Tanpa Bintang Penuntun, Kemanakah Kaki Melangkah?

MEDANHEADLINES,Semau tahu ideologi bangsa Indonesia adalah Pancasila. Inilah konsensus, cita bersama, dan kesepakatan dari seluruh elemen. Inilah suatu cita sekaligus keyakinan yang dipersembahkan bangsa Indonesia tidak hanya untuk dirinya tapi juga bagi dunia. Inilah ideologi yang di desain untuk menyatakan penolakan terhadap penjajahan dimuka bumi (kolonialisme), penolakan terhadap segala aktifitas penghisapan manusia atas manusia, penolakan terhadap semua tindak kekejian dan kemungkaran. Ideologi Pancasila menolak dengan tegas penjajahan yang tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan keadilan. Bahkan Bung Karno sangat yakin, bahwa Pancasila adalah harta termahal yang dimiliki bangsa Indonesia. Pancasila yang akan menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa mercusuar dunia.

Bung Karno yakin bahwa dengan memiliki Pancasila, bangsa Indonesia memiliki bekal semangat yang optimistik, semangat yang berkobar-kobar, tidak lagi minder dan rendah diri ditengah bangsa lain, dan penuh percaya diri sekaligus pantas menjadi pemimpin dunia. Pancasila bagi Bung Karno cukup menjadi modal dasar bagi bangsa Indonesia untuk menjadi penerang dunia, menggantikan ideologi lain yang menindas ummat manusia.

Pancasila jelas-jelas tak bisa dipisahkan dari Proklamasi dan dari negara Republik Indonesia, bahkan tak bisa dipisahkan dari perjuangan rakyat Indonesia yang telah melalui perjuangan dan penderitaan berpuluh-puluh tahun (Lihat, Sudibyo, Soekarno : Pidato peringatan harlah Pancasila 050658 di Istana Negara). Berhasil atau tidak suatu perjuangan kata BK kuncinya adalah apakah kita dapat menyatukan rakyat kita dari sabang sampai merauke? Perjuangan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia adalah bertujuan untuk menggugurkan imperialisme dan mengibarkan sang merahputih dengan di dasarkan atas persatuan rakyat.

BK mengatakan (mengutip perkataan seorang pemimpin besar) bahwa persatuan nasional hanya dapat dipelihara kekal dan abadi jikalau persatuan nasional itu di dasarkan di atas satu dasar yang lebih luas daripada bangsa itu sendiri. Nilai ketuhanan yang maha esa, perikemanusiaan, kebangsaan yang bulat, kedaulatan rakyat, keadilan sosial sebagai suatu geloof sebagai suatu kepercayaan (iman), mestilah menjadi sebagai satu arah kepercayaan dari satu bangsa diatas yang lain.

Pentingnya kepercayaan bagi suatu bangsa dijelaskan oleh konfutsu. Dalam satu kesempatan, seorang murid kon futsu pernah bertanya kepadanya, guru..apakah syarat suatu bangsa menjadi kuat guru? Kon futsu menjawab syaratnya ada tiga yaitu tentara yang kuat, makanan dan pakaian yang cukup, dan kepercayaan (iman/geloof). Murid bertanya lagi, kalau dari ketiganya harus ada satu yang dibuang manakah yang dibuang terlebih dahulu?  Kon futsu menjawab yang boleh ditinggalkan terlebih dahulu adalah tentara yang kuat. Murid bertanya lagi, kalau dari keduanya harus ada satu yang dibuang, yang manakah akan dibuang guru? Kon futsu menjawab makanan dan pakaian yang cukup bisa ditinggalkan. Makanan kurang dan pakaian seadanya tak apa, tapi syarat yang ketiga kepercayaan (geloof) tak dapat ditanggalkan. A nation without faith can not stand,  bangsa tanpa keyakinan (belief, geloof, iman) tidak akan bisa berdiri (rubuh).

Impian Bangsa Indonesia

Masyarakat seperti apakah yang kita cita-citakan terwujud di tengah bangsa Indonesia? Sesungguhnya cita-cita semua bangsa adalah untuk membahagiakan seluruh rakyatnya. BK selalu mengungkapkan bahwa masyarakat yang kita hendak cita-citakan adalah masyarakat yang adil-makmur, teratur, tentram, aman damai sejahtera (gemah ripah lohjinawi, tata tentram kerta rahardja). Lebih jauh lagi, yaitu suatu masyarakat yang bekerja seia-sekata, jauh dari sifat dengki, menghindari perbuatan jahat, orang berdagang siang dan malam, tidak ada jalan yang sulit, bebek ayam dan ternak pagi keluar ke tempat penggembalaan, sore kembali ke kandangnya masing-masing (“para kawula iyeg rumagang ing gawe, tebih saking cecengilan, adoh saking laku jati, wong kang lumaku dagang rinten dalu tan wonten pedote, labet saking tan wonten sangsajan ing margi, bebek ayam rajakaya, enjang medal ing pangonan surup bali ing kandange dewe-dewe”). Demikianlah penjelasan BK pada amanat penutupan seminar Pancasila 200259 di gedung negara Yogyakarta.

Tantangan Bangsa

Hari ini, sebagai suatu bangsa kita menghadapi tiga tantangan sekaligus yaitu tantangan internasional, tantangan nasional dan tantangan pribadi. Tantangan internasional adalah kerjasama internasional yang mengarah pada kerusakan total/global (total destruction), dan keadilan masyarakat global yang mengarah pada penghisapan manusia atas manusia. Tantangan nasional adalah apakah kita tetap setia kepada proklamasi negara kesatuan atau tidak, apakah masyarakat adil dan makmur akan terwujud atau tidak? Tantangan pribadi kita adalah apakah generasi muda (pemuda/pemudi) akan berguna bagi diri sendiri, bagi masyarakat, bagi negara atau tidak?

Situasi Nasional

Bangsa Indonesia kini kehilangan ideologinya (kepercayaannya yang luhur/Pancasila telah digerus oleh ideologi Liberal, melalui amandemen UUD45 1234). Tanpa ideologi, terjadi kerusakan moral/mental bangsa Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan munculnya berbagai situasi darurat di tengah-tengah masyarakat saat ini seperti : Darurat Narkoba, Darurat Kerusakan SDA, Darurat Pornografi/pergaulan bebas/seks bebas, Darurat Kebangsaan (muncul konflik sektarian/SARA), Darurat Kepemimpinan (tidak percaya pada pemimpin, tidak percaya pada sistem). Hari ini juga, umumnya para generasi muda hari ini kehilangan orientasi kebangsaan. Orientasi yang tumbuh kembang dalam diri generasi muda adalah orientasi kepentingan pribadi yang berlebihan. Hilangnya orientasi ideologis dari kesadaran generasi muda tidak lain disbebabkan kalangan generasi mudan tidak lagi mengenal Pancasila, apalagi menjiwainya sebagai pandangan hidup.

Penutup

Setelah 71 tahun merdeka, banyak cita para pejuang kemerdekaan maupun cita konstitusi yang masih jauh dari terwujud baik dalam konteks pembangunan jiwa (mental) maupun pembangunan raga (fisik). Pemerintah Negara Indonesia belum sepenuhnya melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Sebaliknya justru situasi ipoleksosbud bangsa Indonesia semakin menunjukkan bukti keterpurukan dan kerusakan.

Meski solusi coba diproduksi dan diimplementasikan tahun demi tahun, namun masalah ipoleksosbud bangsa justru semakin bertambah parah. Pancasila tidak lagi menjadi bintang penuntun bagi bangsa Indonesia, melainkan yang terjadi saat ini adalah orang buta memimpin orang buta “the blind man leading the blind”. Tanpa penuntun bangsa Indonesia telah berada ditubir jurang! Kini segalanya menjadi tidak mudah, setiap hari solusi menyelesaikan masalah bangsa selalu dikemukakan, namun apakah solusi tersebut mampu menuntun kita meunuju cita bangsa yang adil, makmur dan sejahtera? Dalam suasana kegelapan malam, tanpa cahaya bintang penuntun kemanakah kaki kita akan melangkah?

penulis, Dadang Darmwan, M.Si

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.