Warga Kampung Aur Mengaku Masih Terjajah Karena “Isu Buaya”, Rayakan HUT Kemerdekaan Tak Lagi di Sungai

MEDANHEADLINES.COM, Medan – Suasana di seputaran sungai Deli, Jalan Brigjen Suprapto, Kelurahan Aur, Kecamatan Medan Maimon, tampak tidak meriah seperti hari HUT RI tahun-tahun sebelumnya. Pasalnya, perayaan HUT RI ke 73 tahun ini warga yang menetap dibantaran Sungai Deli, tidak ada membuat perayaan di dalam sungai sepeti tahun-tahun sebelumnya.

Hal itu disebabkan warga khawatir dengan adanya “isu buaya” yang masih berkeliaran di sepanjang aliran Sungai Deli. Pun begitu, dengan rasa kecewa warga masih tetap membuat perayaan HUT RI dengan membuat beberapa perlombaan di dalam perkampungan.

Reza Anshori Caniago selaku Ketua Sanggar Perkasa mengatakan, kegiatan perayaan HUT RI seperti upacara bendera dan berbagai perlombaan diselenggarakan warga bantaran sungai Deli sejak dari tahun 2012 silam. Akan tetapi, di tahun ini warga tidak bisa membuat perayaan lagi di dalam sungai.

“Kenapa tahun ini kami tidak membuat kegiatan perlombaan di sungai, karena isu lepasnya beberapa ekor buaya di aliran sungai Deli, dan sampai saat ini kami tidak tau apakah buaya-buaya itu sudah ditangkap apa belum. Informasi terakhir yang kami dengar di Gang Nasional, ada satu ekor yang ditangkap, itupun yang berhasil menangkap warga sekitar,” kata Reza Anshori ketika diwawancarai wartawan di Kampung Aur, saat perlombaan berlangsung, Jumat (17/8) sore.

Hasil rapat warga, sambung Reza, kepala lingkungan mengatakan masih ada satu ekor buaya dengan ukuran satu badan manusia yang ada di perbatasan Sungai Babura dan Sungai Deli. Berdasarkan hasil rapat itulah, warga sepakat untuk tidak membuat perlombaan di sungai.

“Inilah kali pertama kami tidak membuat acara perlombaan di sungai. Kami sangat kecewa karena tidak bisa membuat perlombaan di sungai, seperti tahun-tahun sebelumnya. Dan kami warga bantaran sungai Deli, yang identik dengan perlombaan di sungai, hari ini seperti terjajah, kita bukan merdeka lagi, tapi terjajah dengan adanya binatang alligator itu,” ujar Reza.

Kekhawatiran warga juga terjadi setiap harinya, karena hampir semua warga yang ada disini menggunakan sungai untuk menyuci pakaian dan mandi. Akibat adanya isu kehadiran buaya itu, masyarakat menjadi takut untuk menyuci dan mandi di sungai.

“Harapan kami sebagai warga di bantaran sungai Deli, Pemerintah Kota Medan, untuk segera bertindak dengan turun langsung dan menyisir aliran sungai guna menangkap buaya-buaya itu. Karena sampai saat ini pemerintah belum ada bertindak, meskipun berita buaya itu sudah tersebar dibeberapa media cetak maupun online. Bukan itu saja, kami melalui kepala lingkungan juga sudah menyurati pemerintah terkait hal ini, tapi tetap saja belum ada tindakan,”terangnya.

Masih dikatakan Reza, perayaan hari HUT RI kali ini, warga membuat beberapa perlombaan tradisional, diantaranya, ada perlombaan makan kerupuk, lari batok, lari bakiak, masukan paku dalam botol, bola keranjang, masukan benang dalam jarum. Selain itu, lomba bawa gunduk pakai sendok, lomba tari jeruk, dan lain-lain.

“Tahun ini warga sangat kecewa, karena biasanya kita membuat perlombaanya di sungai. Dan kami tidak bisa memungkiri, primadona perlombaan 17 Agustus, itu adalah panjat pinang, tapi tahun ini tidak bisa kita buat di sungai. Sekali lagi, kami berharap kepada Pemerintah untuk mau turun langsung menyisiri sungai dan menangkap buaya itu. Agar warga disini tidak lagi cemas sehingga bisa berkreasi dan berinteraksi lagi di sungai Deli ini,” harapnya. (afd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.