MEDANHEADLINES.COM – Para petani di Kabupaten Karo, Sumatera Utara mendapatkan manfaat lain dari letusan Gunung Sinabung. Karena tanah tempat mereka berladang menjadi kian subur.
Ginting, Petani Tomat dan Sayuran Sawi Pahit menyebutkan hasil kebunnya lebih cepat panen. Dia menduga kandungan tanah berubah semakin baik.

“Rasaku lebih cepat bertumbuhnya. Ada sebab letusan Gunung Sinabung. Tapi kita tetap menggunakan pupuk terbaik untuk hasil terbaik,” ucap Ginting belum lama ini di Kawasan Tiga Kicat Kabupaten Karo.
Karena jika tak menggunakan pupuk, Ginting akan kesulitan melakukan aktifitas pertanian.
Sementara itu, petani lain br Barus juga merasakan dampak baik dari letusan gunung. Kendati selalu merawat tanamannya dengan memberinya pupuk, dia mengeluh soal harga yang terus merangkak naik.
“Tanah makin subur, tapi harga pupuk makin mahal,” katanya.

Dia mengaku, tingginya harga pupuk NPK Mutiara membuatnya harus ikat pinggang menghitung pengeluaran untuk operasional berladang.
“Sampai sejutaan harga pupuknya, tadinya cuma Rp200-400ribu paling mahal. Sekarang naik terus. Tak sebanding hasil panen dan harga pupuk, “katanya.
Sementara itu pedagang benih dan petani di Kabupaten Karo, Y br Tarigan menyatakan harga pupuk tak lagi murah.
Dia mencontohkan ketika membeli dengan kartu kelompok tani. Sekarung bisa diperoleh dengan harga Rp100-135ribu.
Namun untuk harga non subsidi perkarung bisa mencapai Rp500-550. Situasi itu membuat para petani harus menghemat pupuk di kebun milik mereka.
“Optimalnya pemupukan dua kali saat sekali tanam, jadinya sekarang satu kali saja,”katanya.
“Saya berharap pemerintah bisa memperbanyak pupuk bersubsidi, karena kami disini mayoritas petani,”ucapnya.
Mahalnya harga pupuk membuat Kementerian Pertanian (Kementan) mengambil langkah melalui gerakkan petani untuk menggunakan pupuk organik.
Gerakan ini meliputi pemanfaatan pupuk organik dan pembenah tanah serta pupuk hayati.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan Dedi Nursyamsi mengatakan mulai menjalankan bimbingan teknis (bimtek) mengenai gerakan tani pro organik.

Sehingga petani kreatif untuk memproduksi pupuk sendiri mulai pupuk hayati, pembenahan tanah dan pupuk organik. Hal ini tentunya akan menghasilkan tanah yang lebih subur.
“Terkait isu pupuk mahal kami juga saat ini sedang genjot bimtek mengenai Gerakan Tani Pro Organik. Jadi pemanfaatan pupuk organik, pupuk hayati dan pembenah tanah untuk meningkatkan kesuburan tanah,” kata Dedi dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi IV DPR RI, Rabu (23/11/2022) kemarin. (rdn)












