MEDANHEADLINES.COM, Medan – Heboh, suasana kisruh sempat terjadi di panggung seminar Indonesia Climate Change ke-9 di Kota Medan, Kamis (5/9). Hal itu disebabkan poster bertuliskan ‘Go To Hell NSHE’ dipampangkan di tengah jalannya seminar bertajuk ‘Aksi Nyata Mitigasi Perubahan Iklim Melalui Energi Terbarukan’ itu.
Dalam kegiatan itu, Sejumlah tokoh menjadi pembicara. Antara lain, Sonny Keraf dari Dewan Energi Nasional, Agus Joko Ismanto selaku Senior Adviser and Sustainbility North Sumatra Hydro Energy (NSHE) atau PLTA Batangtoru dan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sementara Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sumatera Utara Binsar Situmorang didaulat menjadi moderator seminar
Saat Sonny dan Perwakilan KLHK membawakan materi, suasana masih tetap tenang. Pengunjung yang datang menyimak dengan baik pemaparan yang dilakukan.
Namun saat Agus dari NSHE yang berbicara, kisruh dimulai. Dua orang pengunjung tiba-tiba mengangkat poster bertuliskan ‘Go To Hell NSHE’ sambil berorasi.
Begitu poster diangkat, seminar terhenti. Saat itu, Agus tengah memaparkan soal Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batangtoru berkekuatan 510 MW.
Keduanya langsung melontar orasi. Pengunjung di sekelilingnya sontak terkejut. Belakangan, kedua orang itu diketahui sebagai anggota Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi). Lembaga peduli lingkungan yang terus melontar protes pembangunan PLTA Batangtoru.
“Mereka membangun PLTA di Batangtoru, merampas lahan masyarakat. Mereka telah merusak hutan. Bagaimana bisa mereka bicara mitigasi perubahan iklim. Tapi kenyataannya mereka merusak hutan di Batangtoru,” teriak Fhilya.
Denni, pemrotes lainnya juga ikut berorasi. Kata dia, NSHE tak pantas berada di acara itu. Karena perusahaan itu, diduga telah merusak hutan dan habitat Orangutan Tapanuli yang nyaris punah.
“Gak bakalan bisa kita ngomongin perubahan iklim, jaga hutan. Faktanya hutan kita ditebang. Bahkan hutan kita dirampas oleh mereka. Bahkan aliran sungai Batangtoru juga dirampas oleh mereka. Lalu apa sekarang, orangutan Tapanuli tang jadi kebanggaan Indonesia habitatnya terancam. Kita tidak bisa diam,” tegasnya.
Di tengah orasi, Denni sempat ditarik oleh seorang perempuan berbatik merah. Namun Denni tidak gentar. Dia tetap mengangkat poster bertuliskan ‘Hutan ku Terluka’.
Fhilya yang melanjutkan orasi juga mengkritik pemerintah. Bagi dia, pemerintah sudah keliru dengan mengundang para korporasi kotor atau perusak lingkungan. Seperti NSHE yang mereka tuding.
“Pemerintah juga harusnya tidak memberikan panggung kepada korporasi kotor. Untuk menyuguhkan pendidikan kotor bagi kita semua. Kalian harus sadar, melihat apa yang mereka lakukan di lapangan. Bahkan mereka sendiri telah melakukan pemalsuan tanda tangan dalam dokumen lingkungan. NSHE Go to Hell, NSHE Sampah,” pungkas Fhilya sambil meninggalkan tempat.
Kisruh PLTA Batangtoru memang sudah sejak lama bergulir. Dugaan perusakan hutan dan fragmentasi habitat Orangutan Tapanuli menjadi isu hangat di kalangan aktivis lingkungan.
NSHE diaebut sebagai pelaku utamanya. Karena mereka membangun PLTA di atas lahan yang merupakan habitat Orangutan Tapanuli.
Namun tampaknya NSHE tak terlaku ambil pusing dengan protes yang terus dilayangkan. Termasuk aksi dua prang anggota Walhi saat Agus menyampaikan paparannya.
“Yah gini yah, itu hak bicara semua orang boleh. Yah bagus. Artinya setiap orang punya konsern, punya perhatian. Bagus bagus saja. Kalau informasinya bener, jadi masukan yang baik untuk kita. Kalau informasinya belum bener mungkin harus diluruskan,” ujar Agus yang ditemui usai seminar.
Soal pemalsuan tanda tangan di dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) PLTA Batangtoru, Agus enggan mendetilnya.
“Kalau Amdal kita pakai konsultan. Jadi yah hubungan mereka dengan pihak konsultan. Kita gak tahu,” tukasnya.
Terlebih soal perusakan hutan di kawasan Batangtoru. Mereka mengatakan bendung yang dikerjakan ukurannya kecil. Dan mereka menggunakan lahan masyarakat yang sudah diganti rugi.
“Kalau kemudian menebang pohon selalu diartikan merusak hutan, yah itu definisi, gitu kan. Kita nggak tau mereka definisikan apa,” tandasnya.
Sebelumnya, Walhi juga menggelar unjuk rasa di depan hotel di mana Indonesia Climate Change digelar. Mereka memprotes acara karena menganggap pemerintah memberikan panggung kepada perusak lingkungan. (fat)











