Perusahaannya Terancam Ditutup, ini kata GM PT Toba Surimi Nusantara

MEDANHEADLINES.COM, Tapanuli Tengah – Dinas Perizinan Tapanuli Tengah tengah menyoroti sejumlah perusahaan perikanan yang berada di pondok batu Kecamatan Sarudik, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara

Salah satunya adalah PT Toba Surimi Nusantara yang disebut belum memiliki izin dokumen lingkungan hidup dan penanaman modal.

General Manager Operasional PT Tobasurimi Nusantara, Tarkun mengungkapkan pihaknya akan kooperatif soal perizinan yang disyaratkan pemerintah setempat.

Ia juga mengatakan, saat ini sejumlah izin yang disyaratkan ke PT Toba Surimi sedang proses pengurusan.

Soal izin lingkungan, Tarkun mengaku sudah diurus secara online di kantor perizinan Terpadu di Medan.

“Memang menurut UKL dan UPL dulunya pabrik tepung ikan, tapi kan sekarang ada Fish Meal dan Tuna Loin, yang lama ada, inilah mau direvisi. Nah izin itupun sedang kami urus di Perizinan Tapteng,” kata Tarkun saat ditemui, Jumat (4/10).

Terkait izin penanaman modal, kata Tarkun juga mengalami hal serupa (sedang proses).

Saat ini, pihaknya juga sedang melengkapi berkas-berkas yang diminta.

“Izin Modal kan di update per semester dan tahun ini sedang dikerjakan, kita akan kooperatif,” katanya.

Terkait aroma bau yang berasal dari produksi pabrik, Tarkun tak membantah. Kendati ia menyebut perusahaannya bukan satu-satunya penghasil bau itu.

“Karena semua limbahnya untuk tepung ikan,” kata dia.

Tarkun menyebut soal limbah asap, proses filterisasi selalu dilakukan sebelum dibuang ke udara.

“Ada alat untuk memfilter asap yang mengandung partikel berat jangan terbang, jadi yang terbang itu asap saja, partikel berat sudah jatuh, tapi alat ini tak bisa menghilangkan seratus persen bau,” kata Tarkun.

“Nah kalau soal limbah cair, kita ini kan di kawasan Pelabuhan Perikanan Nusantara Sibolga, jadi kan limbah cair kami dikumpulkan disana dan kami bayarnya ke PPNS,” kata Tarku lagi.

Tarkun mengatakan sedikitnya 300 an orang pekerja harian terpaksa menganggur akibat berhentinya operasional pabrik. Selain faktor sorotan tentang izin itu, juga karena pasokan ikan yang semakin minim.

“Sudah hampir sebulan tak kerja, banyak faktor termasuk terhalangnya pasokan ikan dari Aceh,” kata dia.

Sementara sebanyak 60 an karyawan tetap juga akhirnya tak bekerja karena tak berjalannya produksi.

“Mungkin saja ada yang sudah pindah ke perusahaan lain,” ungkap Tarkun.

Tarkun menyebut produksi Tuna Loin di perusahaannya untuk kebutuhan ekspor ke Eropa. Sebanyak 15 ton per hari bahan baku, diproduksi setiap hari di Toba Surimi.

“Daging ikannya mentah, dikirim ke Medan dan dilakukan pengalengan lalu di ekspor ke Eropa,”

Sementara itu, untuk produksi Fishmeal atau tepung ikan, Toba Surimi memproduksi untuk kebutuhan lokal. Sebanyak 5 ton bahan baku diproduksi setiap hari.

“Jadi kita juga menghasilkan devisa buat negara, dan kita taat bayar pajak,” kata dia.

Tarkun mengatakan pihaknya berharap persoalan ini dapat segera selesai dan perusahaannya dapat beroperasi kembali.

“Kalau bisalah secepatnya bisa diselesaikan, agar kami bisa kerja. Banyak pekerja dari Poriaha, Tukka, tempat-tempat jauh, kasihan,” katanya.

Tarkun mengaku sejauh ini mereka ikut berkontribusi dalam berbagai agenda sosial kemasyarakatan di lingkungan perusahaan mereka.

“Sepanjang saya disini setahun, memang belum ada. Tapi sumbangan-sumbangan banyak, ada natal, mesjid, kompensasi air,” kata dia.

Sementara soal program CSR, Tarkun memang mengaku sepanjang ia menjabat sebagai General Manager, belum pernah dilakukan.

Kendati ia menyebut pihaknya akan berkomitmen menjalankan aturan terkait CSR sebagaimana yang disyaratkan.

“Kedepan akan kita lakukan, karena itu kita berharap persoalan ini bisa diselesaikan secepatnya dan karyawan kami bisa bekerja kembali,” harapnya.

Sebelumnya Dinas Perizinan Tapteng mengungkap permasalahan perizinan di dua perusahaan di Tapteng, salah satunya PT Toba Surimi.

Kadis Perizinan Erwin Marpaung menegaskan meminta perusahaan itu tak beroperasi.

Sementara sejumlah petugas polisi dari Polda Sumut telah membawa dua barang bukti, yakni produk air dan hasil jadi pengolahan.(hen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *