Edy Rahmayadi: Pelaku Bom Bunuh Diri Sakit Jiwa

Gubernur Sumut Edy Rahmayadi saat diminta komentarnya soal aksi bom bunuh diri mengatakan, pelaku sakit jiwa/Rha

MEDANHEADLINES.COM, Medan – Bom bunuh diri yang dilakukan Rabbial Muslim Nasution, masih menyisakan penangkapan demi penangkapan. Kepala Bidang Humas Polda Sumut Kombes Tatan Dirsan mengatakan, sudah 30 tersangka yang ditangkap di Sumut dan Aceh.

Ada kemungkinan penambahan tersangka lain, tim gabungan dari Detasemen Khusus 88 dan Polda Sumut masih melakukan pengembangan. Sementara Mabes Polri menyebut total tersangka yang diamankan 71 orang.

“Rata-rata para tersangka berumur 30 sampai 40 tahunan,” kata Tatan di Rumkit Bhayangkara Medan, Selasa (19/11).

Para tersangka dituding terpapar paham radikalisasi. Kapolda Sumut Irjen Agus Andrianto tak menampik kalau
deradikalisasi jalan di tempat. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini luar biasa sehingga para pelaku tidak harus berguru kepada imam-imam, langsung belajar dari media sosial.

Gubernur Sumut Edy Rahmayadi yang diminta komentarnya soal tudingan kepada para tersangka mengatakan, para terduga pelaku memiliki pemahaman yang salah.

“Pahamnya yang salah, apakah itu radikal, coba nanti diartikan. Kalau nanti saya meledakkan orang lain, menjadi cedera orang lain, menjadi korban, saya juga jadi korban, saya masuk surga? Itukan pemahaman yang salah, sehingga orang seenaknya berbuat seperti itu. Itu sangat salah, tolong jangan dimasukkan di dalam salah satu komponen yang ada di kita. Gak, itu bukan orang kita, orang sakit jiwa itu,” kata Edy di rumah dinasnya pada Selasa sore.

Dipertegas bahwa pemahaman yang salah bukan berarti radikal, dijawabnya cepat dengan mengiyakan. Katanya, orang yang radikal adalah orang yang mempunyai pemahaman berbeda tapi memaksakan kehendak. Teroris adalah pemahaman orang yang sakit jiwa, bukan radikal.

Di mana-mana orang pasti takut mati, dia malah bunuh diri. Itukan sakit jiwa…” katanya lagi.

Ditanya antisipasi apa yang dilakukan pasca kejadian, Edy menyebut sudah ada Standar Operasional Prosedur (SOP) sampai tingkat RT-RW. Menghidupkan kembali sistem pengamanan lingkungan (siskamling), mewajibkan lapor kepada aparat setempat 1 x 24 jam bagi tamu-tamu yang mencurigakan.

“Apa yang dilakukan di setiap rumah harus diketahui, itulah gunanya Babinsa, gunanya Babinkamtibmas, gunanya RT-RT dan kepala desa. Berjenjang sampai ke gubernur,” pungkasnya.

Sekedar pemberitahuan, aksi bom bunuh diri dilakukan Rabbial Muslim Nasution alias RMN alias Dedek (24), warga Jalan Jangka Nomor 89B, Kelurahan Seiputih Barat, Kecamatan Medanpetisah, Kota Medan pada Rabu (13/11) lalu. Dia ditemukan tewas dengan bagian tubuh terpisah dan hancur di Mapolrestabes Medan. (Rha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *