Terkait Omnibus Law, Buruh Anggap Pemerintah Ngawur

 

MEDANHEADLINES.COM, Medan – Rancangan Undang-undang Omnibus Law mendapat penolakan dari buruh di Sumatera Utara, Mereka pun menggelar Aksi unjuk rasa ke kantor DPRD Sumut, Kamis (23/1).

Berbagai organisasi buruh yang tergabung dalam Aliansi Pekerja Buruh Daerah Sumatera Utara (APBD-SU) menggelar mimbar bebas dan Perwakilan organisasi secara bergantian berorasi.

“Saya salah seorang Pendukung Jokowi. Tapi kalau buruh disengsarakan, saya minta Jokowi mundur,” ujar aktifis buruh perempuan dari atas mobil komando.

Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja, mencakup 11 klaster. Mulai dari penyederhanaan perizinan, persyaratan investasi, ketenagakerjaan, kemudahan, pemberdayaan perlindungan UMK-M, kemudahan berusaha.

Kemudian, dukungan riset dan Inovasi, administrasi pemerintahan, pengenaan sanksi, pengadaan lahan, investasi dan proyek pemerintah, dan kawasan ekonomi.

Lantas kenapa Omnibus Law ditolak buruh? Mereka menganggap RUU itu tidak berpihak pada pemenuhan hak-hak buruh.

Tony Rickson Silalahi, Sekretaris Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Sumut menjelaskan rencana pemerintah mengajukan RUU Omnibus Law ke DPR RI harus ditolak. Dia menilai jika Omnibus Law bertolak belakang dengan tujuan hukum ketenagakerjaan.

“Bagi kami pemerintah ini ngawur. Tentang pekerja asing, yang dibebaskan masuk ke Indonesia. Tidak harus punya skil dan tidak harus bisa berbahasa Indonesia. Ini dibebaskan. Artinya, investor yang akan masuk ke Indonesia bisa membawa tenaga kerjanya. Ini harus ditolak. Karena bagi kita mencari pekerjaan saat ini sudah sangat sulit,” kata Tony.

Dalam Omnibus Law itu, Kata Tony, presiden bisa mencabut Peraturan Daerah (Perda) yang dianggap menghambat investasi. “Artinya pemerintah saat ini sudah tunduk dengan kepentingan asing. Tidak lagi tunduk kepada kepentingan rakyat. Ini bertolak belakang dengan semangat UUD 1945 kita,” pungkasnya.

Selain itu, Omnibus Law akan menghilangkan hak-hak buruh yang selama ini diatur dalam UU Keternagakerjaan. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *