Foto : Para pegiat medsos memberikan petisi Anak Medan Anti Hoax pada Anggota DPR RI Fraksi NasDem Prananda Surya Paloh
MEDANHEADLINES.COM, Medan – Berita hoax atau kabar bohong, dewasa ini sangat menjamur di media sosial. Penggunanya pun harus hati-hati dalam menyebarkan konten yang belum bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Indonesia termasuk negara yang paling banyak menggunakan media sosial. Terlebih para remaja yang masih labil dalam sisi pemikiran. Acapkali, hoax disebar dan menyebabkan kekisruhan. Sudah begitu banyak juga kasus hoax yang berujung pemolisian.
Anggota DPR RI Fraksi NasDem Prananda Surya Paloh mengatakan, saat ini pengguna media sosial yang berusia remaja sangatlah banyak. Prananda prihatin dengan kondisi hoax yang cukup banyak beredar. Apalagi sudah mendekati tahun politik.
“Ini sudah mengkhawatirkan dan sangat memprihatinkan. Karena bagaimanapun juga, seharusnya alat komunikasi yang bisa memudahkan kita, malah menjadi negatif.” kata Prananda usai acara Anak Medan Suka ‘Ulok’, Tapi Gak Suka ‘Hoax’ yang digelar pegiat Medsos di Warung Ijo Resto Kota Medan, Kamis (2/8/2018) sore.
Prananda tak menampik, jika saat tahun politik, media sosial kerap digunakan untuk menjatuhkan lawan. Dia mengimbau agar masyarakat lebih cermat lagi memilah informasi. Harus dipastikan sumber informasinya.
“Gunakan Medsos untuk hal yang baik. Harus bisa bertanggungjawab dan beretika,” ujarnya.
Dalam acara tadi sempat muncul ide kalau penggunaan media sosial harus dimasukkan dalam kurikulum pendidikan. Prananda pun menyambut ide itu dengan baik.
“Saya rasa itu ide yang sangat bagus dan tidak ada ruginya. Jadi mungkin bisa kita terapkan dari tingkat nasional seperti task Force (gugus tugas),” katanya.
Nantinya, gugus tugas itu langsung dikomandoi Presiden atau kementrian terkait. Mulai dari SD, SMP dan SMA harus dibekali pemahaman tentang menggunakan media sosial.
“Nah itu salah satunya langsung kurikulum SD SMP SMA. Karena kita ini dulu kan hanya belajar komputer menggunakan internet. Dampak bahayanya belum tahu. Nah ini juga baru. mungkin saya pun mau ikut kurikulum itu kalau ada,” tandasnya.
Dalam diskusi tadi, puluhan pegiat media sosial ikut hadir. Sempat terjadi diskusi panjang terkait dampak kabar hoax yang tersebar di media sosial. Namun diskusi tetap berlangsung cair dengan solusi-solusi yang dihasilkan. (fat)












