Hasil Otopsi Mayat Terikat Di Perairan Pulau Putri : Korban Mengalami Tindakan Kekerasan

Jenazah korban saat ditemukan

MEDANHEADLINES.COM, Tapanuli Tengah – Hasil otopsi terhadap mayat yang mengapung di perairan Pulau Putri akhirnya dikeluarkan oleh pihak Rumah Sakit Umum Rajamin Saragih Pematang Siantar, Sumatera Utara, Kamis (30/5).

Hasil visum yang diterima oleh pihak Kepolisian Polres Tapteng ini pun dijelaskan oleh Kasat Reskrim, Dodi Nainggolan saat dikonfirmasi.

Dodi menjelaskan, dari hasil otopsi yang diterima pihaknya mengungkap bahwa mayat yang mengapung di perairan Pulau Putri atas nama Abdul Simanungkalit mengalami tindakan kekerasan.

“Hasil otopsi menunjukkan bahwa kepala korban mengalami pendarahan,” kata Dodi melalui whatsapp.

Dikatakan Dodi, sebelum mayat ditenggelamkan ke dalam laut, korban diduga mendapat kekerasan dari abang kandungnya sendiri yakni SS.

“Kita menduga, sebelum dibuang ke laut, kepala korban terlebih dulu dipukul oleh SS,” jelas Dodi.

Diberitakan sebelumnya, Abdul Simanungkalit ditemukan tewas terapung di perairan Pulau Putri, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Saat ditemukan, tangan dan kaki korban terlihat terikat tali rafiah serta mulut dilakban. Melihat kondisi itu, Abdul diduga korban pembunuhan.

Setelah melakukan penyelidikan dan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi, Satreskrim Polres Tapteng akhirnya berhasil mengungkap misteri kematian Abdul Simanungkalit.

Menurut keterangan saksi berinisial SP, kejadian tragis yang menimpa Abdul terjadi pada hari Jumat (24/5) malam sekira pukul 21.00 WIB di Lingkungan I Kelurahan Lubuk Tukko, Kecamatan Pandan, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Saksi yang saat itu berada di salah satu warung melihat satu unit mobil Toyota Rush berwarna putih menuju ke arah Muara, tempat bersandarnya perahu nelayan. Dari sana, saksi melihat pelaku SS dan NS turun dari kapal boat.

“Sekitar 30 menit, saksi melihat SS dan NS turun dari kapal boat lalu naik ke dalam mobil Toyota Rush dan pergi meninggalkan Muara,” kata Dodi.

Sementara itu, saksi lainnya atas nama MP alias TP juga membenarkan kejadian pada Jumat (24/5) malam itu. Dirinya juga mengaku melihat mobil Toyota Rush warna putih datang ke Muara dan parkir di lokasi perahu bersandar.

Dikatakan, malam itu saksi juga melihat 2 orang sedang mengambil sesuatu dari pintu belakang mobil Toyota Rush.

“Dari jarak 6 meter, saksi melihat pelaku SS alias BS berada di atas boat. Saksi melihat keduanya mendayung boat sampai ke tengah, dan setelah di tengah laut, mesin boat dihidupkan,” jelas Dodi.

Melihat keadaan itu, saksi pun kemudian memberitahukan ke warga yang berada di dalam warung.

“Sekitar 30 menit kemudian, SS alias BS bersama NS alias TR kembali dari laut dan naik ke mobil Toyota Rush warna putih meninggalkan lokasi,” ungkap Dodi.

Sementara itu, pelaku insial SS alias BS mengaku dihadapan penyidik bahwa pembunuhan yang Ia lakukan terhadap adiknya (Abdul) terjadi pada Jumat (24/5) malam sekira pukul 20.00 WIB.

Pembunuhan itu pun diakui pelaku dilakukan di dalam rumah ibu kandungnya di Jalan Batu Mandi, Lingkungan I Kelurahan Lubuk Tukko Baru, Kecamatan Pandan, Tapanuli Tengah.

Pembunuhan tersebut dilakukan dengan cara mengikat tangan korban ke belakang serta mengikat kedua kaki korban menggunakan tali rafiah. Lalu menutup mulut korban menggunakan daster warna biru dan kembali melakban.

“Pelaku SS alias BS sudah kita amankan, berikut dengan barang bukti berupa satu unit boat dan satu unit mobil Toyota Rush warna putih,” ungkap Dodi.(hen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *