MEDANHEADLINES.COM – Meskipun Indonesia memiliki lahan yang luas dan subur, namun Serbuan singkong Impor masih masuk ke Indonesia.
Menanggapi hal itu, Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP), Agung Hendriadi mengatakan pada dasarnya produksi singkong di Indonesia sudah memenuhi kebutuhan nasional, Namun masih takluk bila dibandingkan dengan singkong import karena beberapa faktor.
“Kalau saya lihat produksi kita memenuhi kebutuhan nasional. Cuma kenapa singkong impor lebih murah? Karena produktivitas mereka (negara lain produsen singkong) tinggi,” jelas Agung.
Ia juga menjelaskan, produktivitas negara Thailand dan Filipina misalnya, dalam satu hektar lahan bisa mencapai 40-50 ton singkong. Sedangkan, produksi Indonesia per hektarnya hanya 25 ton.
“Satu hektar kayak Thailand dan Filipina bisa 40 sampai 50 ton. Sedangkan kita 25 ton/hektar. Mana bisa bersaing,” sambung Agung.
Lebih lanjut, ia menjelaskan akan menggarap kajian mengenai harga acuan singkong dan tidak akan menutup atau membatasi impor singkong.
“Tetap dibuka impor dari luar. Sementara kita masih menggarap kajian harga acuan ya untuk singkong,” katanya.
Kajian ini dilakukan bersama dengan Kementerian Perdagangan dan diharapkan dapat memberikan keuntungan bagi petani singkong. Pasalnya, harga singkong dinilai sering mengalami kejatuhan.
“Singkong kadang jatuh harganya Rp 600-700. Aturan ini nggak lama lah keluarnya paling 2017 akhir sudah muncul,” pungkasnya.(red)












