Cerita Mereka yang Berbeda: Kan, Kita gak Saling Ganggu…

Para penyintas berbagi cerita dalam Workshop dan Fellowship Meliput Keberagaman Seksual di Sumbagut oleh SEJUK, awal Maret 2020 di Kota Medan/ Mei Leandha

MEDANHEADLINES.COM, Medan – Nia, panggil saja begitu kata suara dari seberang. Pemilik suara renyah ini mengaku sedang berada di cafe, usaha sampingan bersama “sang fatner” selain berdagang kecil-kecilan. Perempuan berusia 25 tahun ini berprofesi sebagai dokter umum yang bekerja di sebuah klinik di kawasan pinggir Kota Medan.

Alasan perempuan ramah yang diasumsikan dari sikap terbukanya, ekonomi harus dibangun sedari muda dan tidak mungkin hidup terus bergantung dengan orangtua. Apalagi, dia baru selesai program internsip dan mendapat Surat Tanda Registrasi (STR) definitif.

Kemudian mengambil beberapa pelatihan agar bisa bekerja di rumah sakit, upaya peningkatan kapasitas ini memiliki banyak persyaratan dan biaya. Kalau nanti sudah mendapat tawaran menjadi dokter tetap, baru bisa bernafas lega karena gajinya terbilang lumayan besar.

Perempuan yang masih tinggal dengan orangtuanya ini bercita-cita ingin melanjutkan pendidikan profesi dokter pascasarjana agar menjadi dokter spesialis. Bersama fatner (begitu dia menyebut kekasihnya, red), Nia mengumpulkan uang untuk biaya hidup dan pendidikan dan sebisa mungkin tak meminta kepada orangtua.

“Kalau gak kami, siapa lagi? Aku akan berusaha supaya tidak memberatkan orangtua…” katanya dengan suara tertahan kepada MEDANHEADLINES.COM pada minggu terakhir Juli 2020.

Cerita berpindah dengan cepat menjadi curahan hati, betapa Nia merasa begitu tertekan dan terkekang dengan sikap keluarga, khususnya orangtua. Untuk sekedar nongkrong bersama teman-teman saja, dia harus berbohong dengan mengatakan ada kegiatan di kampus. Semua organisasi kampus dilarang untuk diikuti tanpa alasan yang bisa diterima.

“Dari dulu kayak (seperti) gitu, terlalu banyak dilarang. Jadi kayak mana caranya supaya aku gak terus-terusan terbelenggu sama mereka, kalau aku ikutin mereka, kan aku yang gak maju. Maksudnya, aku kan udah dewasa, gak mungkin aku terus ngikutin mereka, tapi kan aku tau mana yang benar, mana yang salah, mana yang terbaik untuk aku ke depannya..” cerocosnya.

“Banyak dikekang aku, banyak ditahan sama orangtua ku. Sekarang aja aku kerja, gak boleh yang terlalu jauhlah, gak boleh terlalu malam, sementara aku dapat klinik di pinggiran kota tapi cuma 45 menit dari rumah. Itupun dibilang terlalu jauhlah, terlalu malamlah. Serba salah aku jadinya…” sambung Nia dengan suara mulai berat.

Coba dijelaskan dengan bilang, kebanyakan perhatian orangtua yang dianggap berlebihan oleh sebagian anak-anaknya, ternyata ekspresi kasih sayang dan peduli. Mereka berusaha melindungi dan mencukupi semua kebutuhan anak-anaknya sehingga terkesan mengekang kebebasan dan menghalangi pilihan hidup ketika anaknya bukan anak-anak lagi. Kebanyakan, kasus seperti ini dihadapi anak bontot dari keluarga mampu.

Nia membenarkan kenyataan ini karena memang dia anak paling kecil, berpendidikan lebih tinggi dibanding kakak dan abangnya dan berasal dari keluarga ekonomi berkecukupan. Namun yang membuatnya masih geleng-geleng kepala, kelebihan harta tak membuatnya bergelimang kemewahan. Dia bilang, kalau meminta sesuatu kepada orangtuanya, tak seindah cerita teman-temannya yang langsung dipenuhi. Nia harus melewati proses panjang mulai dari marah-marah sampai alasan ini-itu.

“Bingung juga aku nyeritainnya… Lebih anehnya, orangtua ku maunya aku berkawan di lingkungan kerja saja, mana bisa. Terakhir, aku harus melawan, termasuk saat aku ketahuan kalau bagian dari LGBT…” ungkapnya.

Pertama kali ketahuan sama orangtua kalau dirinya memiliki perbedaan orientasi seksual pada awal 2016. Bermula dari percakapan dan foto dirinya bersama mantan pacarnya di gawai yang terbaca saudara perempuan. Nia langsung disidang keluarga, ditanya mantan pacarnya perempuan atau laki-laki. Di situlah dia menceritakan kalau dirinya punya trauma dengan laki-laki karena pernah dilecehkan, juga tidak merasa nyaman dan tertarik ketika memadu asmara.

Apa yang dirasakannya ini bukan karena pergaulan atau baru mulai sejak duduk di bangku SMA atau kuliah, tapi sejak kecil. Nia mengaku pernah bertemu seorang transgender dan langsung tertarik. Namun saat itu, lingkungan tempat tinggal dan agama tidak memberikannya akses atau informasi apapun. Rasa yang pernah menggetarkan jiwanya mengantar Nia berselancar di sosial media dan bertemu dengan pencariannya.

“Aku betul-betul disidang, yang mau dibunuhlah, diusir, dicoret dari kartu keluarga, yang mamak ku mau melarikan dirilah dari rumah. Pokoknya seharian itu, aku kayak gak dianggap manusialah,” katanya tertawa.

Setelah itu, kebebasan semakin lama semakin direnggut. Apalagi sejak ketahuan kembali berpacaran dengan sang fatner, keduanya diintimidasi hampir dua tahun. Nia menerima banyak tuduhan dan prasangka buruk, ditambah hasutan tetangga yang memang dibayar ibunya untuk memantau aktivitas anaknya selama dia tidak berada di rumah. Termasuk memberitahukan siapa saja teman-teman Nia yang datang ke rumah.

Seiring perjalanan waktu, di 2018 intimidasi keluarga berkurang karena Nia sudah bekerja. Di tahun ini pula, dia mengenal dunia aktivis dan lebih sering bergabung dengan komunitasnya. Kemudian 2019 ke Riau, selama bekerja di kota ini, Nia merasa seperti burung yang benar-benar bisa terbang bebas ke mana suka meski harus berpisah dengan pujaan hati. Setahun kemudian, kembali ke Kota Medan dan kembali merasakan perlakuan keluarga yang tidak mengenakkan hati.

“Kalau mereka bilang ke luar kota, itu waktunya bebas, aku bisa di luar sampai jam sembilan malam. Kucing-kucinganlah, tapi sakit juga kepala mikirinnya, sampai kapan… Aku harus cari cara untuk ke luar dari Kota Medan di tahun ini. Berat kali…” katanya dengan suara tersekat.

Keinginan untuk segera menyelesaikan pendidikan dan bekerja, menurut Nia, bukan hanya jalan untuk melarikan diri tapi juga menunjukkan jati diri. Nia ingin menyampaikan pesan, walaupun dinilai bandel namun berhasil menyelesaikan kuliah dan berusaha menyenangkan orangtua dari jerih payah sendiri. Ironisnya, orangtua Nia malah membanding-bandingkan dirinya dengan saudara-saudaranya, indikatornya adalah penghasilan dan harta.

“Mereka minta, harus ada. Kalau aku liat keluarga teman-teman, buat aku iri. Tapi aku kayak mana, mau nangis ya, gak mungkin… Salah satunya bekerja keras untuk membahagiakan diri ku,” keluhnya.

Selain keluarga yang belum bisa menerima kalau dirinya berbeda, Nia juga harus menutupi rahasia ini di tempatnya bekerja.

“Mereka memang orang medis, tapi mereka tidak bisa menerima. Mereka masih mengatakan kalau itu salah, yang tau jati diri ku cuma satu orang di profesi ku,” tutur dia.

Sulit untuk coming out, tapi…

Berbeda dengan Nia yang belum coming out, Hartoyo malah blak-blakan dan gamblang bilang kalau dirinya seorang gay. Laki-laki warga Kota Binjai, Sumatera Utara yang saat ini berdomisili di Jakarta mengaku, juga melewati proses penolakan, pergolakan jiwa dan perlakuan yang tak menyenangkan sebelum akhirnya melela.

Mas Toyo, begitu dia biasa dipanggil, hanya orang biasa yang awam organisasi, isu-isu sosial dan diskusi kritis. Namun pekerjaan pertama yang membuka peluang untuknya adalah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Menceburkan diri dalam dunia pendampingan masyarakat, Toyo mencekoki diri dengan ilmu pengetahuan lewat bacaan-bacaan bergizi dan terus belajar banyak hal secara intensif.

“Mungkin kalau aku gak di LSM, mungkin aku sulit untuk coming out, untuk jadi seperti sekarang. Pekerjaan mendorong aku harus membaca dan berdiskusi soal isu-isu sosial, ada isu-isu yang selama ini menjadi pergulatan hidup ku seperti seksualitas dan agama. Ini pertentangan terhadap diri ku dan aku yakin juga pertentangan mayoritas LGBT di Indonesia,” katanya.

Pernah menjadi korban penyiksaan polisi karena seorang gay, bekerja dengan orang-orang yang biasa memandang sesuatu dengan kacamata yang luas dan pengetahuan membuatnya total dan berani unjuk gigi. Bahkan bukan sekedar coming out, tapi juga berjuang untuk hidupnya dan komunitas Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT).

“Menurut ku, apa yang ku alami berat dan sulit, untuk bisa LGBT pada titik coming out, apalagi sampai berjuang. Harus banyak faktor yang bisa mendukung, aku merasa di tempat yang tepat. Aku yakin, kalau di perusahaan atau bank, aku pasti tidak akan bisa terbuka. Mungkin jurnalis agak lebih terakomodir, tapi gak semua media mau menerima,” ucap Toyo.

Pria ramah ini bergabung di LSM pada 2001, tiga tahunan di dunia aktivis, sekitar 2004 dia mulai berani menunjukkan jati dirinya meski masih dikalangan tertentu saja. Pada 2007, Toyo mengalami kekerasaan yang malah membuatnya semakin kuat. Tiga tahun kemudian, tepatnya di 2010, dia mendirikan organisasi.

Soal harapan kepada masyarakat dan negara, menurut dia, tidak lebih penting dari keberadan komunitas untuk melawan stigma. Salah satu fungsi komunitas adalah menyadarkan para anggotanya siapa mereka, setelah itu memaksimalkan sumber daya diri dengan pengetahuan dan berkarya kemudian membangun penguatan dengan kelompok lain.

“Kalau negara, aku ngomong idealnya tidak mengkriminalkan tapi ini sulit karena tekanan publiknya lebih berat. Cuma, LGBT menjadi perhatian khusus dunia, apalagi negara-negara yang sangat tergantung dengan internasional seperti Indonesia dengan Amerika, Australia dan Eropa. Negara-negara maju ini cenderung mendukung LGBT, risiko berat buat Indonesia kalau sampai mengkriminalkan LGBT. Kalau melindungi juga agak berat karena sosialnya belum mendukung, paling yang dilakukan itu, ya kayak abu-abu…” panjang lebar dia menjelaskan.

Hartoyo mengaku tidak berharap banyak pada negara karena biasanya akan mengikuti maunya mayoritas atau tekanan-tekanan publik. Makanya, seburuk apapun perlakukan negara, inti sari dari semua perjuangan adalah komunitas yang saling dukung dan membantu. Solidaritas dan terus belajar yang terpenting, proses ini saja lumayan panjang dan sulit.

“Penguatan komunitas harus jadi prioritas, mulailah belajar tentang diri mu. Masuk grup media sosial, gabung di organisasi, mulai baca apa saja tentang LGBT, bukan hanya untuk mencari jodoh. Supaya setiap LGBT percaya diri, punya proteksi dan cara bernegosiasi di level paling kecil, minimal di keluarga,” ujarnya.

Disinggung soal keluarga, Toyo merasa keluarganya bersikap tidak menolak dan tidak menerima pasca mengetahui pilihan hidupnya.

Well come sih enggak, maksudnya keluarga ku itu jadi kayak don’t tell, don’t ask. Keluarga ku pasti tahu, tapi tipikal orang Jawa, gak terlalu mau membahas banget, tapi gak pernah jadi isu perdebatan. Mereka jaga perasaan ku juga, sih… Tapi mereka sudah tidak berani intervensi tentang apa yang ku lakukan,” kata penggagas penggalangan dana publik melalui penjualan produk preloved.

“Awalnya hanya berjualan baju-baju, ternyata yang didapat bukan hanya uang tapi jaringan perkawanan yang menjadi modal sosial paling luar biasa. Dimulai dari sebuah tas atau baju, orang respek sama kita,” ketua Perkumpulan Suara Kita mengakhiri komentarnya yang penuh semangat.

Konsep ketubuhan

Direktur Eksekutif Ardhanary Institute RR Sri Agustine ketika menjelaskan, gender, bentuk dan karakteristik seksualitas banyak ragamnya. Bukti betapa luar biasanya kuasa Tuhan menciptakan mahluknya. Harusnya, ketika menemukan fakta yang berbeda, tidak boleh dinilai sebagai kegagalan, kelainan atau ketidak sempurnaan. Kalau ini dilakukan, berarti melawan kehendak Tuhan.

Fenomena interseks yang lahir dengan kelamin dan karakteristik seksual berbeda, menurut Agustine, bukanlah ketidaknormalan. Sebab, hal serupa juga terjadi pada hewan maupun tumbuhan yang disebut hermaprodit atau diistilahkan mandul. Pemahaman masyarakat tentang sexual orientation, gender identity and expression, and sex characteristic (SOGIESC), masih melewati jalan panjang.

“Banyak pemberitaan yang tidak baik bagi komunitas LGBT sehingga masyarakat mendapat informasi yang tidak benar,” kata Agustine saat memberikan materi di Workshop dan Fellowship Meliput Keberagaman Seksual di Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) yang dihelat Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) pada awal Maret 2020 di Kota Medan.

“Kalau mau bicara SOGIESC, jangan langsung bicara tentang LGBT. Bicara tentang diri sendiri dulu, bagaimana konsep ketubuhan itu,” ucap advokad publik ini.

Ia menyebutkan bahwa orang-orang, termasuk jurnalis, kerap salah memahami namun langsung mengaitkan istilah LGBTIQ dengan homoseksual. Padahal, ada konsep ketubuhan yang harus dipahami dan juga berkaitan dengan heteroseksual. Pemikiran dan konteks sosial budaya yang sudah dibangun dan berlaku turun temurun menjadikan seseorang langsung berpikiran negatif saat mendengar istilah LGBTIQ atau SOGIESC, apalagi berinteraksi dengan komunitasnya.

Keprihatinan senada juga disampaikan salah satu pendiri SEJUK, Awigra. Katanya, banyak fobia (ketakutan) terhadap komunitas akibat ketidaktahuan tentang SOGIESC dan LGBTIQ. Deputy Director Human Right Working Group (HRWG) ini menjelaskan, pendapat tentang LGBTIQ bisa berbeda-beda dan menjadi personal, namun akan menjadi masalah saat pemerintah ikut tidak memberikan perlindungan karena stigma orang-orang yang menganggap menyimpang.

“Mereka semakin tidak memiliki akses pekerjaan dan pendidikan yang layak, juga penerimaan di masyarakat yang kurang. Tidak ada ruang,” ujar Awigra.

Menurutnya, negara wajib melindungi dan tidak seharusnya memberikan perlakuan yang berbeda kepada warga negaranya apapun orientasi seksualnya. Negara harusnya paham bahwa dalam konstitusi tidak mengenal mayoritas dan minoritas.

“Ini pilihan hidup…”

Kembali ke Nia, digantungnya harapan kalau di suatu saat nanti, masyarakat tidak memandang salah dengan keadaan dan pilihan hidup mereka. Bisa menerima, memandang mereka ada sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan dan menyingkirkan pandangan sinis yang isinya asumsi dan praduga tendensius.

“Paling gak, anggaplah kami ada… Kami ini manusia diciptakan oleh Tuhan, bukan barang sampah seperti kata-kata mereka yang tidak ada gunanya. Kami berguna juga di bumi ini. Kan, kita gak saling ganggu, kami mencari makan untuk diri kami…” suara Nia parau.

Kalau sedang berdinas dan bertemu pasien-pasien yang sama dengan dirinya, Nia mengaku akan memberikan perhatian lebih. Dia mengaku sangat sedih mendengar cerita mereka yang dituding menyimpang, tidak ada apa-apanya, salah, dan semua caci-maki. Sekali lagi dia berharap untuk dianggap ada dan sama, tidak ada yang berbeda.

“Karena ini pilihan hidup, bukan dibuat-buat… Aku juga gak buat-buat, aku jatuh cinta dengan siapa, murni dari hati ku, pemberian dari Tuhan…” ada isak yang ditahan saat dia mengakhiri percakapan.

Penulis: Mei Leandha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *