Medan  

Rubah Stigma Negatif, Pekarya Seni Asal Medan Akan Gelar Festival Payau Puan Paloh

Ketua Panitia Festival Payau Puan Paloh beserta jajaran foto bersama usai konferensi pers di Medan, Kamis (16/2/2023). (Foto: Alief Fadli)

MEDANHEADLINES.COM, Medan – Pekarya seni asal Medan, Sumatera Utara, Herawanti Handayani akan menyelenggarakan event bertajuk Festival Payau Puan Paloh di Aliran Paloh Blancang, Jalan Kota Cina Lingkungan VII, Kelurahan Paya Pasir, Medan Marelan pada 11 sampai 12 Maret 2023 mendatang.

Event yang masuk dalam program layanan produksi kegiatan kebudayaan kategori Pendayagunaan Ruang Publik 2022, per seorangan dari Indonesiana Kemendikbudristek, itu akan menampilkan beragam kreativitas dari kaum perempuan. Di antaranya pasar paloh, permainan tradisional dan wisata air dengan tetap merawat ekosistem yang ada di dalamnya.

“Setidaknya ada 50 emak-emak yang terlibat di festival nanti. Mereka akan menjual kuliner dan kerajinan tangan khas pesisir di Pasar Paloh. Kita mau mengubah stigma kumuh, kotor dan bau yang selama ini melekat menjadi tempat bersih, asri, nyaman dan edukatif,” kata Herawanti, selaku Ketua Panitia Festival Payau Puan Paloh saat menggelar konferensi pers di Medan, Kamis (16/2/2023).

Herawanti menjelaskan, Paloh Blancang adalah aliran anak sungai di sekitaran pesisir yang berair payau atau percampuran air tawar dan air asin ketika pasang surut laut. Paloh menjadi sesuatu yang sangat penting untuk mengukur kualitas air bersih.

“Sepuluh tahun lalu warga di sana masih mudah mencari udang di sepanjang paloh. Hari ini jangankan udang, ikan pun sudah tak ada. Hal itu disebabkan karena Paloh ini sudah dikotori sampah dan limbah plastik,” ujarnya.

Herawanti mengatakan, pencemaran itu akhirnya memengaruhi cara pandang warga mencari nafkah, bersikap dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Sebab, mereka yang selama ini bergantung dengan kehidupan air Paloh, sekarang mengalami kepanikan sosial dan ekonomi.

Biasanya ketika air pasang anak-anak bisa terjun bebas bermain air di Paloh. Ketika air surut, emak-emaknya bergegas mengayuh sampan untuk mencari lokan dan menancapkan bubu kepiting bakau. Setiap hari mereka menyerut nipah yang kemudian dijual ke penampung untuk diolah menjadi dupa dan atap. Selain itu, di pinggiran Paloh Blancang terdapat Daun Jaruju yang bisa diolah menjadi kripik. Ikan terubuk bisa diolah jadi ikan asin dan buah nipahnya dapat diolah jadi minuman segar.

Akan tetapi, pencemaran dan seiring dengan pembangunan kota yang semakin cepat sangat berdampak kepada kondisi sosial, ekonomi, budaya dan perniagaan. Oleh karena itu, emak-emak dan kaum perempuan lainnya terpaksa meninggalkan Paloh. Mereka beralih menjadi pemulung, buruh pabrik dan kuli pabrik.

“Festival ini kami gelar untuk mengembangkan fungsi Paloh sebagai ruang ekonomi kreatif. Berangkat dari harapan itu, kegiatan ini hanya melibatkan kaum perempuan pinggiran Paloh dan sekitarnya sebagai pelaku ekonomi kreatif, mulai dari segala usia dan latar belakang,” katanya.

“Kami menargetkan 5000 pengunjung pada perhelatan Festival Payau Puan Paloh ini,” tambahnya.

Herawanti menambahkan, untuk menghadirkan pengunjung sesuai yang ditargetkan, panitia menyajikan 10 menu kegiatan selama festival berlangsung. Di antaranya para Puan membasmi sampah di Paloh, Puan mengambil Lokan, permainan rakyat emak-emak di air dan Puan beradu renang di Paloh. Berikutnya anak Puan atraksi air pasang, 50 emak masak kuliner Pesisir, beradu bakat para Puan, pasar pinggir Paloh, ruang bebas para Puan berekspresi dan pergelaran teater emak-emak.

Selain bentuk kegiatan, panitia juga telah melakukan beberapa tahapan yaitu riset lanjutan kearifan lokal di area paloh, sosialisasi dan mobilisasi perempuan pinggiran Paloh untuk berpartisipasi. Kemudian, membentuk tim kerja partisipatoris dari warga, melaksanakan agenda kerja sesuai lini masa yang ditetapkan.

“Setelah kegiatan ini, kita telah siapkan program berkelanjutan secara fokus dan spesifik untuk mengelola aliran Paloh Blancang sebagai wisata air dengan muatan kuliner Melayu Pesisir. Permainan dan olahraga air tradisional. Ruang seni pertunjukan, perawatan dan pelestarian ekologi di Paloh. Harapannya, program berkelanjutan ini akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat di segala bidang yang dimotori kaum perempuan pinggiran Paloh. Kami juga merancang setelah Festival Payau Puan Paloh akan menggelar Pasar Paloh Spesial Ramadhan,” pungkasnya. (FAD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.