Ibu Penumpang Lion Air Asal Tapteng : Tuhan, Pertemukan Aku Dengan Anakku

Foto : Ibu Korban Jatuhnya Pesawat Lion Air

MEDANHEADLINES.COM, Tapanuli Tengah – Perempuan tua itu masih terlihat lemas terduduk bersandar di dinding rumahnya. Beberapa kerabat masih tetap setia duduk bersamanya untuk memberikan penghiburan.

Di wajahnya, masih tersimpan duka dan kesedihan. Isak tangis kerabat, dan keluarga pun masih jelas menyelimuti rumah perempuan tua itu di Gang Saroha, Kelurahan Lubuk Tukko, Kecamatan Pandan, Tapanuli Tengah (Tapteng).

Perempuan tua itu adalah Polorina br Hutauruk (62), ibu dari Rudi Roni Lumbantoruan salah satu penumpang pesawat naas itu.

Ia menuturkan, sebelum keberangkatan anaknya pada Minggu (28/10) lalu, ia sempat bermimpi menemukan anting-anting emas. Namun, sebagian anting-anting tersebut terjatuh ke dalam debu. Ia juga mengenang Rudi sempat mencium dan mengelus kepalanya sebelum berangkat.

“Di hari Minggu i do au marnipi, mulak gareja, siang do on (Di hari Minggu itu aku bermimpi). Marnipi au dapotan emas, mas on kurabu gelleng-gelleng madabu tu horbuk (Mimpi dapat emas berbentuk anting kecil-kecil dan jatuh ke debu), hu papungu ma, dapot do deba, deba do dang dapot madabu tu horbuk on (kukumpulkan, dapatlah sebagian, sebagian lagi tak dapat dan jatuh ke debu), ho ma amang mas hi da (kaulah anakku emasku itu), homa mas hi da hasian (kaulah emas itu anak kesayanganku),” ucap Polorina sambil memeluk foto anaknya saat wisuda.

Tidak hanya itu, dengan berurai air mata, Polorina juga mengisahkan sebelum Rudi berangkat hendak pulang ke tempatnya bekerja di Bangka Belitung, Rudi sempat mengajak dirinya ke kebun mereka dan meminta agar dibawakan nasi yang banyak.

“Na di hari kamis i, diajak anak hon do hami tu kobun (Hari Kamis, diajak anakku ininya kami ke kebun), boan indahan godang da umak (bawa nasi ya mak). Belikkan ikan ninna (belikan ikan katanya), mangan disan hami (makan di sana kami), gogo hian mangan (kuat sekali makan), martamba do ibana (tambah makannya dia),” kisah Polorina.

“Ima partinggal mu tondi hu? Gelleng nai boru mi ditadinghon ho, anak mi si Unggul i. Dang tarbereng au amang gambar mon, timbo nai ho ito (Itu lah yang kau tinggalkan? Begitukah kepergianmu ? Masih kecil anak perempuanmu ini kau tinggalkan. Anakmu si Unggul ini. Nggak terlihat ku lagi fotomu ini, tinggi sekali kau nak, “jerit Polorina pilu sembari terus memandangi foto Rudi yang ia pegang.

Matanya terlihat sembab. Sejak mendengar kabar duka itu, Porina hanya bisa menangis dan berdoa. Berharap keajaiban dan mukjizat dapat terjadi kepada anaknya.

“Bapak Quinsah, na didia do ho ito, ro maho ito bah. Maloja hian umak mon da, saborngin on dang modom au amang. Boratni parukkilan on Tuhan, patuduhon ma anak hi Tuhan, angkat ma imana san aek i (Bapak Quinsah, yang dimananya kau nak, datanglah nak. Sudah capek sekali ibumu ini, satu malam ini aku tidak tidur Nak. Berat sekali cobaan ini Tuhan. Tunjukkan anakku itu Tuhan. Angkatlah dia dari dalam air itu),” isak Polorina.

Sebelum keberangkatan, Rudi yang dikenal anak yang baik dimata keluarga masih sempat mengusap kepala Polorina dan berpesan untuk menjaga kesehatannya agar tidak jatuh sakit.

“Terakhir on di umma anak hon dao au, nian asal ro on di umma on do au asal mulak, dihapus-hapus ulu hi, unang ho marsahit da uma inna (Terakhir ini diciumnya aku. Saat pulang selalunya aku dicium. Dielus-elus kepalaku. Jangan sakit kau ya Omak, katanya,” tutur Polorina.

Dalam doa, Polorina tak henti-hentinya meminta kepada Tuhan semoga dia dan anaknya dapat dipertemukan dalam keadaan sehat.

“Istri sama adiknya sudah berangkat ke Jakarta,” ucapnya.

Kita tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang dicintai. Dada serasa kosong. Separuh jiwa serasa tercabut. Apalagi kehilangan dalam peristiwa yang tidak bisa diprediksi. Apakah nyawa bisa diselamatkan atau tidak.

Kita, Polorina, keluarga dan kerabat hanya bisa bergumul dalam doa agar Rudi Lumbantoruan diberi keselamatan.

Kita hanya bisa ikut bersimpati dan menguatkan keluarga korban. Memanjatkan doa, semoga Tuhan mampu menolong dan memberikan mukjizat kepada penumpang JT 610 Lion Air. (hen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.