Sumut  

Menjajal Konservasi Abal-abal dan Manuskrip Batak

MEDANHEADLINES.COM , Medan – Tidak banyak lagi yang mengetahui soal Abal-abal. Peti mati khas Batak yang sarat makna filosofis.

Dalam istilah lainnya, Abal-abal disebut Parmualmualon. Peti kali ini bukan seperti yang biasa terlihat. Melainkan punya makna filosofis yang mendalam.

Di Museum Negeri Sumatera Utara, terdapat dua peti mati khas Batak. Disebut Abal-abal Hau Sada. Karena dibuat dari satu batang kayu utuh yang dipahat. Terdiri dari dua bagian, bagian penutup dan bilik untuk jenazah.

Sayangnya, kondisinya sudah rusak. Karena usianya yang diprediksi sudah di atas seratus tahun. Museum Negeri tengah melakukan konservasi. Dua peti mati itu mulai diperbaiki. Tentunya dengan menjaga kualitas bahan aslinya.

Di bagian kepala peti, terdapat ukiran gorga dengan kombinasi warna merah, hitam dan putih. Warna yang punya makna filosofis mendalam bagi etnis Batak. Bentuknya seperti perahu. Konon dalam kepercayaan Batak Kuno, perahu itu yang membawa arwah almarhum ke surga.

Biasanya, Abal-abal dibuat dari pohon nangka, jabi-jabi atau jenis pohon bergetah, pohon enau. Dalam proses pembuatannya, setiap tahapannya pasti menggunakan ritual. Abal-abal tidak menggunakan paku dalam pembuatannya. Antara penutup dan bilik jenazah hanya diikat menggunakan rotan.

Abal-abal Hau Sada sudah sangat langka. Dalam kurun waktu 50 tahun terakhir, hanya almarhum Sutan Raja Derianus Lungguk (DL) Sitorus yang menggunakannya. Pengusaha asal Sumut itu meninggal dunia, 3 Agustus 2017. Dia meninggal dalam penerbangan dari Jakarta menuju Medan. Abal-abal milik Ayah Sihar Sitorus itu sudah dipesan jauh hari sebelum dia meninggal.

Kelangkaan Abal-abal Hau Sada bukan tanpa sebab. Ternyata tak sembarang orang yang bisa memakainya. Harus memenuhi persyaratan khusus.

“Pada zaman dahulu, yang menggunakan abal-abal, itu adalah orang terhormat, berekonomi cukup, punya status sosial. Bisa Saur Matua dan malah Mauli Bulung. Kalau Sari Matua, masih ada di antara anaknya ini belum punya keturunan. Kalau Saur Matua anaknya sudah punya keturunan semua. Kalau Mauli Bulung itu adalah derajat paling tinggi di Orang Batak. Sudah didapatnya kriteria Saur Matua dan masih hidup semua keturunannya. Tidak ada yang meninggal. Dan semua berkecukupan. Itulah Mauli Bulung. Dia juga tidak punya cacat moral secara sosial,” jelas Kepala Pusat Dokumentasi dan Pengkajian Kebudayaan Batak Universitas HKBP Nommensen (UHN) Medan Manguji Nababan disela Diskusi Kelompok Terfokus Konservasi Abal-abal dan Naskah Bambu di Museum Negeri Sumut beberapa waktu lalu.

Selain soal Abal-abal, pelestarian juga dilakukan terhadap manuskrip Batak. Karya tulis tangan yang juga berisi makna mendalam. Bukan dikertas, manuskrip itu ditulis dengan media bambu, kulit kayu dan tulang kerbau.

Namun manuskrip ini kian dilupakan. Khususnya di kalangan sekarang. Dianggap sudah kuno dan jumlahnya yang juga sangat terbatas untuk dipelajari.

Manguji, punya komitmen kuat melestarikan pustaha Batak. Di dalam diskusi itu, Manguji juga sempat menunjukkan empat buah naskah bambu. Manuskrip batak yang diukir pada bilah bambu, peninggalan para leluhur adat.

Naskah Bambu hanya salah satu dari putaha lainnya. Ada juga naskah yang ditulis dengan media kulit kayu hingga tulang kerbau.

“Saat ini manuskrip itu lebih banyak berada di museum-museum yang ada di eropa,” ujar Maguji.

Naskah-naskah ini berisikan narasi yang sarat makna tentang bagaimana kehidupan orang Batak. Isinya mulai dari soal ramuan obat-obatan, nujum tentang menentukan hari baik atau buruk, bahkan hingga yang berbau magis.

Manuskrip Batak yang ada menunjukkan jika budaya menulis etnis Batak sudah ada sebelum kolonial masuk. Namun manuskrip ini kian hilang sejak missionaris Kristen masuk. Saat itu, berbagai naskah yang ada dianggap produk kekafiran. Dianggap bertetangan dengan ajaran agama. Lantaran ditulis oleh para Datu yang diartikan sebagai dukun.

Setiap kali ke Eropa, di beberapa museum besar di sana, Manguji selalu pulang dengan oleh-oleh digitalisasi koleksi manuskrip Batak. Itu salah satu bentuk upaya konservasi yang dilakukannya. Selain tetap mengumpulkan yang ada di dalam negeri.

“Kita sangat jauh standar penanganannya untuk satu koleksi. Lebih bagus di sana (di museum luar negeri),” ujarnya.

Diskusi soal Abal-abal dan Naskah Bambu sudah dilakukan beberapa kali. Sebelum puncaknya di Museum Negeri, Pemerintah sudah menggelar diskusi terbatas di Balige, Kebupaten Toba. Mereka mengumpulkan informasi dari berbagai tokoh adat di Toba.

“Kajian ini akan menjadi deskripsi koleksi museum m. Sebagai informasi untuk masyarakat luas,” ujar Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Museum Negeri Sumut Deny Elpriansyah.

Nantinya, kesimpulan informasi akan dibukukan. Dia berharap buku itu bisa berguna bagi kalangan millenial untuk menjaga budaya leluhur. “Ke depan kita harus membuat kajian yang lebih mendalam lagi. Sehingga referensi kita semakin banyak,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.