Lomba Lari Berpakaian Adat di Pesona Indonesia Synergy Run 2018

Foto : Warga berbusana adat Bali berlari sembari mengusung keranjang berisi dua kilogram pasir pantai saat mengikuti lomba kemerdekaan di Pantai Kuta, Bali, 17 AGustus 2017. ANTARA FOTO

MEDANHEADLINES.COM, Jakarta – Kementerian Pariwisata bekerja sama dengan Ikatan Alumni ITB akan menggelar ajang lomba lari bertajuk Pesona Indonesia Synergy Run 2018, pada 16 September mendatang. Perhelatan ini diharapkan ikut membantu mempromosikan 10 Destinasi Prioritas Pariwisata atau yang biasa disebut 10 Bali Baru.

Acara lomba lari itu ditargetkan akan diikuti oleh 2.500 orang.  “Nanti Kemenpar akan ada booth latar belakang foto 10 Bali Baru, sehingga para pelari bisa merasakan atmosfir di berbagai destinasi kelas dunia di sana,” kata Menteri Pariwisata Arief Yahya, dalam rilis yang diterima Tempo, Minggu, 9/9.

Ketua Panitia Penyelenggara lomba lari Abdul Bari mengatakan, Synergy Run 2018 sengaja digelar usai penyelenggaraan Asian Games 2018 yang sangat sukses. “Kami berharap Pesona Indonesia Synergy Run 2018 dapat menarik wisatawan dalam dan luar negeri, ikut lari, dan menikmati wisata Bali Baru yang mempesona,” kata Abdul Bari.

Event lari jalan raya (road running race) yang digelar bekerja sama dengan Indo Race ini memasuki tahun kedua dan mengangkat tema Berlari untuk Negeri  Mewujudkan 10 Destinasi Wisata Bali Baru dan Menjadi Bangsa Pemenang.

Ada 3 Kategori yang dilombakan , yakni 5K dan 10K lari normal, dan 5K Custom Run. Dalam kategori Custom Run peserta diharuskan mengenakan pakaian adat Nusantara. Jika peserta memakai atribut pakaian asal 10 Destinasi Bali Baru akan mendapat nilai lebih. Pendaftaran Synergy Run 2018 ditutup pada 14 September mendatang.

Lomba lari berhadiah total Rp 90 juta ini akan dimulai dan berakhir di halaman  Gedung Sapta Pesona Kantor Kemenpar.  Menpar Arief  Yahya menjelaskan 10 Bali itu adalah Danau Toba, Tanjung Kelayang, Tanjung Lesung, Kepulauan Seribu, Borobudur, Bromo-Tengger-Semeru, Mandalika, Komodo, Wakatobi, dan Morotai. (raj/tempo.co)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.