LAUTAN MASSA, SALAM DAMAI INDONESIAKU

MEDANHEADLINES, Lautan massa ummat Islam sudah mulai meramaikan Jakarta, cuaca terlihat cerah dan ramah. Mudah-mudahan unjuk rasa berjalan aman dan damai. Bagi yang suka mencereweti aksi ini, lebih baik lah mendoakan saja, insya Allah berjalan lancar.

Mari menahan diri dari menambah distorsi informasi, makin memperkeruh situasi yang memang sudah keruh. Gelombang massa tak akan bisa tercegah lagi, jadikan saja ini bagian dari eksperimen demokrasi kita, plus dan minus. Toh…pilar-pilar demokrasi kita, partai-partai, eksekutif dan legislatif, ormas-ormas besar dan mapan, NGO masih juga bereksperimentasi menemukan jati diri demokrasi Indonesia.

Buktinya, demokrasi kita masih etalase kekuasaan belaka, kesejahteraan sosial masih juga cita-cita. Jadi, wajar saja lah bila massa arus bawah pun berdialektika menemukan jati diri kebangsaannya. Boleh ditanyakan juga kepada semua elemen bangsa, kelompok siapa yang sudah paling berbhineka tunggal ika, yang paling toleran dan paling demokratis.

Kayaknya semua masih taraf belajar, tak ada yang berhak mengklaim paling pintar dan seolah sudah khatam. Jadi, sekali lagi, beri lah kesempatan kepada ummat Islam yang berkumpul di Jakarta mau pun di kota-kota lain di Indonesia, 4 untuk turut belajar juga, menemukan keislaman dan keindonesiaan mereka. Kalau pun mereka anti Ahok, setidaknya mereka masih bisa menahan diri untuk tidak anti suku dan agama tertentu. Setelah ini, mari lah semua berkaca diri, baik pemimpin politik mau pun pemimpin agama, pemimpin formal mau pun informal. Banyak yang tidak nyambung antara arus atas dan arus bawah, antara apa yang diwacanakan dan diperdebatkan para elit dengan aspirasi arus bawah, antara apa yang disebut sebagai pembangunan dan rasa keadilan masyarakat, antara demokrasi politik dan keadilan ekonomi, antara upaya penegakan hukum dan rasa cemas ketidakpastian masa depan.

Bangsa ini berada di simpang jalan, hari-hari ini kita dihadapkan dengan segudang tantangan. Cuma jiwa yang lapang yang bisa mengatasinya. Mudah-mudahan setelah era ini, muncul pemimpin yang lebih mencerahkan, menjadi milik semua orang, membawa Indonsia menuju kejayaan

Penulis, Ahmad Taufan Damanik

Dosen FISIP USU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.