Salak Sidimpuan Hilang Dari Komuditas Ekspor, Ini Instruksi Dari Kepala Barantan

MEDANHEADLINES.COM, Medan – Kepala Badan karantina Pertanian (Barantan) Ali Jamil menginstruksikan Kepala Balai Besar Karantina Pertanian Belawan mendatangi daerah-daerah penghasil Salak Sidimpuan untuk mengupayakan agar buah tersebut menjadi komoditas ekspor lagi.

Instruksi tersebut disampaikannya saat monitoring pemeriksaan karantina di gudang PT Argosari Sentraprima, di Kecamatan Patumbak, Deliserdang, Sumut, Minggu (22/9) sore. Pada kesempatan itu turut hadir Hasrul, Kepala Balai Besar Karantina Pertanian (BKP) Belawan.

Ali Jamil mengatakan beberapa waktu lalu dirinya melakukan pelepasan ekspor Salak Pondoh dari Bandara Kualanamu, Deliserdang, ke Rusia.

Ia mengaku merasa heran karena salak tersebut sebenarnya berasal dari Jawa, sedangkan Sumut dikenal sebagai penghasil Salak Sidimpuan.

Dia mengatakan, Salak Sidimpuan bahkan sudah dihasilkan Sumut sejak awal provinsi ini berdiri pada 1948. Adapun Salak Pondoh masuk dan dibudidayakan di Sumut hanya baru beberapa tahun terakhir.

“Salak Sidimpuan saya tidak tahu, hilang sekarang. Saya pikir ini perlu dicek,” ujarnya.

Dia lalu memerintahkan Hasrul untuk mengeceknya langsung ke daerah-daerah yang pernah diketahui sebagai penghasil. Bila perlu, Hasrul bermalam di daerah-daerah tersebut agar pengecekannya dapat lebih maksimal.

Langkah ini dilakukan untuk memastikan kondisi terkini budidaya Salak Sidimpuan. Dan sebagai langkah awal agar buah ini kembali menjadi salah satu komoditas ekspor dari Sumut.

Menurut Ali Jamil, beberapa tahun lalu aktivitas pengiriman Salak Sidimpuan ke luar negeri masih ada. Puluhan truk salak ini dikirim secara rutin ke Malaysia melalui Pelabuhan Tanjungbalai Asahan.

Selain monitoring, pada kesempatan itu Ali Jamil juga melakukan pelepasan ekspor produk-produk pertanian asal Sumut yang dikirim ke pasar Asia senilai Rp37,7 miliar.

Adapun komoditas dan produk pertanian yang dikirim terdiri dari hasil olahan produk hortikultura berupa jus nenas sebanyak 6,4 ton dan 9,2 ton jus pepaya dengan negara tujuan Vietnam.

Kemudian 14 produk segar dan olahan hortikultura, antara lain sayuran kubis, jahe, ubi jalar beku, kentang, kentang beku, tepung serai, asam potong dan mengkudu.

Adapun negara tujuan ekspor produk tersebut adalah Jepang, Korea Selatan, India, Taiwan, Malaysia, Bangladesh, Pakistan, Thailand, Tiongkok dan Singapura. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *