Bongkar Dugaan Kasus Predator Seksual di USU, MEDANWOMENSMARCHMDN Desak Pembentukan TPF Independen

 

MEDANHEADLINES.COM, Medan – WomenMarchMdn yang merupakan aliansi organisasi dari beragam issu maupun individu-individu baik perempuan maupun laki-laki di Sumatera Utara yang memperjuangkan hak-hak perempuan atas keadilan, bebas dari diskriminasi dan segala bentuk kekerasan termasuk kekerasan seksual memberikan respon terhadap peristiwa kekerasan seksual yang terjadi pada korban berinisial “D” oleh terduga pelaku HS, Dosen Departemen Sosiologi FISIP USU.

Peristiwa tersebut terjadi pada 3 Februari 2018 dan sudah dilaporkan oleh korban kepada Ketua Program Studi Sosiologi, Harmona Daulay yang kemudian melakukan investigasi. Sayangnya, terduga pelaku hanya mendapatkan surat berisi keputusan skorsing tulisan tangan tanpa kop dan tanpa tanda tangan Dekan. Hingga kini pelaku HS bebas berkeliaran dan melakukan ativitas mengajar yang tentunya mencederai rasa keadilan korban.

Menyikapi hal itu, MedanWomenMarchMdn menyampaikan sebagai berikut :

1. Upaya perjuangan korban selama 1 tahun lebih hingga kini belum membuahkan keadilan bagi korban. Kami meyakini bahwa terdapat struktur relasi kuasa antara Dosen dan mahasiswa yang menyebabkan kasus-kasus pelecehan seksual di USU berlangsung langgeng dan tidak terlawan oleh mahasiswa. Hal ini menyebabkan kampus tidak lagi menjadi tempat aman bagi anak-anak perempuan kami, saudara perempuan kami, atau adik perempuan kami. Predator pelaku kekerasan seksual dengan relasi kuasanya bebas beredar di Kampus FISIP USU. Terindikasi, “D” bukanlah satu-satunya korban, “D” hanya puncak gunung es yang terlihat dalam praktek kekerasan seksual dalam relasi kuasa yang timpang ini.

2. USU selayaknya berkewajiban melakukan promosi (promote), melindungi (protect), dan memenuhi (fullfill) hak-hak korban untuk menjamin peristiwa kekerasan fisik dan psikhis termasuk kekerasan berbasis seksual tidak terjadi berulang pada korban maupun mahasiswa-mahasiswa perempuan lainnya di USU. Kewajiban untuk memastikan USU sebagai tempat yang aman bagi semua termasuk bagi perempuan maupun dosen perempuan untuk bebas dari segala bentuk kekerasan termasuk kekerasan berbasis seksual. Sangat penting bagi masyarakat sipil agar USU kembali menjadi tempat yang aman untuk proses belajar dan mengajar di Sumatera Utara. Hal ini juga merupakan tanggung jawab USU dalam mewujudkan pendekatan berbasis hak (Right’s Base Approacht) sehingga USU dapat menjadi tempat aman bagi semua tanpa pengecualian.

3. Kami mendorong USU dapat membentuk Tim Pencari Fakta (TPF) Independen multi pihak dengan melibatkan perwakilan korban beserta pendamping hukum korban, juga melibatkan masyarakat sipil yang biasa bekerja dengan perempuan korban kekerasan khususnya kekerasan berbasis seksual seperti PESADA, LBH APIK, HAPSARI. USU juga bertanggung jawab agar korban bisa didampingi oleh Konselor yang terbiasa bekerja dengan kasus kekerasan berbasis seksual. TPF ini penting untuk menjamin tersedianya data independen, akuntable dan bertanggung gugat sehingga kasus kekerasan seksual tidak dianggap hanya sekedar praktik pelanggaran ringan meskipun terindikasi pelaku sudah mengakui bahwa ada upaya melakukan pelecehan seksual kepada korban.

4. Mendesak untuk segera tersedia SOP Penyelesaian Kasus Pelecehan Seksual di USU. Permintaan USU kepada korban untuk pengulangan pelaporan kepada Prodi, Dekanat dan di tembuskan ke Rektor menunjukkan bahwa pendekatan administratif ini masih bias relasi kuasa dan tidak berperspektif korban. Tidak ada pelanggaran mal administrasi yang dilakukan dalam kasus ini karena belum tersedia SOP penyelesaiannya sehinggal pelaporan ulang sangat tidak di butuhkan. Apalagi korban sudah melaporkan langsung ke pihak Dekanat FISIP USU dan Prodi Sosiologi FISIP USU sejak setahun yang lalu. Kepentingan korban hendaknya diutamakan dengan memberikan rekomendasi yang lebih berpihak pada kepentingan korban sebagai survivor kekerasan seksual di USU. Ketidak hadiran korban pada saat rapat mediasi lebih dikarenakan korban merasa ketakutan dan terintimidasi karena korban tidak diperkenankan hadir didampingi oleh pendamping hukumnya, dalam hal ini PESADA.

5. Selayaknya USU terlibat dalam mendorong kasus kekerasan seksual ini masuk kedalam proses hukum, sehingga ada aspek jera pada terduga pelaku, memastikan tidak terjadi pengulangan oleh terduga pelaku pada korban-korban lainnya, serta memberikan rasa keadilan bagi korban. Hal ini merupakan perwujudan tanggung jawab USU untuk pemenuhan hak-hak korban atas pengakuan, keadilan dan pemulihan. Kami sangat mendukung hal ini bisa dilakukan oleh USU bersama korban dan masyarakat sipil dalam memastikan USU tetap menjadi kampus yang aman, nyaman, berwibawa dan berintegritas.

6. USU harus memastikan bahwa upaya kesediaan “D” sebagai survivor dijamin keamanannya dan di lindungi kerahasiaan identitasnya. Jaminan korban bisa melanjutkan kehidupannya termasuk menyelesaikan skripsinya tanpa hambatan dari pelaku ataupun pihak-pihak lain adalah tanggung jawab Universitas.

7. Bahwa kami yang tergabung dalam MedanWomenMarchMdn menyatakan berdiri di samping korban “D” dan mengawal kasus ini. Korban tidak sendiri memperjuangkan hak-haknya atas keadilan, diskriminasi dan kekerasan seksual yang di alaminya. Untuk itu, semua pihak terkait hendaknya bisa menyelesaikan kasus ini secara terbuka, akuntabel dan bertanggung gugat.

Demikianlah pernyataan pers ini kami perbuat untuk memberikan dukungan pada “D” korban kekerasan seksual di USU. Memberikan hak-hak korban kekerasan seksual merupakan perwujudan pemenuhan HAM oleh USU dan memastikan bahwa USU mampu mengatasi persoalan dengan pendekatan berbasis HAM.

Koalisi MedanWomenMarchMdn
Kontak Person Lely Zailani / 0812 64556757

Kami yang ber Tanda Tangan :
1. Lely Zailani (HAPSARI)
2. Dinta Solin (Dir.Eks.Pesada)
3. Wina Khairina (Women Human Rights Defender / HaRI)
4. Rurita Ningrum (FITRA Sumut)
5. Rusdiana (Bitra Indonesia)
6. Desy Veronika N Barus (BKP Kelas II Medan)
7. Amee Adlian (Cangkang Queer). 8. Lusty Ro Manna Malau (Perempuan Hari Ini)
9. Muchrizal Syahputra (Human Righ’s Defender)
10. Ivo Nilasari (AAI Sumut)
11. Amin Multazam (KontraS Sumut)
12. Juniartti Aritonang (Bakumsu)
13. Diana Saragih
14.LBH APIK medan
15. Oslan Purba (Individu)
16. Citra Hasan (Sirkam)
17. Meiliana Yumi (Perempuan AMAN Sumut)
18. Dana P. Tarigan (Walhi Sumut)
19. Lia Anggia Nst (FJPI Sumut)
20. Delima Silalahi (KSPPM)
21. Yusriwiati Yose (individu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *