Komantab menggelar eko-tour yang merupakan rangkaian perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74 di Poncan Gadang pada Sabtu (31/8). Handout
MEDANHEADLINES.COM, Sibolga – Konflik satwa dan manusia terus terjadi, kali ini dengan hewan dilindungi jenis kura-kura laut, Penyu. Pekan lalu, seekor Penyu Lekang mati di Desa Muara Nauli, Kecamatan Sorkam, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Binatang berbobot puluhan kilogram itu ditangkap warga saat naik ke pantai hendak bertelur.
Awalnya kehadiran binatang purba itu diketahui anak-anak yang langsung melaporkannya ke para orangtua. Penyu pun ditangkap sebelum sempat bertelur. Diikat, dimasak, lalu disantap beramai-ramai.
Peristiwa ini menyita perhatian banyak pihak, termasuk Komunitas Menjaga Pantai Barat (Komantab). Dalam rangkaian eko-tour penurunan bendera di Poncan Gadang pada Sabtu (31/8), komunitas lintas lembaga ini menggelar diskusi terfokus.
“Kita resah dengan pembantaian penyu itu. Kita mau ajak semua orang untuk melindungi penyu dan berhenti memakannya,” kata Maecenas yang akrab disapa Doni.
Hasil diskusi melahirkan kesepakatan kalau pembantaian penyu tidak boleh terulang. Sikap tegas dan penanganan serius multipihak harus dilakukan.
“Penangkapan penyu, terutama jenis dilindungi seperti Penyu Lekang tentu berkontribusi terhadap rusaknya habitat laut,” ujarnya.
Menambah penjelasan Doni, akademisi Sekolah Tinggi Perikanan dan Kelautan (STPK) Matauli, Tapanuli Tengah Fitri Ariani menyesalkan perilaku warga. Katanya, apa yang dilakukan warga tidak saja merusak habitat laut, tapi juga menyangkut kesehatan orang yang mengkonsumsi daging penyu.
“Beresiko tinggi, daging Penyu mengandung arsenik dan logam berbahaya bagi kesehatan manusia. Mikroplastik ada di dagingnya, ini dipicu usia penyu yang mencapai puluhan tahun,” kata Fitri.
“Mitos bahwa daging penyu bisa menambah vitalitas adalah persepsi yang salah. Penyadaran terhadap masyarakat harus dilakukan segera, khususnya di sekolah-sekolah. Kita mau dorong ada muatan lokal yang mengajarkan bahwa penyu harus dilindungi bukan dikonsumsi. Pengawasan sampai penindakan pada level yang tak bisa ditolerir bisa dilakukan,” pungkasnya.
Komantab menggelar eko-tour yang merupakan rangkaian perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74. Selain berdiskusi, kegiatan yang diikuti 50-an peserta ini melakukan penurunan bendera di laut dan trip ke bungker di Bukit Poncan. Juga penurunan belasan unit bioreeftek dan artificial reef, serta aksi bersih pantai dan edukasi pilah-pilih sampah. (Rha)












