BMKG Prediksi Indonesia Akan Masuki Musim Kemarau Mulai April Mendatang

MEDANHEADLINES.COM –  Dari Pengamatan yang dilakukan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Indonesia akan mulai memasuki musim kemarau pada April mendatang.

“Kita bisa lihat April ini curah hujan semakin rendah, dalam satu bulan bisa mencapai 55 milimeter terlihat mulai di daerah Nusa Tenggara Timur. Sementara April ini di wilayah lain masih ada yang mengalami hujan mencapai sampai 150 milimeter per-bulan,” ujar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati saat konfrensi pers di Gedung C BMKG, Jalan Angkasa, Kemayoran, Jakarta Pusat

Dwi Menjelaskan, di awal Mei zona kemarau semakin bertambah, dan puncaknya terjadi pada Agustus 2018 dengan curah hujan yang  diperkirakan 0 milimeter atau tidak ada curah hujan sama sekali khususnya di daerah Jawa Timur dan NTT.

“Agustus pun ini cokelatnya semakin gelap kita lihat Jawa Timur dan NTT semakin gelap, itu curah hujan bisa sampai 0 itu bisa terjadi artinya tidak hujan sama sekali. Sehingga Agustus ini semakin luas dan kering. Jadi, meluas kemarau itu diawali Juni dan puncaknya Agustus,” imbuh Dwi.

BMKG memperkirakan curah hujan dengan intensitas 400 milimeter hingga 500 milimeter mulai terjadi di beberapa daerah pada bulan September. Namun pada bulan September tidak semua wilayah sudah mengalami curah hujan yang normal.

Sementara itu kemarau akan tetap bertahan hingga Oktober 2018 di wilayah selatan Indonesia khususnya di Pulau Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Papua.

“Oktober ini sudah mencapai curah hujan, sudah mulai, tetapi nampaknya di Pulau Jawa dan Nusa Tenggara ini kemaraunya masih bertahan sampai di wilayah Indonesia bagian selatan terutama Jawa, Sulawesi, dan Papua bagian selatan,” tutur Dwi.

Pada bulan November musim kemarau terlihat semakin berkurang dan curah hujan sudah mulai meningkat di daerah Jawa. Sedangkan, di bulan Desember curah hujan sudah kembali meningkat hingga mencapai 500 milimeter.

“Akhirnya Desember kita lihat curah hujan semakin tinggi yang mencapai 500 milimeter semakin meluas di Kalimantan, Papua 300 milimeter hampir di seluruh Indonesia,” jelas Dwi.

Sementara itu Deputi Klimatologi BMKG Herizal menambahkan, tidak ada potensi terjadinya El-Nino pada musim kemarau tahun 2018 ini. Ia menegaskan kemarau ini dapat dikatakan dalam tingkat aman.

“Musim kemarau ini masih dikatakan kondusif dan masih bisa dilakukan pertanian, untuk tahun ini pengaruh eksternal banyak di pengaruhi la nina lemah. Jadi tidak ada El-Nino,” tambah Herizal.

BMKG meminta masyarakat mengantisipasi musim kemarau yang berpotensi berakhir pada bulan September tahun 2018. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.