Hinca Sebut Aerotopolis Bandara Kualanamu Masih Terganjal Mafia

MEDANHEADLINES.COM, Medan -Sejak Kualanamu diresmikan Maret 2014 lalu, wacana Aerotopolis Bandara Kualanamu di Kabupaten Deli Serdang sudah didengungkan, Namun hingga kini Perkembangan dari wacana tersebut sangatlah lamban

Hal ini mendapat tanggapan dari Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Hinca IP Pandjaitan, yang berencana untuk mengangkat kembali wacana itu ke permukaan.

Menurutnya wacana ini harus ditindaklanjuti karena jika Kualanamu bisa menjadi Aerotropolis maka akan membawa perubahan signifikan di Sumatera Utara.

Hinca juga menduga lambatnya wacana ini berkembang karena adanya kepentingan besar sehingga Aerotropolis itu belum juga dilaksanakan

“Aerotropolis Masih terganjal Mafia,” kata Hinca di Kota Medan, Jumat (7/12).

Dari berbagai sumber menyebut, Aerotropolis adalah kota dimana tata letak, infrastruktur, dan ekonomi berpusat pada bandara. Seperti konsep kota metropolitan, bandara sebagai pusat aerotropolis juga memiliki kawasan pinggir kota (suburban) yang terhubung oleh infrastruktur dan transportasi massal.

Konsep ini pertama kali dikemukakan seniman asal New York Nicholas Desantis pada 1939 silam. Kemudian dikembangkan lagi oleh John D Kasarda pada 2000.

Aerotropolis biasanya dilengkapi industri manufaktur, e-commerce, telekomunikasi dan logistik, hotel, gerai ritel, pusat entertainment dan exhibition. Selain itu harus ada ruang perkantoran bagi para pebisnis yang sering bepergian melalui bandara atau terlibat dalam perdagangan global. Di samping itu, aerotropolis juga dilengkapi pusat perdagangan grosir serta sarana transportasi yang terintegrasi.

Soal mafia yang disebut Hinca bisa jadi memang tidak menginginkan aerotropolis berkembang di Sumut. Karena jika Kualanamu pusat bisnis (khususnya penerbangan), maka bandara disekitarnya bisa tutup.

Contohnya saja Changi Airport di Singapura dan Bandara Kuala Lumpur. Selama ini, pesawat dari Eropa akan transit untuk mengisi bahan bakar di Changi Airport setelah terbang 13 jam.

Sementara itu, jika Kualanamu makin berkembang dan menjual bahan bakar, akan terjadi banyak perubahan. Karena jaraknya hanya 10 jam dari Eropa. Sehingga pesawat akan memilih menhgisi bahan bakar di Kualanamu.

“Jadi kalau di Kualanamu jualan bahan bakar saja bisa hidup,” ungkap laki-laki 54 tahun itu.

Dia mencontohkan Bandara di Cengkareng. Dengan trafik yang cukup padat, mereka menjual bahan bakar yang banyak. Namun tidak mungkin pesawat dari Eropa melandas di sana. Karena jaraknya yang terlalu jauh.

Kualanamu dibangun pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Saat itu anggaran negara yang digelontorkan 5,4 triliun.

Hinca memprediksi, aerotropolis Kualanamu bisa meningkatkan perekonomian di Sumut hingga tiga ribu persen. Sehingga memang seperti keharusan pemerintah harus menggarap itu secara berkesinambungan.

“Kalau pemerintah Sumut tidak peduli, maka lewatlah itu,” ungkapnya.

Kualanamu sangat layak dijadikan aerotropolis. Mulai dari geografis yang dekat dengan laut, hingga lahannya yang sangat luas. Bahkan bisa menjadi HUB Internasional di sisi barat Indonesia.

Belum lagi dari sisi kepariwisataan. Aerotropolis juga bakal mendukung destinasi wisata yang bisa menghasilkan pendapatan daerah Sumut.

“Ke pelabuhan dekat, kereta api juga ada. Ini satu-satunya di Indonesia, kereta api terhubung dengan bandara secara langsung,” ujarnya.

Namun Hinca mengkritik pemerintah yang juga membuat peraturan soal Bandara Kualanamu. Misalnya Peraturan Daerah tentang keselamatan dan keamanan Bandara Internasional.

“Ini diduga karena permainan mafia juga. Sehingga perda itu tidak ada. Mafia itu gak ingin Kualanamu itu jadi semakin besar. Kalau ini dia jadi, maka bisnis bahan bakar pesawat akan ada di Sumut. Singapura dan Kuala Lumpur berpotensi tutup,” jelasnya.

Dia berharap pemerintah, khususnya Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi bisa melirik kembali aerotropolis Kualanamu. Sehingga bisa mendorong juga masyarakat untuk mendukungnya. Karena begitu besar dampaknya dengan perkembangan ekonomi masyarakat.

“Jadi kalau mau Sumut sejahtera, Kualanamu harus jadi aerotropolis,” tandasnya.

Dalam waktu dekat Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (BADKO HMI) Sumut juga akan menggelar seminar yang akan membahas soal aerotropolis. Ketua Umum Badko HMI Sumut Alwi Hasbi Silalahi menjelaskan seminar ini dilakukan untuk mengingatkan kembali soal konsep aerotropolis.

“Kami tetap mendorong bagaimana pembangunan Sumut ini bisa semakin maju. Kami juga pengin pemerintah ini bisa kembali bergiat,” katanya.

Aerotropolis harus jadi titik kebangkitan Sumut lagi. Sehingga Sumut bisa menjadi provinsi yang diperhitungkan.

“Kalau bukan dari kita siapa lagi. Aerotropolis jadi titik penentu kemajuan Sumut,” Pungkasnya. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *