Sumut  

Anak Desa Kreatif di Sopo Daganak di Batangtoru

MEDANHEADLINES.COM, Tapanuli Selatan, – Sebuah perjalanan kerap memberi kesan dan pengalaman tersendiri. Apalagi menyimpan pelajaran berharga untuk dijadikan inspirasi positif. Setidaknya hal itu dirasakan awak media , saat menelusuri salah satu desa di Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara.

Desa Napa adalah salah satu Desa yang termasuk dalam kawasan penghijauan asri di wilayah Tapsel. Di desa ini, banyak kegiatan positif dilakukan anak muda dalam mengembangkan bakat dan pengetahuan.

Dari sisi kiri perjalanan yang sudah tiba di Desa Napa, terlihat gedung besar, berdiri diatas lahan seluas 4 hektar atau 4.430 meter persegi. Di depan gedung tertulis sebuah nama ‘Sopo Daganak’.

Perjalanan pun terhenti. Awak media pun bergerak mendatangi bangunan gedung terbuat dari beton permanen itu. Bangunan yang kabarnya telah berdiri pada 5 tahun lalu atau tanggal 19 Juli 2017.

Di tempat itu, wartawan kemudian bertemu dengan salah satu pengurus Sopo Daganak, Dastri Sejolo Dahyuni. Ia mengaku sudah lama bertugas mengurusi keperluan di Sopo Daganak sejak berdiri.

Selama perbincangan, Dastri menyebut pembangunan Sopo Daganak tidak terlepas peran dari pihak PT Agincourt Resources (PTAR) atau perusahaan Tambang Emas di Batang Toru.

PTAR ‘ringan tangan’ mengucurkan biaya pembangunan gedung Sopo Daganak melalui dana CSR atau Corporate Social Responsibility.

Berkat bantuan PTAR, Sopo Daganak semula hanya Taman Baca Anak (TBA), kini berkembang jadi sanggar atau rumah kreatif bagi anak-anak desa.

Banyak hal dapat dilakukan anak di Sopo Daganak. Selain dari membaca, juga sarana latihan musik tradisional, modern dan keagamaan, lewat sistim pelatihan melibatkan tenaga pengajar profesional.

“Awalnya taman baca, lalu orangtua anak mengusulkan jadi tempat latihan menari dan musik bagi anak-anak. Usulan itupun disampaikan ke pihak PTAR melalui TBA Operator,” jelas Dastri yang juga pengelola teater Sopo Daganak dari Perkumpulan Sahabat Cerdas (Persada).

Pendidikan informal bagi anak di Sopo Daganak sudah dimulai sejak 2018 lalu dengan memperkenalkan beragam seni budaya, baik lokal maupun luar daerah.

“Program pendidikan ekstrakurikuler ini kiranya anak dapat mengenal potensi dan talenta pada diri mereka, serta kelak mampu beradaptasi di luar lingkungan,” kata Dastri.

“Anak diajarkan punya kepercayaan diri tampil di festival seni dan budaya baik lokal maupun nasional,” lanjutnya.

Dalam mendukung segala aktivitas anak, PTAR juga telah kontribusi dalam menyediakan fasilitas di Sopo Daganak. Fasilitas pendukung itu berupa perpustakaan mini, perkantoran untuk pengelola, alat musik modern dan tradisional.

“Soundsystem, sofa, meja, taman mini. Ada juga amphitheatre atau gelanggang pertunjukan terbuka berkapasitas 500 penonton, diresmikan mantan Bupati Tapsel, pak Syahrul Pasaribu, pada 18 November 2017 lalu,” sebutnya.

Beberapa pentas seni juga telah banyak diselenggarakan dan diikuti oleh anak-anak di Sopo Daganak. Misalkan saja pentas seni terselenggara 2 kali setahun yang melibatkan sedikitnya 150 anak, dan selalu mendapat support orangtua.

“Rutinitas lainnya misal latihan gondang, musik modern, Nasyid dan beragam kegiatan pengelola lainnya,” ucap Dastri.

“Para orangtua antusias mendaftarkan anaknya ke Sopo Daganak, silahkan bagi ingin bergabung, bisa melalui TBA 15 Desa Lingkar Tambang Desa, karena terbuka buat semua anak di Batang Toru dan Muara Batang Toru,” imbuhnya.

Terakhir, Dastri juga tak bisa pungkiri, banyak anak-anak tidak terlalu unggul pada aspek kognitif (mental), tetapi unggul dalam aspek psikomotor (skill), mengekspresikan diri di hadapan umum.

“Maka potensi seperti inilah harus dilatih dan dipupuk, agar menjadi bakat terarah dan berdampak positif,” tutup Dastri.

Manager Community, Rohani Simbolon mengaku semangat anak-anak Sopo Daganak dan orangtua telah memotivasi pihak PTAR untuk berperan aktif dalam kemajuan pendidikan di daerah itu.

Karena bagaimanapun, dua diantara 5 pilar yang menjadi program PTAR adalah memajukan pendidikan dan pemberdayaan budaya bagi masyarakat lingkar tambang.

Cukup banyak sudah dana disalurkan oleh PTAR untuk pembangunan gedung Sopo Daganak. Tak tanggung tanggung, mulai biaya pembangunan gedung hingga penyediaan fasilitas di Sopo Daganak, PTAR menguncurkan biaya berkisar Rp 5 Milliar.

Bahkan, PTAR juga berkomitmen untuk mengembangkan Sopo Daganak. Termasuk mengadvokasi segala kegiatan seni budaya di rumah kreasi tersebut.

“Sopo Daganak dibangun adalah bentuk kepedulian PTAR menjalankan program CSR perusahaan di bidang pendidikan dan pelestarian seni budaya masyarakat lingkar tambang,” kata Rohani.

“Satu hal lagi, tujuan pendidikan informal Sopo Daganak adalah upaya kita untuk mendukung pendidikan ramah anak, berkarakter, meningkatkan kepercayaan diri pada anak,” tambahnya.

Banyak pertimbangan yang sudah dilalui PTAR terkait pembangunan Sopo Daganak. Mulai dari masa depan anak desa, hingga lahan tersedia telah sesuai kebututuhan bangunan, termasuk lokasinya mudah diakses.

“Hal menjadi pertimbangan kita soal pemilihan lokasi. Lokasi tak terlalu dekat dengan keramaian atau jalan raya. Memungkinkan anak-anak belajar secara nyaman dan aman,” ucap Rohani.

Rohani memastikan program PTAR tahun ini berfokus soal pengembangan. Tak jauh beda dari sebelumnya. Termasuk berupaya menguatkan legalitas sanggar seni Sopo Daganak.

“Strategis lain PTAR dekat dengan sentra pengembangan pertanian organik. Dan kedepan, wilayah ini menjadi pusat pembelajaran masyarakat di bidang pendidikan dan pertanian,” optimisnya.

Perjalanan tim IDNtimes ke lokasi Sopo Daganak dinilai berkesan, setidaknya dapat melihat antusias penduduk desa dan kepedulian PTAR dalam memajukan pendidikan di daerah tersebut.

Memajukan dunia pendidikan, memang bukan hal mudah, dan harus didukung oleh banyak pihak. Apalagai demi kepentingan masa depan generasi muda berkarakter dan berkelanjutan.

Niat dari PTAR dan masyarakat di lingkar tambang, telah membuka mata bahwa tak ada hal tak mungkin untuk mencapai sesuatu hal lebih baik, apalagi dibarengi oleh semangat kebersamaan.

Semoga, semangat dari pihak PTAR dan masyarakat lingkar tambang menular serta menginspirasi bagi perusahaan dan masyarakat lain. Sebab pendidikan pelestarian seni budaya sangat penting untuk dilestarikan.(hen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.