MEDANHEADLINES.COM, Deli Serdang- Anggota DPR RI dari Komisi II, Djarot Syaiful Hidayat mengunjungi Desa Perkampungan Ramunia, Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang, Rabu (27/11) siang. Dia datang memenuhi janjinya kepada warga Ramunia untuk mendengar permasalahan tanah yang sedang dialami warga Ramunia.
Begitu tiba, Ketua DPP PDI Perjuangan itu beserta rombongan langsung meninjau lahan warga Ramunia yang tengah bermasalah. Di sana, mereka mengutarakan semua masalah, dari tanah yang dirampas sampai ditutupnya akses masuk ke areal lahan oleh aparat TNI yang berjaga.
Sedang berbincang dengan warga, dari ujung lahan tiba-tiba terdengar suara kendaraan roda dua yang dikendarai pria berbaju dinas TNI datang. Melihat itu, Djarot langsung menghampiri dan mengajaknya berbincang.
Ada apa ini pak, tanya petugas kepada Djarot. Belum dijawab, ia mengatakan bahwa dirinya mendapat perintah untuk menjaga lahan. Dia kemudian menyebut jika Djarot ada keperluan agar langsung ke Pusat Koperasi Angkatan Darat atau Puskopad saja.
“Iya, saya hanya mau bilang janganlah akses warga masuk ke lahan dikunci. Nanti saya akan ke Puskopad,” kata Djarot menjawab pertanyaan petugas tersebut.
Tak lama berkomunikasi dengan petugas, Djarot, warga dan rombongan meninggalkan lokasi. Rombongan lalu menuju rumah warga untuk melanjutkan pembicaraan soal konflik tanah yang dialami warga Ramunia.
Kepada wartawan, mantan Gubernur DKI Jakarta itu menjelaskan, kehadirannya ke Perkampungan Ramunia untuk memenuhi janjinya kepada warga. Menurutnya, masalah lahan Ramunia ini sudah mencuat lama dan sampai sekarang belum terselesaikan secara menyeluruh.
“Untuk mengetahui akar persoalan, kita harus datang dan berdialog bersama warga yang menjadi korban,” kata Djarot usai mendengar semua keluhan warga Ramunia.
Katanya, dengan cara ini bisa mendapatkan informasi data dan dokumen-dokumen valid yang dimiliki warga. Cara seperti ini harusnya dilakukan oleh siapapun untuk membela rakyat agar kebenaran bisa terwujud.
Persoalan ini sebenarnya bisa diselesaikan dengan mudah. Apalagi masyarakat Sumut punya budaya berbicara, mendengar dalam menyelesaikan masalah. Selanjutnya baru dikoordinasikan dengan pihak-pihak yang berkepentingan.
“Masalah ini bisa saya sampaikan langsung ke Puskopad, BPN, termasuk yang katanya lahan tersebut telah dikuasai oleh PT. Kita mau tau apa nama PT-nya,” ujarnya.
Djarot menambahkan, cukup banyak solusi yang bisa dilakukan agar masalah bisa selesai. Salah satunya dengan merelokasi lahan supaya basis mereka tetap menjadi petani dan tidak berubah fungsi. Dan mereka ingin cepat terealisasi, di mana lahannya, itu yang sedang dibicarakan.
“Tapi, asalkan mereka betul-betul punya hak yang valid bahwa itu memang lahan mereka sejak jaman dulu. Ini bentuk penyelesaian pertama, makanya kita musyawarah,” ungkap Djarot.
Kedua, memberikan konvensi yang wajar. Tujuannya agar warga bisa membeli lahan biar bisa bertani kembali. Mereka hanya ingin menjadi petani. Dan itu pekerjaan yang mulia.
“Saya sampaikan kepada mereka, saya akan membela yang benar bukan yang bayar” tegas Djarot.
Djarot juga mengingatkan semua pihak untuk tidak mempolitisasi, memanfaatkan bahkan mencari keuntungan dari masalah ini. Seperti mengutip uang kepada warga, itu tidak boleh.
“Makanya kita datang dan langsung bertemu dengan mereka (warga Ramunia) untuk mendengarkan persoalannya seperti apa,” pungkas Djarot. (AFD)












