BI: Komandan Masih Punya Uang Rupiah, Kan…

Kepala Kantor Perwakilan BI Sumut Wiwiek Sisto Widayat bersama Danlantamal 1 Belawan Laksamana Pertama Abdul Rasyid saat pelepasan KRI Lemadang 632, Kamis (29/9) petang di Lantamal 1 – Belawan. MEDANHEADLINES.Com/Rha

MEDANHEADLINES.COM, Medan – Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara Wiwiek Sisto Widayat memulai sambutannya dengan pantun. “Bang Kadir membawa kapal bersandar, untuk memikat si baju merah. Kami hadir membawa uang layak edar, untuk memudahkan masyarakat menggunakan rupiah.”

Meski tak bisa menyembunyikan logat Jawanya, undangan yang hadir di acara pelepasan kas keliling ke wilayah Terluar, Terdepan dan Terpencil (3T) di Pantai Timur Pulau Sumatera, menghadiahinya tepuk tangan riuh. Bahkan Komandan Lantamal 1 Belawan Laksamana Pertama Abdul Rasyid dan Direktur Bank Indonesia Perwakilan Sumut Andi S Wiana menyunggingkan senyum.

Usai melontar kata pembuka, raut Wiwiek jadi serius. Katanya, akhir Agustus 2019 menjadi moment perdana “kick off” tim kas keliling menggunakan Kapal Republik Indonesia (KRI) Lemadang 632 milik Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Lantamal) 1 – Belawan. Sesuai Undang-Undang Nomor 23 tahun 1999 dan perubahannya Undang-Undang Nomor 9 tahun 2007 menyatakan Bank Indonesia memiliki kewenangan untuk mengedarkan dan mengeluarkan uang rupiah.

“Uang rupiah menjadi satu-satunya uang yang beredar di NKRI, yang harus dijadikan sebagai alat pemersatu bangsa dan sebagai alat pembayaran nasional. Undang-Undang Nomor 7 tahun 2011 yang menegaskannya,” kata Wiwiek, Kamis (29/8) petang di Lantamal 1 – Belawan.

Bank Indonesia terus berusaha agar uang rupiah tersedia sesuai denominasinya, kebutuhan, waktu dan kelayakan edarnya. Tidak hanya cukup jumlahnya, kalau kualitas uang lusuh dan jelek, ini tugas Bank Indonesia untuk menggantinya menjadi layak edar. Begitu juga kalau pecahannya tidak sesuai, Bank Indonesia harus memenuhi denominasinya sehingga masyarakat di seluruh Indonesia memiliki pecahan yang sama.

“Tidak kumal, tidak lusuh… Kalau di Sumatera Utara, itu tugasnya Pak Andi dan Pak Budi. Jadi kalau di masyarakat tidak ada rupiah, itu yang salah Bank Indonesia…” ujarnya.

Oleh karenanya, sejak 2015, Bank Indonesia bekerjasama dengan TNI AL berupaya memenuhi kebutuhan uang masyarakat yang tinggal menyebar di seluruh pelosok Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Komandan punya kapal, kami punya uang. Kalau ada uang, ada kapal, kita bisa jalan sama-sama… Tidak ada kapal, ada uang, ya uangnya gak kesebar. Tidak ada kapal, tidak ada uang, kapalnya tidak bisa jalan karena tidak ada bensin, tidak ada solarnya…” tuturnya disambut tawa hadirin.

Di Sumut, jumlah uang yang keluar (outflow) terus bertambah. Pada 2016 sebesar Rp15,4 triliun, 2017 sebesar Rp18,7 triliun, 2018 sebesar Rp20 triliun, dan di 2019 sampai Juli kemarin sudah mencapai Rp12,7 triliun. Setiap tahun pertambahannya sekitar 15 sampai 20 persen. Ini jumlah yang sangat besar yang keluar dari kantor perwakilan. Bertambahnya uang di masyarakat disebabkan adanya permintaan dari perbankan, penukaran, penarikan dari kas titipan, dan kas keliling.

Kas keliling adalah kegiatan penukaran uang oleh Bank Indonesia kepada masyarakat, bank dan pihak lain dengan menggunakan sarana angkutan atau di luar kantor. Di 2019, Kantor Perwakilan BI Provinsi Sumut sudah melaksanakan kegiatan kas keliling sebanyak 41 kali dengan jumlah nominal yang ditukarkan oleh masyarakat sebanyak Rp23,64 miliar.

Meski kegiatan nontunai dan pembayaran dengan menggunakan noncash society terus dikembangkan, namun uang kartel yang bentuknya kertas dan logam jumlahnya juga terus naik. Soal peredaran uang inilah yang masih menjadi masalah dan kesulitan bagi Bank Indonesia walau terus melakukan inovasi.

“Komandan sudah punya kartu kredit, debet dan ATM, tapi tetap masih punya uang rupiah, kan…?!” tanya Wiwiek yang dijawab anggukan oleh Rasyid.

Kas keliling 3T akan mengunjungi enam pulau di tiga provinsi, yaitu Pulau Weh, Nasi, Berhala, Rupat, Tebingtinggi, dan Bengkalis. Tim yang turun berasal dari kantor perwakilan BI Sumut, Aceh dan Riau, dan disupervisi oleh Departemen Pengedaran Uang BI pusat. Uang yang akan didistribusikan untuk enam pulau tersebut sebesar Rp3,4 miliar terdiri dari semua pecahan.

Kapal akan berlayar selama tujuh hari dipimpin Mayor Pungki. Dalam perjalanannya tim akan mampir ke beberapa sekolah untuk memberikan alat musik dan perlengkapan olahraga sebagai bagian dari Program Sosial Bank Indonesia (PSBI). Wiwiek mengajak Rasyid untuk melakukan bakti sosial dan sosialisasi ke masyarakat 3T lainnya.

“Sinergi terus kita galang antara angkatan laut dan Bank Indonesia untuk menjaga rupiah sebagai simbol kedaulatan NKRI. Kalau perlu tidak sekali, boleh dua tiga kali, kami siap melakukannya. Mungkin di luar enam pulau ini, terutama yang banyak penduduknya,” ajak dia.

Tak lupa Wiwiek menghimbau agar menjaga uang rupiah dengan tidak mencorat-coretnya, menstapler, membasahi, melipat, dan meremas. Pihaknya menyebut hal ini dengan ‘5 Jangan’. Kemudian memastikan keaslian uang dengan 3D yaitu dilihat, diraba dan diterawang. Masyarakat yang baru melakukan penukaran diminta menjaga stabilitas harga dengan berbelanja sesuai kebutuhan, bijak, serta menjadi konsumen yang cerdas dan teliti membandingkan harga di pasar.

Rasyid yang dimintai komentarnya hanya menjawab, “Kerjasama ini adalah tugas bersama dan wujud kehadiran dan peduli pemerintah di kawasan 3T.” (Rha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *