MEDANHEADLINES.COM, Medan – Setelah dipastikannya Pasangan JR Sargih-Ance Selian tak dapat mengikuti pertarungan di Pilgubsu maka secara otomatis, Pilgubsu Sumut akan mempertemukan pasangan Edy-Ijeck (Eramas) dan Djarot-Sihar( DJOSS) secara head to head.
Dalam situasi tersebut, pengamat dan analis politik dari Indonesian Public Institut (IPI) Jerry Massie menilai, pemenang pada pilgub sumut akan bergantung seberapa maksimal mesin partai bekerja memenangkan pasangan calon.
“Kalau saya melihat situasi politik sumut, pasca tidak majunya pak JR Saragih sebagai calon, menjadi semakin dinamis. Secara praktis tentu pertarungan kedepan akan head to head, nah dalam situasi demikian, faktor paling utama yang akan menentukan siapa pemenang, tergantung seberapa maksimal mesin politik partai mampu bekerja untuk pasangan calon,” katanya
Dia menambahkan, bila melihat kekuatan yang ada di legislatif, maka kekuatan partai penguasa itu ada pada pihaknya pasangan Edy Rahmayadi dan Musa Rajekshah. Dengan kekuatan Golkar 17 kursi, Gerindra 13 kursi dan PKS 9 kursi. Sementara Partai pengusung pasangan Djarot-Sihar yakni PDIP 16 kursi dan partai pengusung JR Saragih yakni partai Demokrat ada 14 kursi.
“Kalau kita mengukur kekuatan dari partai pengusung, tentu secara Parlemen power, maka pasangan pak edy-ijeck sangat ungggul. Apalagi jika afiliasi partai mampu membawa Demokrat masuk kedalam koalisi edy-ijeck, setelah JR Saragih tidak jadi maju, tentu peluang menang sangat besar, jika partai benar-benar bekerja,” ungkap Jerry.
Sementara, lanjut Jerry, jika Demokrat akan berlabuh ke Partai PDIP maka persentase dari pertarungan ini akan menjadi 52%-48%.
“Sebaliknya jika Demokrat memutuskan bergabung ke kubu PDIP, maka pertarungan akan diprediksi menjadi 52%-48%. Mengapa saya katakan demikian, kemenangan edy masih diperkuat oleh sosio politik. Banyak dukungan dari komunitas pecinta sepak bola mengarahnya pada pak edy,” Pungasnya. (red)












