Dadang Darmawan : Memajukan Bangsa Berawal dari Pendidikan Moral

MEDANHEADLINES. COM , Rantauprapat – Pendidikan moral menjadi hal utama yang harus ditekankan dalam usaha memajukan bangsa. Musababnya, pendidikan moral menjadi benteng utama seseorang dalam bersikap dalam berkehidupan.

Hal tersebut seperti disampaikan akademisi asal Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Fisip USU, Dadang Darmawan Pasaribu
“Kalau kita ingin memajukan bangsa, pendidikan moral yang utama. Kalau tidak, maka kita tunggu kehancuran bangsa,” ujar Dadang saat berdiskusi di Rantauprapat pada Senin, 25 Maret 2019.

Dadang menjelaskan jika kehancuran bangsa yang dimaksud adalah munculnya para pejabat negara yang hanya mengutamakan kepentingan pribadi. Sementara kepentingan masyarakat luas justru ditelantarkan.

Begitu pun akan muncul pejabat negara yang miskin dengan budaya malu. Terlebih dalam kontestasi politik seperti sekarang, semuanya merasa mampu menjadi wakil rakyat. Meski konsep demokrasi memberikan akses seluas-luasnya, namun pemahaman atas apa yang diwakilkannya haruslah mumpuni.

Hingga tidak aneh melihat banyak wakil-wakil rakyat yang diharapkan menjadi penghubung suara masyarakat, justru terjerat dengan berbagai kasus karena keserakahan pribadi dan kelompok. Pun demikian, masih banyak ditemui dalam setiap kontestasi politik, orang yang tidak belajar dari pengalaman tersebut.

Dadang mengatakan harusnya kita mampu sedikit banyak berkaca dari cerita didalam buku Bushido Inazo Nitobe.
“Di Jepang itu, ibaratnya dimasa peperangan itu ada ksatria yang ditangkap musuh, lebih baik dia mati bunuh diri. Dibandingkan harus membocorkan rahasia negara. Dalam konteks positif, ini harus menjadi contoh bagi kita,” lanjut Dadang yang juga menjadi pengajar di Universitas Medan Area tersebut.

Semangat ksatria tersebut dianggap Dadang yang terus dijaga oleh mayoritas masyarakat Jepang, termasuk pejabatnya. Terlihat dari banyak pejabat negara yang mengundurkan diri karena kesalahan bawahannya.

Pimpinan di Jepang menganggap apa yang dilakukan bawahan merupakan tanggungjawabnya. Semangat dan prinsip demikianlah yang harusnya dipegang pemangku kepentingan di Indonesia.

Dadang juga mencontohkan penerapan budaya malu seperti bermain sepak bola. Jika ada seorang pemain bola sudah tidak sanggup bermain lagi, maka si pemain akan minta diganti karena malu tidak dapat berkontribusi maksimal. Karena bagi mereka, kepentingan bersama perihal kemenangan merupakan yang utama.

Namun sayangnya, budaya demikian yang tidak banyak dijumpai pada tokoh-tokoh politik di Indonesia.
“Di politik Indonesia tidak seperti itu. Malah ada yang sudah 15 hingga 20 tahun, tapi masih terus nafsu berpolitik. Padahal belum tentu kontribusi besar bagi masyarakat,” ungkap Dadang.

Ihwal itu, perlunya pendidikan akhlak semenjak dini untuk memupuk prinsip ksatria dan semangat kebersamaan tersebut ditengah-tengah masyarakat.
“Sekolah terbaik adalah keluarga. Semua tindakan orang tua menjadi pembelajaran. Terkhusus yang harus dipupuk semenjak dini itu tentang akhlak. Agar setiap tindakan saat seseorang sudah dewasa, tetap sesuai dengan dengan norma-norma kebaikan,” sebut Dadang. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *