MEDANHEADLINES – Banyaknya kasus kekerasan yang dialami tenaga kerja Indonesia (TKI) membuat Kementerian Koordinator Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) RI angkat bicara.
“Sebentar lagi moratorium pengiriman TKI ke 19 negara di Timur Tengah akan selesai, diharapkan minat warga menjadi buruh migran berkurang,” kata Deputi Bidang Koordinasi Perlindungan Perempuan dan Anak Kemenko PMK RI Sujatmiko.
Menurutnya, beberapa kota/kabupaten di Indonesia khususnya di Jabar yang salah satunya Kabupaten Sukabumi merupakan daerah penghasil TKI terbesar. Kebanyakan dari mereka bekerja di sektor nonformal.
Bahkan, tidak sedikit dari TKI yang diberangkatkan melalui jalur ilegal ini dibuktikan masih banyaknya buruh migran yang tertangkap petugas pengawas keimigrasian di negara penerima tenaga kerja asing.
Selain itu, banyaknya kasus penganiayaan yang terjadi kepada TKI membuat prihatin pihaknya dan hampir setiap tahun selalu saja ada kasus tersebut. Sehingga pemerintah pusat terus berupaya melakukan antisipasi dan pemberian bantuan hukum.
Namun demikian pihaknya berharap warga Indonesia khususnya dari Kabupaten Sukabumi tidak lagi berminat sebagai buruh nonformal karena risikonya cukup banyak dan upahnya pun tidak jauh berbeda dengan di tanah air.
“Memang salah satu alasan warga memilih menjadi buruh migran disebabkan kurangnya lapangan pekerjaan di daerahnya masing-masing. Tetapi baik pemerintah pusat hingga daerah terus berupaya membuka lapangan pekerjaan baru,” tambahnya.
Sujatmiko mengatakan banyak program di kementeriannya untuk menekan jumlah warga menjadi TKI seperti memberikan pelatihan di berbagai bidang keterampilan agar masyarakat bisa mandiri.
Lanjut dia, tentunya penyediaan lapangan kerja baru melalui sektor-sektor yang bisa diberdayakan seperti pariwisata, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), industri rumah tangga dan lain-lain yang ternyata bisa menyerap tenaga kerja.(antara)












