/MA sederajat Jalani UNBK Serentak se Indonesia hari ini. TEMPO/Hilman athurrahman W

MEDANHEADLINES.COM-Para pemerhati pendidikan mengusulkan berbagai metode evaluasi yang dianggap cocok sebagai pengganti ujian nasional jika UN jadi dihapus. Salah satu yang muncul adalah pemaparan portofolio hasil karya siswa selama mengenyam pendidikan.

Menurut pengamat pendidikan dari Center for Education Regulations and Development Analysis (Cerdas), Indra Charismiadji, di masa depan, anak harus disiapkan untuk menciptakan pekerjaan, bukan lagi sebagai pekerja. Jika arahnya ke sana, dia menilai bentuk evaluasi hasil belajarnya adalah portofolio.

“Karya dia selama kelas I-XII dikumpulkan dan dipajang. Nanti, mereka paparkan apa yang ditunjukkan portofolio itu,” kata Indra seperti dimuat Koran Tempo, Sabtu, 30 November 2019.

Menurut Indra, anak harus disiapkan untuk menciptakan apa saja, tergantung minat dan bakat mereka. Bisa berupa permainan, lagu, tarian, robot, buku, animasi, ataupun hasil riset.

Indra mencontohkan, siswa bisa diberi tugas menjelaskan apa itu benda padat, cair, dan gas, melalui sebuah karya yang bisa dalam bentuk video, animasi, atau permainan. Jika dia bisa menjelaskan dengan baik melalui karya itu, tak perlu lagi ada ujian.

“Kalau perlu pemberian nilainya didasarkan pada penilaian publik juga. Berapa jumlah viewers-nya, misalnya. Ini belajar kolaborasi, komunikasi, dan kreativitas,” kata dia.

Indra menjelaskan, pada pembelajaran berbasis proyek, guru tak lagi berperan sebagai pengajar, melainkan fasilitator. Guru bisa memberikan tantangan kepada siswa untuk terus membuat proyek sebagai cara mengevaluasi hasil pembelajaran. Cara seperti itu diterapkan di sejumlah negara, di antaranya Singapura.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sedang mematangkan rencana penghapusan ujian nasional. Seorang pejabat Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan serta seorang anggota staf khusus menteri ikut membedah persoalan ini bersama Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) pada Selasa lalu.

Ketua BSNP, Abdul Mu’ti, mengatakan pertemuan itu mengulas soal evaluasi kebijakan dan regulasi untuk meningkatkan mutu pendidikan. “Kami mengeksplorasi berbagai sistem evaluasi, salah satunya soal ujian nasional,” kata Abdul. Meski belum ada keputusan, dia memastikan lembaganya setuju jika ujian nasional dihapus.

Menurut pengamat pendidikan, Mohammad Abduhzen, jika ujian nasional jadi dihapus, maka evaluasi harus kembali seperti yang sudah ditentukan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional di Pasal 57 dan 58.

Ada dua model evaluasi yang bisa dipakai. Pertama, kata Abduhzen, evaluasi hasil belajar yang dilakukan oleh guru atau sekolah. Kedua, evaluasi untuk pengendalian mutu nasional atau pemetaan yang dilakukan oleh lembaga independen, seperti BSNP.

Abduhzen menjelaskan, evaluasi hasil belajar bisa dilakukan melalui metode ujian dan non-ujian. Metode ujian dilakukan layaknya ujian sekolah yang berlangsung selama ini. Sedangkan metode non-ujian terprogram khusus, seperti perkuliahan. “Ketika semua SKS (satuan kredit semester) sudah lulus, anak bisa dianggap tamat,” ucapnya.

Ujian nasional selama ini dianggap sebagai cara untuk mengukur kondisi pendidikan nasional. Jika dihapus, pemetaan tak perlu dilakukan setiap tahun. Bahkan, kata dia, evaluasi belajar memungkinkan tidak melibatkan seluruh murid secara nasional, cukup dilakukan setiap 3-4 tahun sekali.

Pengamat pendidikan lainnya, Itje Chodijah, menyatakan pengganti ujian nasional bisa dilakukan dengan bermacam assessment. Misalnya, melakukan ujian dan observasi ketika anak-anak berdiskusi antar-sesama. “Ujian itu hanya salah satu dari assessment. Banyak caranya,” ucapnya.

Itje menuturkan, selama waktu belajar dengan siswa, guru mesti peka untuk mengevaluasi hasil belajar. Caranya bisa dengan bermain. Ketika bermain itulah guru melakukan observasi. Hal itu bisa dilakukan pada tiap pekan keempat pengajaran.

Pada tiga pekan sebelumnya, guru memberikan pemahaman mengenai topik bahasan. “Hasilnya nanti dikumpulkan sampai mereka akan beralih jenjang. Sekarang cara (evaluasinya) cuma ujian,” kata dia.

Artikel ini sudah terbit di Tempo.co

(pace)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *