Terkait Limbah Danau Toba, Kepala BNPB : Tak Cukup Dengan Pendekatan Hukum

MEDANHEADLINES,COM, Medan, Permasalahan kerusakan Lingkungan berupa limbah di Danau Toba akhir-akhir ini menjadi sorotan.  Menteri Koordinasi Maritim Luhut Binsar Panjaitan beberapa kali sampai menyinggung permasalahan ini, Mulai dari Limbaj Kotoran Babi oleh perusahan ternak di Kabupaten Simalungun hingga limbah dari Keramba Jaring Apung (KJA) yang jumlahnya nyaris tak terhitung.

Menanggapi Soal pencemaran lingkungan ini, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Doni Monardo juga angkat bicara

“Saya juga membaca berita, Pak Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan marah dan kecewa. Karena ternyata ada peternakan babi yang limbahnya di buang ke Danau Toba,” ungkap Doni usai menjadi pembicara utama pada Rapat Koordinasi (Rakor) bersama BNPB Indonesia terkait penanggulangan bencana, lingkungan, dan pengembalian fungsi konservasi, di Aula Raja Inal Siregar, Kantor Gubernur Sumut, Jalan Pangeran Diponegoro Nomor 30 Medan, Kamis (8/8).

Menurutnya, Dalam mengurusi lingkungan sekelas Danau Toba tidak hanya bisa dengan pendekatan hukum. Lebih jauh dia menjelaskan, ada hal lain yang bisa dilakukan. Khususnya penyadaran masyarakat.

“Butuh pendekatan emosional, hati. Sampai harus berubah. Harus ada komunitas yang hidup dengan masyarakat. Ada unsur TNI-nya,polisi, pemuka agamanya, budayawannya. Urusan lingkungan urusan perilaku. Memperbaiki lingkungan harus memperbaiki perilakunya,” tukasnya.

Dikatakannya, Jika pendekatan seperti ini bisa dilakukan, maka pastinya tidak ada yang menentang. Termasuk perusahaan yang pastinya tahu jika membuang limbah ke Danau Toba itu adalah kesalahan besar.

Selain itu, Menurutnya peranan tokoh agama juga harusnya dimaksimalkan untuk menjaga lingkungan. Dan itu harus dilakukan secara masif di tengah masyarakat.

“Saya mengimbau tokoh agama, luangkan waktu lima sampai tujuh menit untuk bicara soal ekosistem. Atau politik ekologi. Kalau kita mengedepankan kedaulatan lingkungan, maka tanpa diawasi bisa timbul kesadaran sendiri dari masyarakat,” ungkapnya.

Dirinya juga mengajak masyarakat untuk saling berbagi ide dan gagasan untuk lingkungan. Karena semakin banyak orang yang terlibat dalam menangani lingkungan maka jalannya semakin mudah. “Semua kerusakan dari perilaku. Yang perlu diperbaiki awal adalah mengubah perilaku,” pungkasnya.

Sementara itu, Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi mengatakan kerusakan lingkungan Toba adalah dampak dari modernisasi.

“Ini adalah dampak dari kita semakin modern. Sebenarnya semakin modern, kita juga punya kemampuan untuk tidak membuat seenaknya. Kita mendapat sesuatu tapi mengorbankan sesuatu,” tegasnya.

“Kesulitannya adalah, Ini adalah dampak dari ketidak mengertian, ketidaktahuan, atau tidak tegas. Karena semua yang dilakukan perusahaan itu dia punya legalitas. Nah yang memberikan legalitas ini sebenarnya dan ini sedang dalam proses kita semua. Baik itu pabrik teh, ternak babi atau pun keramba,” pungkasnya.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *