Pengelasan Pipa HRSG Dituding Asal-asalan, PLN Meradang…

Pengelasan pipa HRSG PLTGU Sicanang dituding asal-asalan sehingga tidak sesuai WPS/handout

 

MEDANHEADLINES.COM, Medan – Salah satu mesin Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Sicanang yakni Heat Recovery steam Generator (HRSG) 2.2, pengerjaan pipa atau joint pipe-nya dituding asal dikerjakan sehingga tidak sesuai Welding Procedure Specification (WPS). Mengacu pada ASME Section IX, WPS adalah prosedur pengelasan yang terkualifikasi untuk pengelasan produksi (production weld), juga menjadi petunjuk bagi juru las (welder).

Berdasarkan laporan masyarakat yang diterima Ketua Gerakan Karya Rakyat Indonesia (GAKARI) Sumatera Utara Apri Budi, ditindaklanjuti dengan cek lapangan. Dirinya menemukan banyak kekurangan di sana-sini. Selain tidak sesuai WPS, juga tidak mengikuti standar Migas yang memerlukan teknologi tinggi dan pekerja yang berkompeten.

Menurutnya, salah satu yang paling penting dalam kegiatan migas adalah pengelasan, sebab mengandung resiko mulai dari kecelakaan kerja, kebocoran, ledakan, kebakaran, dan kegagalan-kegagalan operasi yang berakibat terhentinya proses operasi.

“Pemadaman bergilir masih sering terjadi akibat kebocoran pipa HRSG. Joint pipe dikerjakan oleh perusahaan yang tidak punya pengalaman. Kalau diteruskan akan merusak material dan sistem kehandalan pembangkit. Lebih mudah bocor sebelum masa perawatannya,” kata Budi, Senin (4/11).

Padahal, PLN Pembangkit Sektor Belawan menjadi jantung dari sistem kelistrikan di Sumut dan sebagian Aceh. Hampir 96 persen energi listrik dihasilkan dari sini. PLTGU Sicanang merupakan penggabungan antara Pusat Listrik Tenaga Gas (PLTG) dan Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU). Pembangkit siklus ganda ini menghasilkan listrik yang dikenal dengan istilah combined cycle power plant.

Joint pipe-nya jelas sekali terlihat tidak rapi dan melanggar prosedur. Kalau yang mengerjaan perusahaan yang sudah berkompeten di bidangnya, maka tidak asal-asalan begitu. Ini merugikan negara dan masyarakat,” sambung Budi.

Dirinya juga menduga para pekerja tidak memiliki sertifikat keahlian dan pengalaman di bidang boiler. Harusnya, pengerjaan dikerjakan oleh orang yang memiliki keahlian khusus supaya dampak keberadaan pembangkit dirasakan masyarakat. Budi juga merasa heran, kenapa proyek tidak diberikan kepada anak perusahaan PLN yaitu PJB Services yang sudah ahli dan biasa mengerjakannya.

“Kenapa harus swasta yang dikasi? Kenapa proses lelangnya tertutup?” tanya dia sambil menggeleng.

Dirinya berharap proyek dikaji ulang, diputuskan kontraknya, kemudian segera dihentikan pengerjaannya untuk mengurangi membengkaknya kerugian negara.

“Kita khawatir, hal ini yang menjadi salah satu penyebab seringnya pemadaman listrik dengan alasan perawatan instalasi atau pembangkit. Jangan sampai ada indikasi disengaja, ya…” tegasnya.

Manager Komunikasi PLN Unit Induk Wilayah (UIW) Sumut Rudi Artono yang dikonfirmasi lewat pesan singkat mengirimkan klarifikasi Humas PT PLN (Persero) Pembangkitan Sumatera Bagian Utara (KITSBU), Probo Sulistyo. Dalam klarifikasinya, Probo membantah pekerjaan HRSG 22 PLN pembangkit Sicanang tidak sesuai standar. Menurutnya, pekerjaan tersebut telah dievaluasi dan masih sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) karena ada standar level servise yang sudah ditetapkan untuk pelaksana pekerjaan.

Dijelaskan Probo, pemantauan yang dilakukan GAKARI Sumut secara parsial, subjektif dan tidak omprehensif pada saat pekerjaan pembongkaran material lama. Lalu dijadikan asumsi mengukur kualitas pekerjaan, penyambungan, joint pipe yang sebelum dinyatakan selesai harus melalui proses pengujian Non Destructive Test (NDT), dan x ray sehingga dapat dipastikan kualitasnya benar-benar baik sesuai standar.

“Anggapan bahwa pekerjaan dilaksanakan asal-asalan sangat subjektif dan terlalu prematur mengingat proses pekerjaan masih dalam tahap pembongkaran,” kata dia.

Perlu diketahui, masih penjelasan Probo, bahwa PLN Belawan menetapkan standar dan aturan yang sangat ketat untuk menilai sebuah pekerjaan dinyatakan selesai. Antara lain dibentuknya tim pemeriksa mutu yang melibatkan para pakar yang berpengalaman puluhan tahun dibidangnya dan konsultan independen saat dibutuhkan.

“Pekerjaan perbaikan HRSG 22 ini sangat penting dilaksanakan secepatnya untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat Sumut karena selama ini terjadi kerusakan yang cukup parah dengan kebocoran pada banyak pipanya,” ucapnya.

Soal proses lelang yang dituding tertutup, menurut Probo malah dilakukan terbuka melalui e-Procurement pada 2017 dengan proses yang ketat secara aturan. Baru bisa dilaksanakan eksekusi pekerjaannya pada 2019 bersamaan dengan izin jadwal pemeliharaan yang diatur dalam Jaringan Sistem Tenaga Listrik Sumatera atau System GRID Sumatera.

“Pelaksana pekerjaan sudah memenuhi kualifikasi dan pengalaman teknis yang dapat dibuktikan dengan sertifikat keahlian pada personilnya. Kami berterimakasih untuk masukan dan kritik yang membangun sebab sangat dibutuhkan bagi efisiensi operasional pembangkit listrik Belawan,” pungkas Probo.

Budi yang dimintai kembali komentarnya terkait pernyataan Probo mengatakan, kalau cara memotong pipa bertekanan tetap dipertahankan, itu salah. Bagaimana pun memotong pipa memakai api langsung pasti merubah struktur material logam yang sebenarnya. Mengapa itu dikatakan merugikan, karena hasil pemantauannya di lapangan.

“Setelah mereka memotong memakai api langsung, lantas menggerinda kotoran hasil potongan api lalu melakukan ‘penjoint-nan. Seharusnya secara prosudur mereka harus mengurangi hasil potongan pipa yang telah dipotong pakai api itu memakai gerinda cuting atau gergaji elektrik. Peralatan ini tidak akan mengurang struktur kandungan logam,” kata Budi.

Lebih baik lagi kalau hasil potongan pipa dengan material yang masih utuh diuji ke laboratorium untuk mengetahui apakah logam sudah berubah struktur atau tidak.

“Kalau berubah strukturnya dari kualitas mutu logam awal, maka tidak layak untuk digunakan,” tegasnya. (Rha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *