Medan  

Kampanyekan Penyelamatan Hutan, GJI Rilis Film Batang Toru: The Last Breath

Puluhan undangan sedang menyaksikan Film BATANG TORU: THE LAST BREATH yang dirilis Green Justice Indonesia (GJI) di di Roman Kopi Jalan Bunga Tanjung, Setiabudi Medan pada Kamis 08 Desember 2022. (Foto: Alief Fadli)

MEDANHEADLINES.COM, MEDAN – Green Justice Indonesia (GJI) kembali merilis sekaligus memutar film pendek yang menceritakan kondisi hutan dan masyarakat yang bergantung dengan hasil hutan.

Sebelumnya, pemutaran film berjudul ‘Tombak Na Marpatik, Adat dan Hutan di Tapanuli’ digelar di Sopo Partungkoan, Tarutung, Tapanuli Utara (Taput) pada Senin (28/11/2022) bulan lalu. Film ini mengisahkan bagaimana masyarakat Adat di Desa Simardangiang, Desa Pantis dan Dusun Hopong, Kabupaten Taput melindungi hutan, khususnya kemenyan dengan cara-cara tradisional yang sudah ada sejak generasi sebelumnya.

Film kedua bercerita tentang bagaimana kondisi hutan dan masyarakat di sekitar Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara (Sumut). Film yang diberi judul BATANG TORU: THE LAST BREATH ini diputar di tiga lokasi dan lintas generasi. Puncaknya, film yang disutradarai Ori Samloko ini diputar di Roman Kopi Jalan Bunga Tanjung, Setiabudi Medan pada Kamis 08 Desember 2022 kemarin.

Acara yang dimulai dari petang itu tidak hanya mengajak puluhan tamu undangan lintas profesi sekadar menonton film. Ketua panitia, Halim Sembiring dengan apik mengemas kegiatan dengan menambah sesi diskusi terkait film BATANG TORU: THE LAST BREATH. Selain itu, pegiat seni dari kendurikopi dan AmpasKopi diberikan kesempatan untuk menampilkan karya terbaiknya.

Direktur Eksekutif GJI, Dana Prima Tarigan mengatakan, tujuan pemutaran film ini untuk mengingatkan kembali bahwa Hutan Batang Toru adalah hutan yang sangat kaya. Mulai dari kaya spesies, unsur iklim dan ketergantungan masyarakat terhadap hutan dan sungainya.

“Tapi saat ini terganggu dari masifnya investasi yang sejak dulu dan akan masuk nantinya. Jadi, kalau ini tidak diproteksi dan dilindungi, maka akan banyak permasalahan yang muncul, mulai dari kehancuran hutan, perubahan iklim, perubahan sungai yang akan merusak ekosistem flora dan fauna. Begitu juga dengan masyarakat yang bergantung dengan hutannya,” kata Dana kepada medanheadlines.com usai pemutaran film.

“Nah, ini harus punya tindakan segera untuk melindunginya karena hampir ratusan ribu orang yang ada di situ,” tambahnya.

Direktur Eksekutif GJI, Dana Prima Tarigan (dua kanan) bersama Riyanda Purba dari WALHI Sumut dan Prayugo Utomo dari Jurnalis IDN Times menjadi narasumber dalam diskusi Film BATANG TORU: THE LAST BREATH di Roman Kopi Jalan Bunga Tanjung, Setiabudi Medan pada Kamis 08 Desember 2022. (Foto: Alief Fadli)

Dana menjelaskan, film ini ingin menyampaikan pesan, menjadi sumber informasi dan inspirasi publik bahwa Hutan Batang Toru dan hutan-hutan lainnya itu penting. Harapannya, dengan menayangkan realita yang terjadi di Hutan Batang Toru, perspektif publik untuk mengkampanyekan perlindungan Hutan Batang Toru bisa lebih masif lagi. Sehingga menjadi suara-suara yang didengar oleh pemerintah, yang kemudian akan mengeluarkan regulasi baru untuk melindungi Hutan Batang Toru.

“Atau mereview izin-izin yang kita anggap selama ini merusak ekosistem Hutan Batang Toru. Artinya, membuat atau menarik semua pihak untuk peduli terhadap hutan yang selama ini menjadi sumber hidup masyarakat, sumber hidup biodiversity dan salah satu faktor yang menghambat perubahan iklim itu sendiri,” ucap Dana.

Dana menambahkan, pihaknya akan terus mengampanyekan penyelamatan hutan mulai dari hulu dan hilir. Hulunya itu adalah mendorong pemerintah agar membuat kebijakan untuk melindungi hutan. Sehingga regulasi yang dibuat tidak hanya memandang hutan sebagai investasi semata.

Sedangkan hilirnya melindungi masyarakat yang selama ini bergantung kepada hutan. Bagaimana mereka mandiri dan paham atas haknya. Sebab, mereka yang paling paham melindungi hutan, melindungi biodiversity yang menjadi kekayaan Indonesia. Buktinya, dari turun temurun mereka mengelola, hutannya tidak pernah rusak.

“Jadi, advokasi dari hulu ke hilir akan kita lakukan ke depannya. Harapannya, ada regulasi perlindungan untuk Hutan Batang Toru. Jadi, tidak ada lagi sembarangan investasi yang masuk. Itu target jangka panjang atau target besarnya. Kedua, ada audit lingkungan di Hutan Batang Toru. Selama ini aktor-aktor yang ada di situ melakukan apa dan kerusakannya sampai sejauh mana. Kalau ada pelanggaran dihukum, dan sebisa mungkin dilakukan review izin agar kerusakan yang sekarang bisa dikurangi,” pungkasnya.

Pada kesempatan yang sama, Produser Film BATANG TORU: THE LAST BREATH, Ori Samloko menyampaikan bahwa pihaknya sempat mendapat berbagai intervensi saat melakukan pengambilan gambar. Intervensi dimulai dari pihak tambang maupun masyarakat yang belum diketahui apakah pekerja tambang atau tidak.

“Pada kunjungan pertama kita langsung dibuntuti oleh beberapa orang yang menunggangi sepeda motor. Ketika berhenti di satu titik, terus ditanyai. Kemudian, pernah juga drone yang kita terbangkan di dekat tambang dikejar dengan halikopter milik perusahaan,” kata Ori memulai cerita.

“Kalau kekerasan dalam bentuk fisik tidak ada. Tindakan mereka lebih kepada intervensi dan melakukan tekanan-tekanan seperti gaya-gaya preman,” tambahnya.

Selain itu, lanjut Ori, kendala lain yang pernah mereka alami pada saat mengambil gambar orangutan yang tanpa disadari berada di lokasi illegal logging. Orang-orang yang ada di situ menganggap timnya hanya sengaja mendokumentasikan aktivitas penebangan pohon. Sehingga timnya kembali mendapat intervensi agar secepatnya meninggalkan lokasi.

“Padahal kita cuma ingin mengambil gambar orangutannya. Lokasinya di hutan Desa Bulu Mario, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapsel. Memang kalau dilihat dari luar hutannya sangat rimbun. Tapi, pas kita terbangkan drone agak ke tengah, baru nampak gundulnya hutan itu,” ujarnya.

Untuk penggarapan, Ori menjelaskan, film ini diselesaikan dalam waktu lima bulan. Ada beberapa lokasi yang didatangi untuk pengambilan gambar. Di antaranya Danau Siais, Air terjun Silima lima, Padang Sidempuan, Sipirok dan Batang Toru.

“Tapi, untuk pengambilan stok gambarnya sudah aku mulai dari 3 tahun lalu. Harapannya film ini bisa memberikan dampak positif, walaupun masih dari satu perspektif. Kita belum dengar perspektif dari pihak pemerintah maupun industri. Namun, menurutku ini bisa menjadi suatu gambaran untuk masyarakat bahwa seperti inilah kondisi Hutan Batang Toru sekarang. Mudah-mudahan ini menjadi trigger, jadi perangsang untuk melakukan hal-hal positif di Hutan Batang Toru,” ucap Ori menutup cerita. (FAD).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.